Category: Gauli

  • Make up dan Usia

    Diusia yang ke 36 ini, aku kadang merasa sedikit boleh berbangga. Maklum, saat jalan jalan di mal atau hang out di kampus, belum banyak yang memanggilku ibu. Memang sih, itu terjadi sebelum kehamilanku, enam bulan yang lalu. Selain itu, aku juga nggak merasa kalau usiaku terlalu tua untuk bergaul dengan teman-teman yang berusia 25an. Bahkan kalau melihat gadis-gadis sekarang yang ke mal dengan tank top, sendal tinggi, dandanan lengkap seperti lipstik, maskara dan sebagainya, aku merasa menjadi lebih muda. Itu mengapa urusan anti aging yang katanya begitu penting bagi para wanita, tidak terlalu menarik perhatianku.

    (more…)

  • HSBC Menyamar Sebagai Tiki ????

    Berkali-kali telp rumah menerima telp dari seseorang yang mengaku dari TIKI yang akan mengantarkan barang yang katanya alamatnya tidak lengkap karena hanya menyebutkan nama komplek tempat tinggal saya saja tanpa nomor dan alamat jelas.
    Akan tetapi dia memiliki nama dan nomor telp.

    Pada tanggal 13 Mei 2008, Penelepon tersebut menggunakan nomor 021-52964105 menelepon ke nomor HP saya.
    Pada waktu itu, sambil berbicara di telp yang sengaja saya lama-lamakan, saya melakukan pencarian via om google terhadap nama perusahaan yang dikatakan mengirimkan paket tersebut dan nomor telepon yang tertera di hp saya.

    Hasilnya adalah tadaaaaaaaaaaaaaaaaa………….

    http://www.yellowpages.co.id/business_profile.aspx?id=A120725H38

    Nomor tersebut adalah nomor milik HSBC

    Jadi pertanyaan dia yang menanyakan alamat lengkap dan lain sebagainya ku jawab aja asal-asalan.

    Jadi hati-hati bila menerima telepon yang menanyakan macam-macam apalagi sampai menanyakan data pribadi.

  • UU ITE: Antara Homosuperior dan Homosapien

    Indonesia sekarang ini telah resmi miliki UU ITE. Tapi apakah efektif ?

    Dunia ini dihuni oleh sekelompok mahluk homosuperior yang menghuni dunia maya, dan sisanya adalah kaum homo sapien yang menghuni dunia nyata. Diantara keduanya ada masyarakat kaum ampibi yang hidup di kedua dunia.

    Kaum homo sapien yang menghuni dunia nyata, kini berniat menerapkan aturan dunia mereka pada dunia kaum homo superior yang hidup di dunia maya. Tentunya hal ini hanya dimungkinkan bila mereka memiliki pasukan ampibi yang cukup untuk mengawasi segalanya. Tanpa mengenal dunia maya, jelas akan sulit menerapkan apapun dari dunia nyata kedalamnya. Dan diperlukan pendidikan yang cukup sehingga tidak terjadi munculnya kaum “Ampibi Wannabe” yang berkeliaran menuduh ke kiri dan ke kanan tanpa dasar dan pengetahuan yang mungkin bagi kaum homosapien di dunia nyata terdengar hebat tapi merupakan guyonan yang sangat tidak lucu bagi masyarakat dunia maya yang dihuni kaum homosuperior.

    (more…)

  • Mengingat Kenikmatan Dunia Bayangan

    Hari ini dalam istirahat sakitku, akhirnya berkesempatan menonton beberapa film yang tersimpan dan belum sempat di tonton. Salah satunya adalah Hackers: Outlaws & Angels keluaran Discovery Channel.

    Melihat Captain Zap, KP dan lain-lain membuatku teringat masa-masa dulu. Kenangan indah dengan rekor jumlah keberhasilan yang belum berhasil aku pecahkan sendiri. Walaupun sudah beberapa kali mencobanya. Mengenang persembunyian dibalik nama-nama ajaib, “merajut” kasih diantara mesin yang tak mengenal lagi teritori.

