Category: Gauli

  • Udang Pete Mentega Saos Tiram

    Bahan:

    250 gr  udang

    10 butir pete

    2 kuntum brokoli

    1 siung bawang putih

    3 cm jahe

    1 batang sereh

    1 lembar daun salam

    2 lembar daun jeruk

    3 buah cabe rawit (atau sesuai selera)

    garam

    gula pasir

    merica

    1 sendok makan margarin

    1 sendok teh saos tiram

    Cara membuat:

    Bersihkan udang, buang kepalanya dan bubuhkan garam dan merica secukupnya. Diamkan 10 menit lalu goreng hingga kering dan sisihkan.

    Tumis bawang putih dengan mentega sampai harum, masukkan sereh, daun salam, daun jeruk, pete, jahe, saos tiram dan tumis sampai pete agak layu. masukan udang dan brokoli, bubuhkan garam dan gula secukupny. siap dihidangkan

  • MENGENAL KOLOSTRUM

    Sumber: pusatnutrisi@yahoo.com

    Kolostrum merupakan substansi pra-susu yang dihasilkan kelenjar susu dari mamalia yang melahirkan. Mungkin anda pun sering memperhatikan, ketika ibu melahirkan anak dokter menyarankan untuk menyusui bayinya karena dalam ASI pertama tersebut banyak mengandung kolostrum. Kolostrum dihasilkan 2-3 hari setelah melahirkan. Dr. John F. Ballard menyatakan bahwa kolostrum sapi 100 kali lebih potensial dibanding kolostrum manusia karena lebih banyak mengandung immune factors. Kolostrum sapi mengandung 86% imunoglobullin G (IgG), jenis imunoglobullin yang sangat penting dalam tubuh. Sedangkan kolostrum manusia hanya mengandung sekitar 2%.

    (more…)

  • Mengikuti Canon Photomarathon indonesia 2009

    Hari ini saya mengikuti acara Canon Photomarathon Indonesia 2009 yang diadakan di Taman Fatahillah.

    Sekitar tepat pukul 06.30 saya telah hadir dilokasi untuk mulai melakukan registrasi ulang ditempat.

    Mengantri dalam antrian yang lumayan panjang, dipilihlah salah satu tenda dengan tulisan “SLR” diatasnya lalu dengan sabar menunggu giliran. Lalu saya melihat tenda ke-2 dari kiri, mulai orang mengantri (sebelumnya kosong), sehingga saya yang sudah ada ditengah memutuskan untuk berpindah ke tenda tersebut yang juga diatasnya tertulis “SLR”. Jadi ini adalah part 2 saya mengantri untuk daftar ulang.

    Setelah tiba giliran saya, ternyata tenda tersebut hanya dikhususkan bagi mereka yang pendaftarannya bermasalah padahal, tenda tersebut tidak menunjukan tanda apapun selain tanda yang sama persis dengan tenda2x lainnya. Alhasil saya harus melakukan mengantri part 3 yang lebih panjang ketika saat saya mengantri pertama kali.

    Setelah tiba giliran saya, ternyata nama saya tidak ada dalam daftar. Beruntung semua lengkap. Tanda terima ada, foto kopi ktp ada, bukti transfer ada, email bukti pendaftaran ada, email bukti terima transfer ada. Tapi saya diminta untuk pindah dan kembali MENGANTRI di tenda “bagi yang pendaftarannya bermasalah”, yaitu tenda ke-2 dari kiri, yang sudah menjadi panjang. Dan terjadilah ngantri part 4.

    Akhirnya tiba giliran saya di layani di antri part 4 ini. Ternyata nama saya tidak ditemukan dan saya diminta untuk kembali MENGANTRI LAGI di tenda (barangkali) bagi “YANG PALING BERMASALAH” yaitu tenda paling kiri. Dan terjadilah NGANTRI part 5.

