Category: silat

  • Beladiri Bagi Anak Usia Dini

    OLYMPUS DIGITAL CAMERASaat mencari SD untuk Khay, banyak sekali sekolah yang mencantumkan bela diri sebagai bagian ekstrakurikuler untuk siswanya. Hal ini ternyata mengundang pertanyaan bagi banyak ibu yang kebetulan hunting bareng atau ketemu saat open house sekolah dasar. “Waduh, masih kecil kok sudah diajarin berantem? Emang boleh ya?” “Kapan sih anak anak boleh mulai belajar beladiri?” “Emangnya anak anak belajar beladiri nggak bikin mereka tambah suka kekerasan?” “Kalau kelas 1 sudah ikut beladiri ntar anak gue pulang pulang babak belur lagi” dan sebagainya. Hal ini sangat wajar jika kita melihat beladiri sebagai sebuah olah raga dan jurus.

    Mendengar kata “beladiri”, boleh jadi yang terbayang di benak kita adalah kekerasan yang melibatkan adu fisik. Tak heran jika banyak orang tua “alergi” terhadap cabang olahraga yang satu ini. Jangankan untuk si kecil yang baru masuk sekolah dasar, anaknya yang sudah besar pun kalau bisa akan dicegah agar jangan sampai belajar beladiri apalagi masuk kedalam klub beladiri. Nah, bila di sekolah anak kita ada kegiatan tersebut, bukan tak mungkin ia akan ngotot ikut. Sementara kita khawatir kesayangan kita bakal cedera atau malah kelak jadi tukang berantem.

    Kadang teman teman saya bertanya saat melihat khay yang sering kami ajak berlatih beladiri. Sebagai orang tua, saya dan suami yang kebetulan menggeluti beberapa macam beladiri tidak terlalu kawatir Khay akan mengenal dan bahkan berlatih beladiri apapun yang dipilihnya. Bahkan kami kadang mengarahkannya untuk latihan yang benar dan mengenalkan berbagai jenis gerakan dalam berbagai bela diri. Hal ini bisa menjadi penyaluran energi dan keingintahuan Khay yang luar biasa. Dari pada sembunyi sembunyi dan jadi salah kenapa tidak sekalian mengenal dan positif.

    Bagi saya sendiri, Bela diri bukan hanya “bag bug bag bug” jotos sana jotos sini, tendang sana tendang sini. Setiap mempelajari ilmu beladiri, saya lebih suka konsentrasi pada filosofi dan pengobatan dari pada olah ragawinya. Karena disinilah inti dari setiap gerakan di dalamnya. Jadi beladiri bukan berintikan pada kekerasan. Selain itu, saat belajar beladiri kita melatih tingkat kewaspadaan, kemampuan menganalisa situasi dan menyusun strategi saat keadaan tidak menguntungkan.

    Dalam sabdanya, Rasulullah memerintahkan: “Ajarilah anak-anakmu berenang, memanah dan menunggang kuda”. (H.R bukhari muslim). Tiga hal yang diperintahkan itu adalah pelajaran ketangkasan fisik. Jadi bukan cuma aspek kognitif yang perlu diasah dari anak. Di era sekarang ini, tentu saja bukan memanah lagi yang menjadi ketrampilan survival tapi bagaimana membela diri yang baik bisa menjadi acuan pengganti.

    Menurut Jerry Wykoff, dan Barbara C Unel dalam buku Teachable Virtues: Practical Ways to Pass on Lessons of Virtue and Character to Your Children (Perigee, 1995) dan Dorothy Law dalam Children Learn What They Live dikatakan bahwa anak anak belajar tentang hidup dan bagaimana menjalaninya sejak dini. Anak siatas usia empat tahun perlu diajarkan mengenal dan mempunyai ketrampilan sendiri untuk menghadapi bahaya yang disebut knowledge of sense of awareness. Meski kita tak mengharapkan si kecil menghadapi keadaan bahaya, tapi penanaman sikap waspada bisa membantunya merasakan hal-hal yang perlu diwaspadai atau mengundang bahaya.