    Rekor jumlahku adalah 152 dalam 30 hari, dan tentunya dengan percabangan dalam 152 tersebut. Maksudnya 152 adalah bagian “main”-nya. Dan ternyata catatan dari ke 152 tersebut masih tersimpan di-“sana” dan beberapa masih bisa di-“fungsi”-kan. :-ss Mengerikan… setelah sekian lama.

    Teringat nama-nama yang dulu sering bersarang di layarku, yg beberapa bulan ini (nyaris 1 tahun mungkin) tak ku tampilkan dilayarku. Bagaimana kabar mereka ?

    Dan tak lupa satu pesan untukku sendiri, “Aku tak pernah lupa kenikmatannya”

    Hehehehehehehehe

  • Karena Saya Ada Disitu

    Pada saat memasuki tempat parkir yang dikelola oleh sebuah institusi resmi, kita akan mendapatkan sebuah karcis parkir dengan sejumlah peraturan didalamnya. Selain itu kita juga akan menemukan aturan-aturan, seperti keharusan membayar setiap jamnya sekian, sejam berikutnya sekian dan seterusnya. Kian hari  harga perjam untuk parkir semakin mahal. Sementara fasilitas yang diberikan seringkali hanya sekedar parkir tanpa jaminan apapun atas nasib kendaraan kita yang tengah diparkir disitu.

    Pada saat kita akan memarkirkan kendaraan kita, terkadang kita akan berjumpa kembali dengan petugas parkir yang akan membantu kita untuk memarkirkan kendaraan kita.

    Setelah memarkirkan kendaraan, terkadang kita sudah ditunggui didepan pintu oleh petugas tersebut yang tujuannya tak lain dan tak bukan adalah “beri saya uang”.

    Seakan tak cukup dengan bayaran parkir perjam yang kian meningkat, pada saat kita akan keluar dari area parkir tersebut, kembali sang petugas parkir menghampiri dan berseru, “terus terus terus”, sekalipun area sedang kosong sama sekali. Selanjutnya bisa ditebak, kembali penantian agar kita memberi uang menghampiri dari kaca jendela. Dan bila kita menolak memberi, bersiaplah untuk menerima, pelototan, tatapan sinis, dan kadang makian.

    Tak hanya itu. Tukang-tukang parkir tak resmi pun berkeliaran dimana-mana dan menentukan tarif seenak jidat mereka. Disatu sisi kadang saya sendiri tak heran. Dulu saya pernah berdiskusi dengan salah satu dari mereka. Dan ternyata mereka di wajibkan untuk memberikan setoran ke pihak pemda (saya lupa departemen mana yang mengurus soal parkiran). Waktu itu (tahun 2004) kewajiban setor tukang parkir tak resmi ini kalau tidak salah adalah Rp 35.000/hari. Bayangkan bila mereka gagal mengumpulkan nilai tersebut. Mereka harus mengeruk saku pribadi untuk menutupinya. Dan bila mereka tak sanggup lagi memberi uang, maka lahan tersebut akan diberikan pada kelompok lain. Rp. 35.000 perhari di tambahkan dengan jumlah parkiran di jakarta dapet berapa yaa ?

    Hal seperti ini pun terjadi pada para polisi “preman perempatan” alias polisi cepek.

    Terasa seakan ini adalah bentuk lain dari premanisme yang di resmikan baik secara langsung ataupun tak langsung.

    Terpikir kadang kita sama sekali tidak membutuhkan kehadiran mereka. Tapi seperti sudah menjadi keharusan bagi mereka untuk mengharuskan kita memberi uang. Sementara biasanya kita memberikan uang untuk jasa yang kita minta atau butuhkan atau mungkin diberikan karena memang diperlukan.

