Category: Curhat

  • Berusaha, Iklas dan Sabar

    krupuk

    Gara gara ngak bisa makan model prasmanan, alhasil pulang dari Reuni SMA 3 Padmanaba perut keroncongan. Rencana awal sih mau naik busway sampai UKI (mumpung busway gratis) trus nyambung naik 58 sampai kampung 2 dan jalan kerumah. Alhamdulilah, ada temen yang mau pulang ke Bogor nawarin tebengan sampai UKI, yahh lumayan kan nggak perlu ngantri busway yang penuh (karena gratisan) dan nyebrang jembatan penghubung mampang yang cukup panjang. Turun di UKI mulai berhitung, lalu memutuskan untuk naik taksi ke Besqi biar bisa makan sekaligus nyari kado buat ponakan di tempat toko favorit. Plus badan tiba tiba panas dingin dan mual. Biasanya kalo dah gini, butuh pengeluaran atas bawah hehehe. Pilihan pakai taksi adalah yang terbaik, meski mulai menghitung uang di dompet karena lupa mampir ATM.

    Sampai di Besqi, tujuan pertama tentu toilet. Setelah itu langsung mencari tempat makan dengan pertimbangan makanan, tampilan dan tentusaja harga. Pemenangnya adalah nasi timbel di resto O*** yang harganya lumayan terjangkau, dan tempatnya lumayan.  Duduk di meja sebelah, sepasang ibu ibu dengan tas LV dan Prada ( (entah asli atau KW ), bersama anaknya usia 5-10 tahunan.

    Bukan maksud hati nguping, tapi apa daya, iseng makan sendirian plus volume mereka juga 6 (skala 1-10) alhasil terdengarlah obrolan ibu LV dan ibu Prada. Mulai dari pamer habis belanja tas harga 500.000, si A simpanan si om ini sampai urusan arisan jutaan dan belanjaan temannya yang cuma (?) 25.000 sehari dan dianggap pelit.

    Pesananku tiba dan mulailah niat serius ngisi perut, saat seorang bocah (awalnya saya kira masih 8-10 tahun atau kelas 4 SD lah) ganteng, sederhana dan wajah senyum menghampiriku dengan sopan.

    “Ibu, makan nasinya pakai krupuk ikan enak lho. Beli krupuk saya ya bu.”

    “Krupuk”

    “iya, Harganya 3500 tapi kalau ibu beli 10.000 dapat 3. Bos saya belinya kiloan bu, trus diplastikin kecil kecil biar gampang jualnya. Keuntungannya buat saya akan saya kumpulkan untuk masuk SMP bu” sambil tersenyum sopan.

    “masuk SMP siapa?”

    “Saya bu. tahun ini saya masuk SMP. ”

    “Ya sudah, mau dong 10.000 saja.” (saya beli karena memang pingin krupuk dan nggak kepikir apakah krupuk itu mahal atau murah)

    “Ini bu, 3 ya. tapi maaf, saya nggak punya plastik. mahal bu. nggak ada untungnya nanti. Boleh saya masukan ke tas ibu ini saja” Katanya sambil nunjuk ke tas goodybag hasil reuni tadi. wah itu kan ada baju kotor hehehe jangan dong.”

    “Nggak usah, tarok saja di meja. Kan mau langsung saya makan”

    “Oh gitu, boleh saya bukakan?”

    “Boleh. Rumahmu dimana?”

    “Jati bening ujung bu (hemmm dimana itu ya?)” Katanya sambil mulai berusaha buka plastik yang lumayan alot.

    “Jauh dong, naik apa kesini”

    “Naik angkot bu” dengan masih susah payah buka plastik

    “sudah nggak usah dibuka, nanti saya buka pakai gunting deh.”

    “Makasih ibu, selamat sore, assalamualaikum” katanya senyum dengan sopan sambil mengulurkan tangan cium tangan.

    Luar biasa. Disaat diluar sana banyak orang/anak yang memilih cara yang mudah dengan menadahkan tangan meminta, si bocah memilih jualan krupuk yang rasanya sih untugnya nggak seberapa.

    Niat serius makan ternyata kembali gagal ketika suara ibu LV sebelah agak meninggi.