    Diatas empat tahun, mereka harus mulai melatih “kekuatan” dan kemampuan untuk bertahan  dan tahu akan bahaya. Mereka harus memiliki kemampuan dan keahlian untuk menghadapi ketidak nyamanan, gangguan, ancaman serta bahaya. Anak anak harus melatih tingkat peduli pada lingkungan serta kewaspadaan sejak dini. Meskipun sebagai orang tua, kita tidak pernah berharap anak anak benar benar akan menghadapinya. Namun dengan latihan seperti ini, maka anak anak akan memiliki kesiapan dan bisa menghindari situasi tersebut. Dari sini bisa dikatakan bahwa anak beladiri sejak usia 5 tahun tidak masalah. Justru anak akan mendapatkan banyak manfaat dari kegiatannya itu. Tidak usah cemas ia bakal cedera atau jadi sok jagoan. Justru dari sini ia belajar disiplin dan patuh. Perkembangan motoriknya pun makin baik.  Selagi masih kecil dalam masih mudah dibentuk, rasa tanggung jawab membuat kita mengarahkan mereka pada jalan kebaikan.

    Beladiri sebagai Olah Raga Ketahanan Fisik dan Mental

    Memang, beladiri termasuk jenis olahraga pertarungan yang seringkali melibatkan kontak fisik dengan orang lain yang dipandang menimbulkan ancaman, lalu menyerang. Namun di balik tonjokan dan tendangannya, beladiri juga mengandung disiplin, patuh, dan menonjolkan sifat kependekaran yang mengutamakan moral. Selain filosofinya,segi moral dan disiplin juga diajarkan. Dari menunggu giliran untuk praktek tonjokan/tendangan, anak belajar untuk sabar dan disiplin. Sambil diajarkan gerakan-gerakan beladiri, anak juga dilatih untuk patuh mengikuti semua petunjuk dan sabar. Perlu adanya pendampingan dan kebijakan pelatih tentu saja untuk menunjukan pada anak bahwa beladiri bukan menyerang, memamerkan kepandaian menendang dan meninju tapi mempertahankan diri, Sebaiknya, beladiri untuk anak ditekankan lebih pada unsur olahraganya, bukan beladirinya. Bukan pada intensitas dan kekuatan dari pukulan/tendangan tetapi lebi pada melihat posisi tubuh yang benar dan baik. Hal ini juga bisa membantu pembentukan postur tubuh yang baik pada anak dan membangun percaya dirinya.

    Sebagai anak yang memiliki postur tubuh kecil, sejak awal sekolah maupun di lingkungan rumah, Khay tidak lepas dari bully teman temannya. Meskipun kawatir, saat melihat kejadian seperti ini, sebagai ibu saya cenderung hanya mengawasi dari jauh. Sangat jarang saya turun tangan membantu Khay menghadapi kejadian semacam ini. Menurut saya, dalam dunia yang lebih luas lagi, anak saya mau tidak mau harus berhadapan dengan berbagai “penindasan”. Inilah saatnya bagi Khay untuk melatih kemampuannya bertahan dan membela diri.

    Seorang anak yang jago bela diri tentu saja akan aman terhindar dari penindasan anak seusianya. Tidak dapat dipungkiri kalau di dunia anak, khususnya anak laki-laki, menjadi jagoan adalah sebuah nilai yang mereka pandang hebat. Tak jarang untuk menunjukkan kejagoannya, seorang anak melakukan bullying atau penindasan pada anak lain yang lebih lemah. Seorang anak yang mempunyai kemampuan bela diri tentu akan segan dibully oleh anak lain.Tentu saja, semua ini harus dibarengi dengan pendampingan dan pemahaman akan filosofi beladiri itu sendiri, sebagai alat membela diri, bukan menindas dan melakukan bully.

    Anak harus menghadapi segala sesuatu dengan segenap kemampuannya, berani berkata jujur dan benar, bertindak benar, berani berinisiatif, berani menolong orang, berani mempertahankan haknya, dan sebagainya. Berlatih beladiri bukan saja melatih jurus-jurus tetapi juga mentalnya. Sebelum atau setelah latihan, para pelatih/orang tua harus mengajak anak berbincang mengenai apa yang harus dilakukan di luar tempat latihan, menanamkan dalam otak dan jiwa mereka untuk berlaku benar sebagai wujud dari sikap ksatria

    Pada dasarnya anak memiliki energi negatif. Mungkin karena ia menyimpan kekesalan, kemarahan, kekecewaan, dan lainnya. Energi negatif ini perlu penyaluran yang tepat. Nah, berlatih bela diri adalah salah satu cara mengeluarkan energi negatifnya dengan cara positif. Ia bisa memukul bantalan karet, berguling di atas matras, melompat, berteriak, berlari, dan lainnya. Jika emosi negatifnya tersalurkan dengan baik, maka secara emosi anak akan merasa lebih nyaman dan emosinya pun bisa lebih stabil.