    Tapi yang terjadi saat ini, “anda harus membayar, karena saya ada disini“

  • Karcis Tol

    Apakah ada yang melihat keanehan dengan karcis tol ini ? ada ada ada ?

    karcis tos

    ngak ada ?

    baik… memang tidak ada yang aneh, kecuali bahwa perjalanan saya dimulai dari pondok gede timur dan baru memasuki halim

  • Cuti Paksa oh Cuti Paksa

    Saya teringat seorang kawan yang pernah mengeluhkan soal cuti paksa ini. Dulu kantornya memberikan “hadiah” bagi yang tidak mengambil cuti selama beberapa tahun (3 atau 5 tahun persisnya saya lupa).  Dan hadirnya kebiasaan cuti paksa ini tepat beberapa hari sebelum masa dimana dia harusnya mendapatkan “hadiah” itu.

    Cuti paksa ini dulu kalau tidak salah muncul  banyaknya PN dan PNS yang membolos disekitar libur besar. Yang ketiban sial adalah para pegawai swasta yang tidak pernah mengambil cuti, seperti saya ini.

    Mengapa kami tidak dibiarkan mengatur cuti kami sendiri ?

    Mengapa tidak memperketat peraturan saja ? Dan bukannya dengan banyaknya yang mungkir juga bisa menjadi petunjuk kalau pekerjaan mereka juga mungkin masih kurang sibuk. Mungkin ini juga saat yang tepat untuk merevisi apa yang mereka kerjakan di hari-hari kerja mereka.

    Dari beberapa sisi, cuti paksa ini mengasikkan. Tapi bagi mereka yang tidak biasa mengambil cuti dan memilih untuk bekerja, dan harus di paksa kehilangan reward atas waktu kerja mereka sungguh pengorbanan yang besar bagi para penggemar libur.

  • Peraturan Tempat Bermain Anak di Mall

    Peraturan Tempat Bermain Anak

    Pernah ada yang memperhatikan kalau peraturan tempat bermain di dalam mall itu sering kali berisi pelepasan tanggung jawab atas apapun yang terjadi pada diri anak-anak yang sedang bermain ? Bahkan tetap harus bertanggung jawab atas “kerusakan tambahan” yang mungkin terjadi ?

  • Contoh Pengendara ………….

    Contoh Seorang Pengendara Motor

    Perhatikan pakaian dan apa yang tertulis di sekujur atribut ke-2-nya.
    Mungkin kebanyakan pengendara motor meniru hal ini karena hormatnya pada para aparat

  • Seragam Bisa Meningkatkan Kecerdasan

    Begitu mungkin harapan para penguasa sekolah. Maka dari itu seragam menjadi sesuatu yang sangat penting sehingga harus berbeda setiap hari. Saya sendiri masih belum memiliki kepandaian yang cukup untuk mencerna kegunaan memiliki banyak jenis seragam bagi peningkatan kecerdasan otak. Mungkin hanya mereka yang memutuskan yang mengerti. Barangkali kita bisa melihat seperti apa kecerdasan yang dihasilkan setelah beberapa tahun kedepan.

    Bisa jadi kecerdasan itu membuat sebuah pesawat ruang angkasa dengan bahan bakar bawang atau bayam, atau mungkin kemampuan membangun rumah pribadi dengan dinding batu granit bagi para pedagang.

    Tapi yang jelas, kemarin seorang ibu bercerita tentang anaknya yang baru masuk SD di sebuah sekolah di Depok. Setelah sejumlah biaya sekolah yang tidak sedikit, dia masih harus menyediakan lagi 6 buah seragam yang sebagian “WAJIB” dibeli dari sekolah, diantaranya baju batik dan atasan seragam pramuka. Selain itu, si ibu masih diharuskan membeli buku-buku pegangan dan buku tugas (atau sejenisnya) yang jumlahnya cukup banyak pula.

    Dengan penghasilan yang dimilikinya, akhirnya terpaksa sang anak belum memiliki buku-buku tersebut.

    Katanya ada BOS yang akan membantu anak-anak agar bisa bersekolah. Tapi entah kemana larinya dana BOS. Apakah dana BOS itu sedang jalan-jalan bersama para BOS sekolah ???? Hanya Tuhan dan yang pegang duitnya yang tahu.

    Tapi mungkin memang seragam bisa meningkatkan kecerdasan dan kekayaan bagi yang bisa memanfaatkannya.