    “Berapa? 3500? mahal amat? Saya beli biasanya cuma 3000 kok”

    “Yah nggak bisa bu. memang segitu harganya kalau ibu beli 3 harganya 10.000. dan untungnya sedikit untuk saya masuk SMP”

    “Halah, alasan aja nih. Kalau mau minta uang bilang aja. 3000 satu atau aku nggak mau beli. Nih 500”

    “Nggak bu, saya nggak mau minta kok. Kalau ibu tidak membeli juga nggak papa. Makasih bu, Assalamualaikum”

    “Ehhh tunggu. Ya udah sini. Ini saya amal ya buat kamu. saya beli 3” (waksssss amal kok bilang bilang? jadi ingat pelajaran iklas dari Kyai Hasan Basri bertahun tahun yang lalu. Kalau iklas jangan bilang dan lupakan)

    “Saya juga mau amal deh, nih 10.000” saut ibu Prada

    “Iya bu, ini krupuknya, 6 ya bu. Tapi maaf saya nggak punya plastik”

    “Gimana sih ! niat nggak jualan? trus saya bawa krupuknya gimana?” (PLISSSSSSSSSSSS DEEEEEEEEEHHHH itu tas LV dan PRADA segede gaban bisa muat deh krupuk 10 bungkus juga.) haduhhh kenapa jadi aku yang emosi ya. padahal anak itu tetep pasang muka senyum dan lempeng.

    Sekali lagi si anak minta maaf dan pamit mengucapkan salam. Seperginya anak itu aku kembali tersadar dari bengong dan pinjam gunting ke kasir untuk buka krupuk. Tiba tiba ibu LV nyolek dan bilang

    “Enak nggak krupuknya? beli di bocah tadi kan? coba satu ya. punya saya masih belum dibuka, susah. pingin nyobain aja. makasih”sambi nyomot satu dari plastikku. Antara kaget, takjub dan nggak iklas membuatku terdiam (kayaknya mas mas yang layanin dan mbak mbak kasirnya senyum senyum liat ekspresiku deh).

    “ih enak ya. Tahu enak tadi aku beli 10 deh. murah lagi. Padahal kalau di G*** biasanya sekantong isi 10 gini kan 5000. ” huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa  GGGUUUBRAKKKKKKKKKKZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZ

    Ini adalah tulisan ketiga setelah 2 x draft sebelumnya terhapus begitu saja.

  • Review about Hosting24 That Claim as Professional Hosting Company

    Review about Hosting24 That Claim as Professional Hosting Company

    I have a Gold Account at hosting24 since 25/04/2010 and valid until 02/05/2014

    I decided to take the hosting there because some promise features they provide. One of these features is that they will give shell access using SSH.

    http://web.archive.org/web/20101104073702/http://www.hosting24.com/features.php

     

    Promised Feature

     

     

    December 2012 and I want to use SSH and since my account had recently moved to another server I need to know new information about how to access the SSH feature. But their answer is, they no longer provide the SSH feature. And they remove this feature without giving prior notice.

    Here’s what they say

    “I am really sorry, but due to security and performance Reasons SSH was turned off. However in order to compensate that we could add one month for free for your current hosting service. Or you can order a VPS server roomates has SSH access and you will have full control of it and the server’s resources. Let us know how we can proceed. ”

    Of course I do not want to use the VPS. I like the features they promised returned to me. And if they can not give me want to cancel my account and the remaining refund they expect the rest of my money worth of the remaining validity period of my account.

    And because what I asked for is money from my account time remaining until the expiration of my account I think it was pretty fair request. It’s 16 month which mean US$ 125.44.

    They answer is they can not give the rest of my money if my account is older than 30 days, but they were actually processing the cancellation of my account and I lost all my files there.

    Closing the account but did not want to refund the rest of my money? Did they think I was Santa Claus?

    I still request a refund or return them to reactivate my account with SSH feature.

    Their answer was, re-activate my account, the state of the mine file is missing, and so far they have not replied about the SSH features they once promised, and also about the departure of the files belong to me

    I lost a lot of things, time, money and effort to deal with a hosting company that can only be claimed as a professional company. Not only because of this case but also cause by a lot of down time I face.

    Something you have note about if  you hosting here and you use a free domain registration that they give if you buy hosting from them is, chek a whois information. According to a they technical support, they doesn’t activate a domain privacy. So if you check a a whois you will found your personal information advertise to the internet. You can use tools from site like domaintools.com to check your whois information.