    Secara fisik, tentu saja sebagai olahraga, beladiri  akan membawa kesehatan bagi tubuh. Seorang anak akan terbantu proses pertumbuhannya dengan kondisi fisik yang bugar dan sehat. Beladiri sangat bermanfaat bagi perkembangan motorik anak. Latihan tendangan, misal, bisa memperkuat otot tungkai. Bukankah si kecil di usianya ini amat suka menendang-nendang dan melompat seperti yang dilakukan tokoh-tokoh idolanya di film-film?  Dengan mengikuti latihan beladiri, anak belajar teknik menendang dan melompat yang benar, hingga kemungkinan ia cedera akibat meniru gerakan-gerakan si tokoh dapat diminimalisir.

    Gerakan memukul, menendang, merunduk, melompat, menghindar, berputar, berlatih keseimbangan, dan lainnya kerap diterapkan saat berlatih bela diri. Belum lagi dengan gerakan-gerakan pemanasan atau gerakan untuk menguatkan otot-otot, seperti berlari, sit up, push up, berjalan jongkok, dan lainnya. Semua gerakan tersebut melatih motorik anak menjadi lebih kuat, cekatan, cepat dan tangkas.

    Tubuh yang secara teratur diajak berolahraga secara otomatis akan meningkatkan kebugarannya, karena otot-otot terlatih untuk bergerak, tidak kaku, dan tidak mudah keseleo atau terkilir. Dengan begitu, sistem metabolisme tubuhpun bekerja lebih baik yang membuat daya tahan tubuh meningkat, sehingga anak tidak mudah sakit. Jadi, tubuhnya akan kembali sehat.

    Bela diri bukan sekedar latihan rutin begitu saja. Tapi dikenal peningkatan jenjang. Biasanya dikenal pewarnaan pada sabuk yang dikenakan pada baju latihan atau penamaan kedudukan. Peningkatan jenjang ini adalah sebuah prestasi sendiri yang membawa kepuasan pada anak. Selain itu, anak juga bisa mengikuti even-even perlombaan. Dan ini bisa memacunya untuk berprestasi pada hal yang positif.

    Mengajarkan  Disiplin dan Kewaspadaan Melalui Beladiri

    Menurut John Locke (dalam Gunarsa, 1986) anak adalah pribadi yang masih bersih dan peka terhadap rangsangan-rangsangan yang berasal dari lingkungan. Latihan beladiri mengajarkan banyak kedisiplinan. Peraturan yang melekat pada saat latihan seperti harus datang tepat waktu, membawa baju latihan, serius dan konsentrasi, dan sebagainya adalah pengajaran yang baik untuk anak. Tersedia hukuman bila anak melanggar. Bahkan pada setiap latihan beladiri juga ada sumpah atau janji yang poinnya adalah berbuat kebaikan. Seperti misalnya ikrar yang diucapkan sebelum atau setelah latihan.

    Setiap olahraga bela diri memiliki aturan masing-masing. Salah satunya adalah anak harus disiplin. Ia harus datang tepat waktu, mengikuti instruksi pelatih, harus memakai seragam, tidak boleh bermain-main, harus bekerja sama dengan siswa, saling menghormati, tidak boleh menggunakan kemampuan dengan sembarangan, menolong sesama, dan sebagainya. Gerakan-gerakan pada latihan beladiri itu melatih ketangkasan pada anak. Reflek saat menangkis serangan lawan, kuat menerima pukulan di badan, gesit berkelebat dalam pertarungan, itu semua akan didapatnya pada latihan yang disiplin.

    Latihan seperti ini akan menguatkan serta meningkatkan kedisiplinan dan komitmen anak. Tak mustahil anak juga akan menerapkan disiplin dan komitmen pada hal lain, seperti mengerjakan tugas sekolah, belajar di rumah, datang tepat waktu ke sekolah, menghormati teman, dan lainnya. Anak diberi latihan-latihan yang bisa membantu pertumbuhan psikomotorik dan menunjang kesehatannya. Sambil berjalan pembentukan moral sedikit demi sedikit dilakukan melalui penanaman disiplin. Sifat kependekaran pelan-pelan ditumbuhkan seperti tak menyerang lebih dulu, berani mengakui kelemahan, dan sifat-sifat kependekaran lain yang menjunjung moral dan disiplin.