    Setelah tiba bagian saya dilayani, karena sang penjaga melihat barang bukti lengkap semua, dia meminta saya untuk MENGANTRI LAGI di barisan pendaftaran normal. Tapi kali ini saya jelaskan bahwa saya dari sana dan ini sudah ke-5 kalinya saya antri. Lalu datanglah seseorang (salah satu manager), dia mengecek sendiri dan mengajak saya dan beberapa orang yang juga dalam situasi “sangat bermasalah” ini untuk berpindah ke antrian “kaum normal”. Walaupun langsung “menyodok” melalui pinggir mereka yang sedang mengantri, tapi kaum “sangat bermasalah” ini juga tidak sedikit. Sehingga tercipta antrian kecil disitu dan terjadilah pengalaman mengantri part 6.

    Total waktu saya mengalami di jemur dibawah terik matahari sambil membawa semua perangkat saya adalah sekitar 1 jam 30 menit. Perasaan lelah dikaki sudah mulai terasa. Karena selain capek antri, panasnya emang ngak kira-kira.

    Kasus registrasi yang ngawur dan melelahkan ini jelas sangat menunjukan ketidaksiapan panitia menangani pendaftaran.

    Ketika nama saya tidak ditemukan, salah satu dari mereka, berpindah-pindah laptop untuk mencari dalam database.

    Kesan saya, tidak ada singkronisasi data disitu. Kalau begitu kenapa harus pakai cara rumit. Hingga sekarang, saya tidak pernah tau apakah nama saya terdaftar dalam database tersebut atau tidak. Yang pasti saya melihat sendiri nomor dan nama peserta saya dicatat di balik daftar peserta hasil print out.

    Lomba ini terdiri dari 2 sesi.

    Sesi pertama dimulai dan semua dipersilahkan memotret APAPUN di dalam lingkungan Fatahillah hingga jam 9.30. Pada pukul 9.20 – 9.30, panitia akan menampilkan jam di layar yang terdapat di panggung, dan semua peserta diwajibkan untuk memotret jam tersebut sebagai tanda selesainya sesi pertama, bila tidak memotretnya maka akan di diskualifikasi dari sesi pertama.

    Jepret sana jepret sini hingga waktu habis dan mencoba memotret layar bertuliskan jam yang dengan mata telanjang pun SANGAT SUSAH UNTUK DILIHAT. Mau motret tulisan jam-nya ???? Selamat berjuang memotret dalam waktu 10 menit tersebut melawan 1000 tukan jepret yang juga mencoba memotretnya.

    Sekitar pukul 9.25, mendadak diumumkan bahwa sesi pertama ini bertemakan “TUA”/”JADUL”. Hebat !!!!! Tema baru diberikan di akhir sesi. Tapi diakhir lomba diumumkan kalau tema tersebut dibatalkan, sehingga menjadi foto bebas.

    Sesi ke-2, bertemakan “Ekspresi” dan diharuskan mengambil di luar wilayah Museum Fatahillah. Perasaan lelah sudah lebih lekat dan mood sudah mulai terbang. Walau mencoba mengambil beberapa jepretan tapi yaa sudah sekenanya saja. Tapi mendadak timbul pertanyaan. Bagaimana dengan model releasenya ? Bagaimana kalau foto itu menang dan sang pemilik wajah tidak terima ? Tanggung jawab siapakah itu ? Fotografernya ? atau panitia ?

    Beberapa orang saya dengar ternyata sedang mendiskusikan hal yang sama.

    Sesi ke-2 berakhir pukul 11. Dan kembali diharusnya untuk memotret jam yang nampak samar2x tersebut diantara ribuan orang.

    Capek, foto sesi ke-2 saya pilih asal dan saya serahkan dalam CF ke panitia.

    Acara motret dilanjut dengan memotret model yang disediakan. Entah berapa banyak model yang ada. Soalnya saya sudah betul-betul lelah akibat panas, ditambah kaos wajib peserta yang tahan keringat sehingga panasnya semakin terasa, dan tangan sudah mulai gemetar. Akhirnya saya putuskan untuk mengistirahatkan diri saja dulu.