    I’m still waiting a good will from Hosting24 site to give me a feature you promise or give the rest of my money.

    I highly do NOT RECOMMEDED anyone to deal with this hosting company.

    The company has a facebook account
    http://www.facebook.com/hosting24com

    And also seems to account twitter

     

  • Satu kesalahan yang merusak persiapan berbulan-bulan

    Begitulah…

    Persiapan untuk menempuh perjalanan mudik dengan bersepeda tahun ini gagal total karena begitu perjalanan dimulai terjadi kerusakan pada RD.

    Semua persiapan fisik dan mental telah dilakukan. Pengecekan fisik sepeda juga sudah dilakukan. Satu hal yang terlewatkan adalah usia pakai dari RD bawaan si merseli, seli 20″ yang sedianya akan ku pakai dalam perjalanan ini.

    Usianya sudah hampir 2 tahun, sementara perjalanan hariannya berkisar sekitar 50km perhari, kadang kalau iseng bisa 100-an km. Jalan hidupnya pun tidak selalu mulus. Kadang berhadapan dengan makadam, jalan2x tanah, naik turun bukit, dll, sehingga penunggangnya mendapat julukan ropli alias rombongan penyiksa seli. Juga perjalanan tahun lalu menempuh sekitar 480 km dan sebelum ini sekitart 380km tentunya memakan usia pakai RD tersebut.

    Jadilah setelah meluncur sejauh 135.6 km saya memutuskan membatalkan perjalanan bekasi – yogyakarta berdua bersama merseli tahun ini karena per RD yang ngak bisa diajak kompromi.

    Nyari per RD neos 2 kayaknya susah, jadi diputuskan sepertinya harus ganti RD.

    Demikian curhatan ini
    Hick

  • Nunchaku dan Kutukan Pohon Kuping Gajah

    “Darleng, ambilin nunchaku ayah dong ? Pengen latihan nih”, kataku sore itu di hari sabtu sore sambil berdiri di depan rumah.

    Maka sang darleng pun beranjak kedalam mengambilkan nunchaku karet buatan Tokaido (tolong dibacanya lengkap ya, jangan 3 huruf depan doang) dan menyerahkannya.

    Dimulailah latihan kecil di halaman depan rumah yang sempit dengan sedikit takut-takut kalau-kalau putarannya menyambar segala benda di sekeliling.

    Sempat terpikir mau latihan dilapangan basket komplek biar keren keliatan tetangga. Tapi ah malu.. takut makin banyak penggemar kan repot.

    Sementara si ganteng lagi memutar-mutar nunchaku, the darleng dan pembantu serta si bayi lagi asik ngerubutin rambutan yang baru saja di panen dari pohon di depan rumah.

    Oh iya.. sebelumnya saya udah berlatih ilmu tongkat sakti dengan menjadikan rambutan sebagai sasaran tusukan. Dengan tongkat panjang di tusuk-tusukan agar buahnya berjatuhan. Tentu saja ngak ada yang jatuh. Orang dahannya lentur gitu. Yang ada malah muter-muter doang itu buah ditambah tangan makin lama makin pegal. Ah tapi kan gaya. hehehe

    Karena gagal juga, sambil berdiri ditengah jalan, saya akhirnya memutuskan mengganti tusukan menjadi sabetan. Dan berhamburanlah rambutan ke bawah, entah terlempar kemana karena jelas jatuhnya jadi ngak terarah. Emang jurus perontok rambutan ini belum juga bisa di sempurnakan walaupun udah dilatih bertahun-tahun. Tapi yaa apa daya. Pembantu dan the darleng pun harus sibuk kian kemari untuk mengumpulkan rambutan. Tapi yaa semua bisa terbayar oleh nikmatnya rambutan manis yang sudah terkenal ke seantero tetangga yang menunggu jatah panen.

    Sementara asik dengan latihan jurus perontok rambutan, seorang tamu dari tetangga melintas dengan mobilnya sambil membuka kaca. Cewek looo yang nyupir… Sambil tersenyum manis dia bilang, “Permisi pak yaa…” dan saya jawab, “Oh silahkan bu. Maaf  menghalangi jalan”.