    Tentunya, dengan belajar beladiri, anak juga mengembangkan sense of awareness. Dia jadi punya sikap waspada terhadap lingkungan sekitar yang bisa mengancam. Mengacu pada literatur psikologi perilaku anak dari Jerry Wykoff, Barbara C. Unell dan Dorothy Law Nolte, anak-anak usia 4 tahun ke atas perlu dilatih untuk membentuk dan mengambangkan sense of awareness atau kewaspadaan pada lingkungan yang membahayakan.  Nah, pada olahraga beladiri, sense of awareness diajarkan lewat metode pelatihan sehari hari. Karena konsep musuh belum dikenal di usia dini, maka situasi bahaya itu digambarkan lewat  perumpamaan. Disinilah perlu kebijakan dari pelatih dan orang tua.

    Perlu diingat, kita harus hati hati, jangan sampai salah mengajarkan analisa bahaya pada anak. Kalau sampai salah, anak bisa berkembang jadi paranoid, memandang setiap orang dengan curiga. Jadi, pola pengajaran sense of awareness ini harus dilakukan dengan bijaksana, hati-hati, tidak berlebihan dan tidak menjadikan anak paranoid. Ancaman dalam kehidupan memang “besar”, tapi anak jangan ditakuti-takuti. Sikap waspada harus dikembangkan secara bijak. Beladiri bisa menjadi suatu bagian untuk menghadapi tantangan di dalam hidup, tapi kapan ilmunya harus dikeluarkan, harus secara bijak diajarkan. Ingat, pada usia dini, keselamatan anak menjadi tanggungan orang tua sepenuhnya. Artinya, sikap waspada bisa diajarkan, tapi keselamatan anak tetap menjadi tanggung jawab orang tua

    Penanaman Aspek Sosialisasi Dalam Beladiri

    Di tempat latihan bela diri anak akan bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang: ada pelatih, siswa lain, pengurus, bahkan mungkin orangtua dari teman. Dengan begitu interaksi anak jadi lebih terbuka sehingga ia bisa memanfaatkannya untuk meningkatkan kemampuan bersosialisasinya. Beberapa anak mungkin malu-malu, tugas kita lah membangun keberaniannya sehingga mampu bersosialisasi dengan baik.

    Kadang seorang anak tidak hanya menemukan teman seusianya di tempat latihan. Dia harus berinteraksi dengan anak yang lebih muda atau lebih tua yang mengenakan warna sabuk yang sama. Saat inilah anak belajar menghormati dan menghargai. Anak juga mendapatkan banyak teman yang tidak hanya teman sekolah atau teman lingkungan rumahnya. Ada banyak jaringan pertemanan real yang luas yang di dapatnya.

    Disinilah perlu kemampuan pelaih untuk mengambangkan teknik pembelajaran beladiri yang memperbanyak unsur bermain dan mengembangkan aspek sosialisasi anak. Dunia anak adalah dunia bermain. Kegiatan apa pun yang kita berikan kepadanya, sebaiknya tak meninggalkan pola bermain. Anak-anak berkumpul bersama teman sebaya lainnya dan harus bermain bergembira dengan kegiatannya.

    Teman Belajar dan Bukan Lawan Tanding

    Sebagai combat sport beladiri tentu tak lepas dari “pertarungan”, baik dalam latihan maupun dalam perlombaan. Namun konsep “musuh” tidak disarankan untuk dikenalkan kepada anak anak Anak jangan dikenalkan pada konsep musuh. “Siapa itu musuh dan wujudnya kayak apa, masih terlalu dini untuk dikenalkan pada anak usia dini.” Aspek utama pada anak usia dini adalah to grow, berkembang. Untuk membuat dia tumbuhdan berkembang,  harus ada rangsangan dari luar. Itu sebabnya pembelajaran beladiri pada anak usia dini hanya untuk olahraga dan pembentukan disiplin, bukan menekankan pada self defense-nya.

    Dengan pemahaman bahwa konsentrasi dan kombinasi lompatan yang bagus akan menghasilkan keberhasilan “menyelamatkan” diri dari suatu “serangan” yang membahayakan. Maka sparing partner sebaiknya tidk dikenalkan. Bagaimanapun, jika sudah menggunakan teman sebagai lawan tanding, berarti sudah mengarah pada unsur combatting daripada olahraganya. Bila anak sudah diajarkan bertarung melawan teman pada usia yang masih dini, maka secara tak sadar akan terbentuk konsep predator pada dirinya, yaitu mahluk yang suka menaklukkan temannya sendiri. Olahraga raga ini dinamakan beladiri, (self defense), bukan attacking others. Filosofi dasarnya adalah sifat kesatria yang melawan kalau diserang, bukan menyerang lebih dulu untuk menunjukkan kejagoannya. Bahkan sedapat mungkin menghindari perkelahian.