    Mendekati akhir acara di sore hari, ada presentasi foto. Sayangnya layar maya di panggung tetap sulit di lihat dengan mata telanjang dan hanya sedikit jelas dari sudut tertentu saja.

    Sore hari pengumuman door price.

    Dengan sebuah program, terlihat nomor-nomor diacak dilayar yang kini sudah mulai nampak jelas. Salah satu nomor peserta yang keluar (disertai nama dibawahnya), adalah rekan dari kawan saya yang saat itu tidak bisa hadir diacara karena ada keperluan mendadak sehingga tidak mengikuti registrasi ulang sama sekali. Mendengar hal tersebut, saya berkesimpulan bahwa nomor yang ditampilkan diambil dari pendaftaran online. Lalu saya teringat kalau pada waktu pendaftaran ulang, nama dan nomor peserta saya tidak tertera disana. Hemmm… apakah nama saya ada disana ? Apakah diinput ulang kekurangan datanya ? Rasanya hanya mereka yang tahu. Tapi saya biasanya ngak pernah menang kalo undian gini hehe. Tapi boleh dong ngarep dot kom dapet hadiah printer.

    Akhir acara yaitu pengumuman pemenang lomba.

    Setelah menanti cukup lama demi melihat pesan sponsor yang puanjang sekali dan luama sekali, akhirnya pemenang diumumkan, setelah sebelumnya disebutkan para finalis dari setiap sesi-nya. Alhamdulillah, nama saya disebut sebagai salah satu finalis.

    Salah satu pemenang, yaitu juara 2, tidak hadir, sehingga di diskualifikasi. Duh… sayang sekali. Padahal itu adalah sebuah prestasi, tapi harus di gugurkan sehingga sang juara 3 diangkat menjadi juara 2. Pedih banget pasti rasanya sang juara 2 yang sebenarnya. Padahal alamat jelas ada di panitia, karena semua mengumpulkan foto kopi ktp.

    Akhirnya saya tetap menjadi finalis karena tidak menang menjadi juara hehehe.

    Ada beberapa hal tentang foto pemenang yang ditampilkan, cuma saya pengen liat lagi dengan jelas sebelum menulis lebih banyak tentang foto hasil karya pemenang tersebut. Semoga ada yang mempublikasikan foto2x tersebut.

    Yang pasti kesan saya adalah, para panitia masih kurang persiapan sehingga banyak hal yang kurang diperhitungkan yang sedikit banyak merugikan sebagian peserta. Semoga yang berikutnya akan lebih baik lagi.

  • Bila anda tidak ingin lagi menerima email, silahkan unsub sendiri ?

    Belakangan ini saya banyak menerima email-email yang isinya untuk saya tidak berguna.

    Isinya berbagai macam. Dari tawaran produk, iklan, seminar, berita artis dan lain sebagainya. Walaupun pada akhirnya didaftarkan ke dalam daftar SPAM, tapi tetap saja menerima email seperti ini sangat menjengkelkan.

    Kenapa saya yang tidak ingin menerima email seperti ini harus bersusah susah untuk melakukan unsubscribe.

    Akan lain masalahnya kalau saya dengan kesadaran sendiri melakukan subscribe ke milis atau newsletter tertentu. Lah ini kapan juga saya pernah merequest untuk menerima berita sampah sejenis ini yang hanya masuk ke tong sampah SPAM tanpa saya baca sama sekali ? Bukan hanya menuh-menuhin inbox dan ngelama2xin transfer pada saat ngambil, tapi pasti akan menyebalkan untuk menerima sampah terus menerus bukan ?

    Semestinya mereka ini bertidak “SOPAN” dengan menawarkan untuk subscribing, bukannya subcribe paksa lalu disuruh unsubscribe sendiri kalau tidak mau.