    Sebetulnya saya masih meneruskan, “Jadi nomor teleponnya berapa bu”. Eh dia udah nutup jendela. Sementara yang denger cuman the darleng dan pembantu yang langsung pada ngakak.

    “Looo kok pada ngakak sihhh”, kata saya.

    “Paraaahhhh !!!!!! Cowok sama aja”, kata pembantu saya.

    “Lah iya dong cowok sama, tapi beda kualitas gentengnya. Kalo cowok beda-beda malah kamu yang susah ngebedainnya entar dan jadi banyak sebutan buat cowok”, kata saya lagi.

    Saya jadi mikir, gimana yaa kalo cowok beda-beda ? Apa mungkin. Ada yang kotak, segi banyak gitu. Yaaa ngak tau lah… namanya juga cuman mikir.

    Yak kembali ke nunchaku.

    Asik dengan putaran kiri kanan sambil berdiri disamping pohon kuping gajah kesayangan the darleng.

    Eh pohon itu malah nyamperin sehingga daunnya kesamber pas nunchakunya lepas dari pegangan gara-gara gerakan berputar yang asik dan dasyat tak bisa dibendung.

    Sang pohon pun daunnya sompal. Eh tapi pohon ini kan emang daun semua ?

    Jadi saya pun menyalahkan pohon dan yang menghampiri nunchaku-ku dan kucing yang kebetulan lewat sehingga terjadilah kecelakaan dimana daun itu tersambar dan somplak.

    Sudah tentu somplakannya segera ku sembunyikan di bawah pot agar jejak kejadiannya semakin sulit di deteksi sambil menggunakan sarung kaki dengan gaya cubitan monyet untuk menyembunyikannya serta meyakinkan tidak adanya sidik jari kaki disitu disana.

    Kemudian dengan wajah polos mulai kembali berlatih memutar nunchaku.

    Eh tapi ternyata si pembantu ngeliat dan di laporinlah orang ganteng ini ke the darleng.

    Dasar tukang ngadu. Dan akhirnya orang ganteng ini di omel-omelin oleh the darleng.

    “Darleng, ini semua kesalahan terjadi karena kucing. Ketika sedang berlatih, kucingnya lewat dan kesamber nunchaku, lalu dia terlempar ke pohon kuping gajah itu. Nah karena dia kesel, dia ngamuk terus nyakar2x pohon kesayangan the darleng. Gitu ceritanya”, kataku jelas-jelas ngebohong.

    “Awas yaa kalo rusak lagi”, kata the darleng.

    “Baiklah”, kataku yang kembali memutar nunchaku sementara the darleng beranjak kembali ke teras rumah untuk kembali melatih jurus pisau pengupas rambutannya. Setibanya di teras, nunchaku yang kuputar terlempar dan terjatuh kesebuah pohon hingga tercabut dari akarnya.

    “Hayooo ini sih gara2x apa lagi yaaa”, kata the darling.

    “Hehehehe”, aku ketawa nyari kisah.

    Lalu besok paginya aku dibuatkan sepiring nasi goreng oleh the darling sebelum pergi latihan ke monas. Tak lama sehabis makan nasi goreng perutku mules-mules dan berakhir dengan bolak balik harus buang air.

    Waduh… ini kutukan Pohon Kuping Gajah atau balas dendam the darleng ???

    Ah tapi ngak mungkinlah the darleng ngeracunin gua. The darleng kan baek kayak bebek. Jadi mungkin ini kutukan pohon kuping gajah hiiiiiiii.

    Demikianlah kisah Kutukan Pohon Kuping Gajah yang menyebabkan hari ini, saya yang ganteng ini, ngak latihan ke monas.

    *hick*

  • Privacy, dulu dan kini

    Saya terlibat satu pembicaraan kecil dengan teman setelah melihat sebuah foto dimana wajah saya tampak disitu dan seorang kawan men-tag saya.

    Fotonya biasa saja, bahkan saya sedang di kerubuti para bidadari hehe. Tapi yang sedikit tersentil adalah, kalau dulu rasanya sangat mudah kita membuat persembunyian untuk tak di ketahui orang. Tapi untuk saat ini, walaupun kita sudah bersembunyi sebaik-baiknya, tetap saja bisa muncul dimana saja dari kisah orang lain. Baik itu blog atau site2x jejaring sosial seperti facebook yang sekarang ini sedang booming.

