Select Page

“Darleng, ambilin nunchaku ayah dong ? Pengen latihan nih”, kataku sore itu di hari sabtu sore sambil berdiri di depan rumah.

Maka sang darleng pun beranjak kedalam mengambilkan nunchaku karet buatan Tokaido (tolong dibacanya lengkap ya, jangan 3 huruf depan doang) dan menyerahkannya.

Dimulailah latihan kecil di halaman depan rumah yang sempit dengan sedikit takut-takut kalau-kalau putarannya menyambar segala benda di sekeliling.

Sempat terpikir mau latihan dilapangan basket komplek biar keren keliatan tetangga. Tapi ah malu.. takut makin banyak penggemar kan repot.

Sementara si ganteng lagi memutar-mutar nunchaku, the darleng dan pembantu serta si bayi lagi asik ngerubutin rambutan yang baru saja di panen dari pohon di depan rumah.

Oh iya.. sebelumnya saya udah berlatih ilmu tongkat sakti dengan menjadikan rambutan sebagai sasaran tusukan. Dengan tongkat panjang di tusuk-tusukan agar buahnya berjatuhan. Tentu saja ngak ada yang jatuh. Orang dahannya lentur gitu. Yang ada malah muter-muter doang itu buah ditambah tangan makin lama makin pegal. Ah tapi kan gaya. hehehe

Karena gagal juga, sambil berdiri ditengah jalan, saya akhirnya memutuskan mengganti tusukan menjadi sabetan. Dan berhamburanlah rambutan ke bawah, entah terlempar kemana karena jelas jatuhnya jadi ngak terarah. Emang jurus perontok rambutan ini belum juga bisa di sempurnakan walaupun udah dilatih bertahun-tahun. Tapi yaa apa daya. Pembantu dan the darleng pun harus sibuk kian kemari untuk mengumpulkan rambutan. Tapi yaa semua bisa terbayar oleh nikmatnya rambutan manis yang sudah terkenal ke seantero tetangga yang menunggu jatah panen.

Sementara asik dengan latihan jurus perontok rambutan, seorang tamu dari tetangga melintas dengan mobilnya sambil membuka kaca. Cewek looo yang nyupir… Sambil tersenyum manis dia bilang, “Permisi pak yaa…” dan saya jawab, “Oh silahkan bu. Maaf  menghalangi jalan”.

Sebetulnya saya masih meneruskan, “Jadi nomor teleponnya berapa bu”. Eh dia udah nutup jendela. Sementara yang denger cuman the darleng dan pembantu yang langsung pada ngakak.

“Looo kok pada ngakak sihhh”, kata saya.

“Paraaahhhh !!!!!! Cowok sama aja”, kata pembantu saya.

“Lah iya dong cowok sama, tapi beda kualitas gentengnya. Kalo cowok beda-beda malah kamu yang susah ngebedainnya entar dan jadi banyak sebutan buat cowok”, kata saya lagi.

Saya jadi mikir, gimana yaa kalo cowok beda-beda ? Apa mungkin. Ada yang kotak, segi banyak gitu. Yaaa ngak tau lah… namanya juga cuman mikir.

Yak kembali ke nunchaku.

Asik dengan putaran kiri kanan sambil berdiri disamping pohon kuping gajah kesayangan the darleng.

Eh pohon itu malah nyamperin sehingga daunnya kesamber pas nunchakunya lepas dari pegangan gara-gara gerakan berputar yang asik dan dasyat tak bisa dibendung.

Sang pohon pun daunnya sompal. Eh tapi pohon ini kan emang daun semua ?

Jadi saya pun menyalahkan pohon dan yang menghampiri nunchaku-ku dan kucing yang kebetulan lewat sehingga terjadilah kecelakaan dimana daun itu tersambar dan somplak.

Sudah tentu somplakannya segera ku sembunyikan di bawah pot agar jejak kejadiannya semakin sulit di deteksi sambil menggunakan sarung kaki dengan gaya cubitan monyet untuk menyembunyikannya serta meyakinkan tidak adanya sidik jari kaki disitu disana.

Kemudian dengan wajah polos mulai kembali berlatih memutar nunchaku.

Eh tapi ternyata si pembantu ngeliat dan di laporinlah orang ganteng ini ke the darleng.

Dasar tukang ngadu. Dan akhirnya orang ganteng ini di omel-omelin oleh the darleng.

“Darleng, ini semua kesalahan terjadi karena kucing. Ketika sedang berlatih, kucingnya lewat dan kesamber nunchaku, lalu dia terlempar ke pohon kuping gajah itu. Nah karena dia kesel, dia ngamuk terus nyakar2x pohon kesayangan the darleng. Gitu ceritanya”, kataku jelas-jelas ngebohong.

“Awas yaa kalo rusak lagi”, kata the darleng.

“Baiklah”, kataku yang kembali memutar nunchaku sementara the darleng beranjak kembali ke teras rumah untuk kembali melatih jurus pisau pengupas rambutannya. Setibanya di teras, nunchaku yang kuputar terlempar dan terjatuh kesebuah pohon hingga tercabut dari akarnya.

“Hayooo ini sih gara2x apa lagi yaaa”, kata the darling.

“Hehehehe”, aku ketawa nyari kisah.

Lalu besok paginya aku dibuatkan sepiring nasi goreng oleh the darling sebelum pergi latihan ke monas. Tak lama sehabis makan nasi goreng perutku mules-mules dan berakhir dengan bolak balik harus buang air.

Waduh… ini kutukan Pohon Kuping Gajah atau balas dendam the darleng ???

Ah tapi ngak mungkinlah the darleng ngeracunin gua. The darleng kan baek kayak bebek. Jadi mungkin ini kutukan pohon kuping gajah hiiiiiiii.

Demikianlah kisah Kutukan Pohon Kuping Gajah yang menyebabkan hari ini, saya yang ganteng ini, ngak latihan ke monas.

*hick*