    Gebleknya yang ngirimin kayak gini justru dari perusahaan-perusahaan yang orang marketingnya kurang belajar sopan santun atau etika ber-internet.

  • Mencoba Zyrex Ellipse EGT270

    Mencoba laptop Zyrex Ellipse EGT270 memberikan pengalaman yang tak terlupakan. Mengapa ? Karena sangat menyebalkan.

    Wifi

    Sangat LEMAH !!! Sementara laptop 2x lain dengan gagah mendapatkan sinyal full untuk mengakses akses point berjarak sekitar 5 meter dan line of sign,  dia hanya menari di 1-2 bar. Memasang wifi usb adalah cara terbaik untuk mendapatkan akses yang lebih stabil.

    USB Port

    Lemah. Saat memasang 1 buah mouse, semua normal. Ditambahkan 1 buah harddisk semua normal. Begitu ditambahkan 1 buah flashdisk, harddisk removable dan flashdisk tidak terbaca. Keliatannya powernya tidak mencukupi untuk menhidupi semua harddisk. Sementara versi lamanya bisa dengan tenang melayani 3 buah removable disk.

    Akhir kata.

    Capeee deee make laptop ini. Musti pasang external usb hub dengan power agar mendapatkan high power usb agar bisa menggunakan 2 media. Capek dengan wifi yang putus nyambung. Capek dengan panas yang menggelora ditangan.

    Saya pribadi tidak ingin lagi menggunakannya.

  • IBU PRITA MULYASARI, PENULIS SURAT KELUHAN MELALUI INTERNET YANG DITAHAN!

    Ibu prita ditahan karena menulis surat keluhan melalui internet. Kasus ini kini sedang ramai dibicarakan. Penahanan karena mengeluhkan di Indonesia ini ngak cuma satu ini. Hanya saja yang lainnya “terlupakan”. Dan seringnya memang begitu. Ramai, ramai, ramai, lalu hilang begitu saja dari peredaran. Tidak ada lagi kisah-kisahnya.

    Tidak hanya masalah ini, tapi misalnya tentang bencana. Kasus lapindo ? samar samar terdengar. Nasib para korban Situ Gintung ? Tak lagi ada kisahnya. Kemana perginya media yang tadinya ramai mengerumuni berita itu ?

    Ngak kebayang kalau liat keluhan pelanggan di surat kabar yang seringkali banyak sekali berkaitan dengan layanan sebuah perusahaan atau rumah sakit dan lainnya. Berapa banyak dari mereka (para perusahaan) yang akan berpikir untuk melakukan tindakan serupa ?

    Ngak kebayang juga apakah akan menjadi ajak bertindak seenak perut bagi para penyelenggara layanan kepada para pelanggannya karena anda tidak bisa mengeluh.

    Saya sendiri punya pengalaman mengeluhkan layanan ke penyedia layanan publik. Dan beberapa kali kejadian tidak ada tanggapan sama sekali. Hanya kisah “akan kami tindak lanjuti” yang entah sampai kapan akan dilakukan dan jelas jangan berharap akan ada kabar apapun dari mereka. Hanya dengan berteriak sekeras-kerasnya melalui media entah blog entah milis, baru mendapatkan perhatian.  Atau bisa juga anda mendapat perhatian dengan membawa pengacara yang jelas untuk itu anda perlu merogoh saku anda entah seberapa dalam.

    Tapi dengan adanya kasus-kasus sejenis ini, apa yang akan terjadi ?

    Seandainya semua pasal yang digunakan menjerat Ibu Prita ini sukses, kayaknya akan menjadi image buruk, bahwa nantinya “barang siapa mengeluhkan sesuatu melalui media publik bisa langsung masuk bui”.

    Yang jelas, para penyelenggara layanan bisa dipastikan punya cukup dana untuk mengedepankan pengacara. Sementara tak semua pengguna layanan mampu melakukan hal itu.