    Informasi yang beredar bisa muncul dari mana saja, bocor dari mana saja dengan begitu banyaknya forum dan situs jejaring sosial yang terus bertambah. Dan informasi tersebut semakin mudah pula di temukan dengan tersedianya situs pencari yang semakin canggih.

    Sementara itu, banyak orang yang kurang tahu kalau atas persetujuannya informasi-informasi miliknya, termasuk yang pribadi diberikan untuk di komersilkan atau untuk keperluan lainnya ketika mendaftarkan diri pada sebuah site. Google atau facebook misalnya. Pada saat mendaftar kita telah menyetujui dan memperbolehkan mereka menggunakan informasi-informasi milik kita untuk kepentingan mereka.

    Saya sendiri beberapa kali pernah melakukan hunting secara serius terhadap informasi-informasi seseorang menggunakan situs pencari. Dan hasilnya cukup luar biasa.

    Memang, dengan kondisi tersebut, akan banyak pula terjadi pemalsuan informasi. Tapi rasanya jauh lebih banyak informasi dan jejak elektronik lainnya kita tinggalkan dimana-mana.

    Terbayang bagaimana nanti, para anak bisa di awasi dengan cukup mudah oleh para orang tua, tapi para orang tua juga akan sulit membatasi informasi yang masuk ke anak-anaknya.

    GPS tracking juga sudah menjadi barang yang murah dan mudah didapat, sementara fasilitas untuk melakukan tracking juga semakin canggih. Barangnya juga tidak seperti dulu lagi. Sekarang ini bisa sangat kecil, bahkan bisa disamarkan sebagai gantungan kunci misalnya.

    Mau tidak mau, masa masa berkurangnya privacy akan semakin dekat dan sangat mungkin akan segera terjadi.

    Jadi….. berhati-hatilah….

  • Mengikuti Canon Photomarathon indonesia 2009

    Hari ini saya mengikuti acara Canon Photomarathon Indonesia 2009 yang diadakan di Taman Fatahillah.

    Sekitar tepat pukul 06.30 saya telah hadir dilokasi untuk mulai melakukan registrasi ulang ditempat.

    Mengantri dalam antrian yang lumayan panjang, dipilihlah salah satu tenda dengan tulisan “SLR” diatasnya lalu dengan sabar menunggu giliran. Lalu saya melihat tenda ke-2 dari kiri, mulai orang mengantri (sebelumnya kosong), sehingga saya yang sudah ada ditengah memutuskan untuk berpindah ke tenda tersebut yang juga diatasnya tertulis “SLR”. Jadi ini adalah part 2 saya mengantri untuk daftar ulang.

    Setelah tiba giliran saya, ternyata tenda tersebut hanya dikhususkan bagi mereka yang pendaftarannya bermasalah padahal, tenda tersebut tidak menunjukan tanda apapun selain tanda yang sama persis dengan tenda2x lainnya. Alhasil saya harus melakukan mengantri part 3 yang lebih panjang ketika saat saya mengantri pertama kali.

    Setelah tiba giliran saya, ternyata nama saya tidak ada dalam daftar. Beruntung semua lengkap. Tanda terima ada, foto kopi ktp ada, bukti transfer ada, email bukti pendaftaran ada, email bukti terima transfer ada. Tapi saya diminta untuk pindah dan kembali MENGANTRI di tenda “bagi yang pendaftarannya bermasalah”, yaitu tenda ke-2 dari kiri, yang sudah menjadi panjang. Dan terjadilah ngantri part 4.

    Akhirnya tiba giliran saya di layani di antri part 4 ini. Ternyata nama saya tidak ditemukan dan saya diminta untuk kembali MENGANTRI LAGI di tenda (barangkali) bagi “YANG PALING BERMASALAH” yaitu tenda paling kiri. Dan terjadilah NGANTRI part 5.

    Setelah tiba bagian saya dilayani, karena sang penjaga melihat barang bukti lengkap semua, dia meminta saya untuk MENGANTRI LAGI di barisan pendaftaran normal. Tapi kali ini saya jelaskan bahwa saya dari sana dan ini sudah ke-5 kalinya saya antri. Lalu datanglah seseorang (salah satu manager), dia mengecek sendiri dan mengajak saya dan beberapa orang yang juga dalam situasi “sangat bermasalah” ini untuk berpindah ke antrian “kaum normal”. Walaupun langsung “menyodok” melalui pinggir mereka yang sedang mengantri, tapi kaum “sangat bermasalah” ini juga tidak sedikit. Sehingga tercipta antrian kecil disitu dan terjadilah pengalaman mengantri part 6.

    Total waktu saya mengalami di jemur dibawah terik matahari sambil membawa semua perangkat saya adalah sekitar 1 jam 30 menit. Perasaan lelah dikaki sudah mulai terasa. Karena selain capek antri, panasnya emang ngak kira-kira.

    Kasus registrasi yang ngawur dan melelahkan ini jelas sangat menunjukan ketidaksiapan panitia menangani pendaftaran.

    Ketika nama saya tidak ditemukan, salah satu dari mereka, berpindah-pindah laptop untuk mencari dalam database.

    Kesan saya, tidak ada singkronisasi data disitu. Kalau begitu kenapa harus pakai cara rumit. Hingga sekarang, saya tidak pernah tau apakah nama saya terdaftar dalam database tersebut atau tidak. Yang pasti saya melihat sendiri nomor dan nama peserta saya dicatat di balik daftar peserta hasil print out.

    Lomba ini terdiri dari 2 sesi.

    Sesi pertama dimulai dan semua dipersilahkan memotret APAPUN di dalam lingkungan Fatahillah hingga jam 9.30. Pada pukul 9.20 – 9.30, panitia akan menampilkan jam di layar yang terdapat di panggung, dan semua peserta diwajibkan untuk memotret jam tersebut sebagai tanda selesainya sesi pertama, bila tidak memotretnya maka akan di diskualifikasi dari sesi pertama.

    Jepret sana jepret sini hingga waktu habis dan mencoba memotret layar bertuliskan jam yang dengan mata telanjang pun SANGAT SUSAH UNTUK DILIHAT. Mau motret tulisan jam-nya ???? Selamat berjuang memotret dalam waktu 10 menit tersebut melawan 1000 tukan jepret yang juga mencoba memotretnya.

    Sekitar pukul 9.25, mendadak diumumkan bahwa sesi pertama ini bertemakan “TUA”/”JADUL”. Hebat !!!!! Tema baru diberikan di akhir sesi. Tapi diakhir lomba diumumkan kalau tema tersebut dibatalkan, sehingga menjadi foto bebas.

    Sesi ke-2, bertemakan “Ekspresi” dan diharuskan mengambil di luar wilayah Museum Fatahillah. Perasaan lelah sudah lebih lekat dan mood sudah mulai terbang. Walau mencoba mengambil beberapa jepretan tapi yaa sudah sekenanya saja. Tapi mendadak timbul pertanyaan. Bagaimana dengan model releasenya ? Bagaimana kalau foto itu menang dan sang pemilik wajah tidak terima ? Tanggung jawab siapakah itu ? Fotografernya ? atau panitia ?

    Beberapa orang saya dengar ternyata sedang mendiskusikan hal yang sama.

    Sesi ke-2 berakhir pukul 11. Dan kembali diharusnya untuk memotret jam yang nampak samar2x tersebut diantara ribuan orang.

    Capek, foto sesi ke-2 saya pilih asal dan saya serahkan dalam CF ke panitia.

    Acara motret dilanjut dengan memotret model yang disediakan. Entah berapa banyak model yang ada. Soalnya saya sudah betul-betul lelah akibat panas, ditambah kaos wajib peserta yang tahan keringat sehingga panasnya semakin terasa, dan tangan sudah mulai gemetar. Akhirnya saya putuskan untuk mengistirahatkan diri saja dulu.

    Mendekati akhir acara di sore hari, ada presentasi foto. Sayangnya layar maya di panggung tetap sulit di lihat dengan mata telanjang dan hanya sedikit jelas dari sudut tertentu saja.

    Sore hari pengumuman door price.