  • Resensi Buku: Paman Gober Edisi 114 Tahun 16

    Udah lama pengen  nulis ini tapi kelupaan mulu.

    Saya adalah penggemar buku dan salah satunya termasuk penggemar donald bebek dan keluarganya. Setiap bulan selalu membeli buku2x baru. Bahkan hari ini sangat kebetulan sekali, ditoko buku yang menjual buku2x bekas saya memborong buku2x “Paman Gober” edisi tahun 2 dan tahun 1. hehehe.

    Tapi ketika membaca “Paman Gober” Edisi 114 Tahun 16,  dihalaman 77, cerita berjudul “Super Donal: Harta Dolce Paprika“, rasanya agak lain. Cerita ini mengisahkan bagaimana sang Super Donald, melakukan aksi balas dendam karena ketidak sukaannya pada Paman Gober dan kekesalannya karena Desi akan pergi ke pesta dengan Untung Bebek dengan melakukan FITNAH.

    Cerita sejenis ini rasanya koq lain dengan kebiasaan-kebiasaan kisah cerita dari Walt Disney’s ini ?

    Tidakkah mereka sadar kisah seperti ini seharusnya tidak layak dan tidak sepantasnya di terbitkan karena akan menjadi pelajaran buruk bagi anak2x yang membacanya.

    Seharusnya editor lebih meneliti kembali kualitas kisah2x yang akan diterbitkan dong.

  • Permen sebagai alat pembayaran eh kembalian

    Saat ini kalau kita berbelanja dimana pihak penjual harus memberikan kembalian dalam nilai ratusan rupiah seringkali bukannya dikasih uang tapi malah dikasih permen.

    Tapi coba anda melakukan pembayaran dengan permen ? Maukah mereka ?

    Ini terjadi di mini market yang berada di salah satu perusahaan besar (sekali) di Indonesia, dimana waktu saya membeli sesuatu dikasih kembalian permen sebagai pengganti uang Rp. 300,-. Tadinya saya cuek aja dan menerimanya. Tapi ketika sampai dipintu keluar, saya teringat kalau ada yang lain yang ingin saya beli.

    Karena nilainya mengandung 200 rupiah, saya kembalikan 2 permen. Tapi ternyata ditolak. Dia tidak menerima pembayaran berupa permen. Padahal permen itu dari dia juga. Karena itu saya juga ngotot untuk mendapat kembalian dalam wujud uang dan bukan permen.

    Rasanya perlakuan permen menjadi alat pembayaran kembalian ini makin semena-mena.  Konsumen tidak diperbolehkan menolak penjualan paksa permen ini yang setiap butirnya dihargai Rp. 100,-.

    Kalau memang permen ini adalah alat pembayaran, mustinya segera diresmikan dong “Permen sebagai mata uang RI“

  • Terjebak Dalam Kebohongan Finansial Karena Rasa Sayang

    Dalam sebuah keluarga, permasalahan ini seringkali muncul. Apa yang akan Anda lakukan jika sanak saudara atau sahabat yang memiliki kebiasaan untuk meminta bantuan keuangan atau meminjam uang dan tidak tahu apakah akan kembali atau tidak kepada Anda? Ternyata Anda tidak sendirian.

    (more…)

  • Trisemester Kedua Kehamilanku

    Kini aku sudah meninggalkan trisemester kedua dan memasuki trisemester ketiga. Pengalaman trisemester kedua sendiri tidak begitu tercatat dan terasa. Maklum, ditrisemester kedua ini banyak sekali deadline yang harus dikejar dan dikerjakan. Banyak kesibukan menyenangkan yang membuatku tidak mencatat secara detil hari perhari.
    Hal paling menyenangkan dan berkesan saat memotret (3D) babyku tersayang. Sangat luar biasa mengetahui seorang anak yang begitu tampan tumbuh di dalam perutku.

    (more…)