    Dengan sebuah program, terlihat nomor-nomor diacak dilayar yang kini sudah mulai nampak jelas. Salah satu nomor peserta yang keluar (disertai nama dibawahnya), adalah rekan dari kawan saya yang saat itu tidak bisa hadir diacara karena ada keperluan mendadak sehingga tidak mengikuti registrasi ulang sama sekali. Mendengar hal tersebut, saya berkesimpulan bahwa nomor yang ditampilkan diambil dari pendaftaran online. Lalu saya teringat kalau pada waktu pendaftaran ulang, nama dan nomor peserta saya tidak tertera disana. Hemmm… apakah nama saya ada disana ? Apakah diinput ulang kekurangan datanya ? Rasanya hanya mereka yang tahu. Tapi saya biasanya ngak pernah menang kalo undian gini hehe. Tapi boleh dong ngarep dot kom dapet hadiah printer.

    Akhir acara yaitu pengumuman pemenang lomba.

    Setelah menanti cukup lama demi melihat pesan sponsor yang puanjang sekali dan luama sekali, akhirnya pemenang diumumkan, setelah sebelumnya disebutkan para finalis dari setiap sesi-nya. Alhamdulillah, nama saya disebut sebagai salah satu finalis.

    Salah satu pemenang, yaitu juara 2, tidak hadir, sehingga di diskualifikasi. Duh… sayang sekali. Padahal itu adalah sebuah prestasi, tapi harus di gugurkan sehingga sang juara 3 diangkat menjadi juara 2. Pedih banget pasti rasanya sang juara 2 yang sebenarnya. Padahal alamat jelas ada di panitia, karena semua mengumpulkan foto kopi ktp.

    Akhirnya saya tetap menjadi finalis karena tidak menang menjadi juara hehehe.

    Ada beberapa hal tentang foto pemenang yang ditampilkan, cuma saya pengen liat lagi dengan jelas sebelum menulis lebih banyak tentang foto hasil karya pemenang tersebut. Semoga ada yang mempublikasikan foto2x tersebut.

    Yang pasti kesan saya adalah, para panitia masih kurang persiapan sehingga banyak hal yang kurang diperhitungkan yang sedikit banyak merugikan sebagian peserta. Semoga yang berikutnya akan lebih baik lagi.

  • Bila anda tidak ingin lagi menerima email, silahkan unsub sendiri ?

    Belakangan ini saya banyak menerima email-email yang isinya untuk saya tidak berguna.

    Isinya berbagai macam. Dari tawaran produk, iklan, seminar, berita artis dan lain sebagainya. Walaupun pada akhirnya didaftarkan ke dalam daftar SPAM, tapi tetap saja menerima email seperti ini sangat menjengkelkan.

    Kenapa saya yang tidak ingin menerima email seperti ini harus bersusah susah untuk melakukan unsubscribe.

    Akan lain masalahnya kalau saya dengan kesadaran sendiri melakukan subscribe ke milis atau newsletter tertentu. Lah ini kapan juga saya pernah merequest untuk menerima berita sampah sejenis ini yang hanya masuk ke tong sampah SPAM tanpa saya baca sama sekali ? Bukan hanya menuh-menuhin inbox dan ngelama2xin transfer pada saat ngambil, tapi pasti akan menyebalkan untuk menerima sampah terus menerus bukan ?

    Semestinya mereka ini bertidak “SOPAN” dengan menawarkan untuk subscribing, bukannya subcribe paksa lalu disuruh unsubscribe sendiri kalau tidak mau.

    Gebleknya yang ngirimin kayak gini justru dari perusahaan-perusahaan yang orang marketingnya kurang belajar sopan santun atau etika ber-internet.

  • IBU PRITA MULYASARI, PENULIS SURAT KELUHAN MELALUI INTERNET YANG DITAHAN!

    Ibu prita ditahan karena menulis surat keluhan melalui internet. Kasus ini kini sedang ramai dibicarakan. Penahanan karena mengeluhkan di Indonesia ini ngak cuma satu ini. Hanya saja yang lainnya “terlupakan”. Dan seringnya memang begitu. Ramai, ramai, ramai, lalu hilang begitu saja dari peredaran. Tidak ada lagi kisah-kisahnya.

    Tidak hanya masalah ini, tapi misalnya tentang bencana. Kasus lapindo ? samar samar terdengar. Nasib para korban Situ Gintung ? Tak lagi ada kisahnya. Kemana perginya media yang tadinya ramai mengerumuni berita itu ?

    Ngak kebayang kalau liat keluhan pelanggan di surat kabar yang seringkali banyak sekali berkaitan dengan layanan sebuah perusahaan atau rumah sakit dan lainnya. Berapa banyak dari mereka (para perusahaan) yang akan berpikir untuk melakukan tindakan serupa ?

    Ngak kebayang juga apakah akan menjadi ajak bertindak seenak perut bagi para penyelenggara layanan kepada para pelanggannya karena anda tidak bisa mengeluh.

    Saya sendiri punya pengalaman mengeluhkan layanan ke penyedia layanan publik. Dan beberapa kali kejadian tidak ada tanggapan sama sekali. Hanya kisah “akan kami tindak lanjuti” yang entah sampai kapan akan dilakukan dan jelas jangan berharap akan ada kabar apapun dari mereka. Hanya dengan berteriak sekeras-kerasnya melalui media entah blog entah milis, baru mendapatkan perhatian.  Atau bisa juga anda mendapat perhatian dengan membawa pengacara yang jelas untuk itu anda perlu merogoh saku anda entah seberapa dalam.

    Tapi dengan adanya kasus-kasus sejenis ini, apa yang akan terjadi ?

    Seandainya semua pasal yang digunakan menjerat Ibu Prita ini sukses, kayaknya akan menjadi image buruk, bahwa nantinya “barang siapa mengeluhkan sesuatu melalui media publik bisa langsung masuk bui”.

    Yang jelas, para penyelenggara layanan bisa dipastikan punya cukup dana untuk mengedepankan pengacara. Sementara tak semua pengguna layanan mampu melakukan hal itu.

  • Resensi Buku: Paman Gober Edisi 114 Tahun 16

    Udah lama pengen  nulis ini tapi kelupaan mulu.

    Saya adalah penggemar buku dan salah satunya termasuk penggemar donald bebek dan keluarganya. Setiap bulan selalu membeli buku2x baru. Bahkan hari ini sangat kebetulan sekali, ditoko buku yang menjual buku2x bekas saya memborong buku2x “Paman Gober” edisi tahun 2 dan tahun 1. hehehe.

    Tapi ketika membaca “Paman Gober” Edisi 114 Tahun 16,  dihalaman 77, cerita berjudul “Super Donal: Harta Dolce Paprika“, rasanya agak lain. Cerita ini mengisahkan bagaimana sang Super Donald, melakukan aksi balas dendam karena ketidak sukaannya pada Paman Gober dan kekesalannya karena Desi akan pergi ke pesta dengan Untung Bebek dengan melakukan FITNAH.

    Cerita sejenis ini rasanya koq lain dengan kebiasaan-kebiasaan kisah cerita dari Walt Disney’s ini ?

    Tidakkah mereka sadar kisah seperti ini seharusnya tidak layak dan tidak sepantasnya di terbitkan karena akan menjadi pelajaran buruk bagi anak2x yang membacanya.

    Seharusnya editor lebih meneliti kembali kualitas kisah2x yang akan diterbitkan dong.

  • Permen sebagai alat pembayaran eh kembalian

    Saat ini kalau kita berbelanja dimana pihak penjual harus memberikan kembalian dalam nilai ratusan rupiah seringkali bukannya dikasih uang tapi malah dikasih permen.

    Tapi coba anda melakukan pembayaran dengan permen ? Maukah mereka ?

    Ini terjadi di mini market yang berada di salah satu perusahaan besar (sekali) di Indonesia, dimana waktu saya membeli sesuatu dikasih kembalian permen sebagai pengganti uang Rp. 300,-. Tadinya saya cuek aja dan menerimanya. Tapi ketika sampai dipintu keluar, saya teringat kalau ada yang lain yang ingin saya beli.

    Karena nilainya mengandung 200 rupiah, saya kembalikan 2 permen. Tapi ternyata ditolak. Dia tidak menerima pembayaran berupa permen. Padahal permen itu dari dia juga. Karena itu saya juga ngotot untuk mendapat kembalian dalam wujud uang dan bukan permen.

    Rasanya perlakuan permen menjadi alat pembayaran kembalian ini makin semena-mena.  Konsumen tidak diperbolehkan menolak penjualan paksa permen ini yang setiap butirnya dihargai Rp. 100,-.

    Kalau memang permen ini adalah alat pembayaran, mustinya segera diresmikan dong “Permen sebagai mata uang RI“