    OLYMPUS DIGITAL CAMERAMengajarkan Beladiri Dengan Konsep Bermain

    Bermain dalam tatanan pembelajaran dapat digambarkan sebagai suatu rentang rangkaian kesatuan yang berujung pada bermain bebas, bermain dengan bimbingan dan berakhir pada bermain yang diarahkan. Menurut Dr. Mary Go Setiawani dalam bukunya “Menerobos Dunia Anak” (Yayasan Kalam Hidup Bandung 2000) bermain memiliki beberapa fungsi antara lain:

    1. Melatih fisik: Bermain merupakan latihan olahraga yang terbaik bagi tubuh. Bermain dapat membina kemampuan anak dalam berolahraga, kecerdasan, dan ketangkasan otak;
    2. Belajar hidup bersama/berkelompok: Bermain adalah kesempatan yang baik bagi anak untuk terjun ke dalam kelompok dan belajar menyesuaikan diri dalam kehidupan yang harmonis di masyarakat;
    3. Menggali potensi diri sendiri: Dengan bermain, anak diberi kesempatan untuk menyelesaikan kesulitan dengan kemampuan dirinya sendiri;
    4. Mentaati peraturan: Orang dewasa harus membantu anak bersikap sportif dalam bermain dan membimbing mereka untuk menaati peraturan.

    Agar fungsi bermain dapat berjalan sebagaimana mestinya maka dalam memilih jenis permainan perlu memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut

    1. Beri permainan yang dapat mengembangkan fisik;
    2. Perlu ada keseimbangan antara permainan yang bersifat tenang dan yang banyak bergerak dalam ruangan atau di luar ruangan;
    3. Berikan macam-macam permainan untuk memusatkan perhatian mereka;
    4. Sediakan permainan atau kegiatan yang bertujuan memberikan pengalaman belajar bagi mereka;
    5. Pilihlah permainan yang sesuai dengan usia mereka;
    6. Persiapkan seorang atau orang dewasa untuk memimpin mereka dalam bermain atau berekreasi;
    7. Berikan kesempatan untuk menggunakan daya imaginasi dan kreativitas mereka.

    Aktivitas bermain tanpa disadari merupakan bagian dari gerak dasar beladiri seperti menendang, memukul, mengelak, menghindar, atau berlari. Dasar beladiripun pada dasarnya sudah dimiliki seseorang sejak lahir seperti bayi yang biasa menendangkan kaki atau memukul-mukulkan tangannya. Dari beberapa teknik dasar dalam beladiri, tidak semuanya bisa disampaikan atau cocok untuk anak usia dini, pelatih/orang tua harus pandai-pandai dalam memilih atau menentukan teknik dan gerakan yang sesuai. Dalam menyampaikan teknik dasar beladiri, juga harus tetap mengandung unsur bermain dan mengembangkan aspek sosialisasi termasuk dalam menggunakan bahasa/istilah yang digunakan bisa diubah agar tidak terkesan keras/kasar.

    Model pembelajaran bermain pencak silat harus dikemas sedemikian rupa agar tidak menimbulkan kesan kekerasan atau permusuhan tetapi dibuat agar timbul rasa senang pada anak dan juga harus memperhatikan faktor keselamatan anak. Dalam menentukan jenis permainan harus memperhatikan prinsip memilih jenis permainan dan juga memperhatikan prinsip-prinsip bermain.

    Dalam mengajarkan beladiri kapada anak usia dini, baik pelatih maupun orang tua harus memiliki model pembelajaran/pelatihan tepat yang arahnya lebih pada pembentukan kesehatan dan bermanfaat bagi perkembangan psikomotorik anak. Model pembelajaran bermain beladiri yang tepat dapat menciptakan suasana senang dan ceria untuk anak sehingga tanpa disadari anak telah menerima pembelajaran/pelatihan beladiri mekipun dalam bentuk permainan. Tentusaja disertai dengan pendampingan dan penanaman nilai filosofi yang terus menerus pada pemikiran dan jiwa si anak.

    Sebagai saran tambahan, untuk anak usia dini, pilihlah jenis olahraga beladiri yang tak menggunakan alat tapi lebih mengandalkan gerakan seperti lompatan dan tendangan. Ketauhilah minat anak terlebih dahulu. Jangan memaksakan anak untuk belajar beladiri ataupu memilih jenis beladiri tertentu.

    Selain itu, pelatihnya juga harus tahu perkembangan fisik dan psikologi anak, maupun sturuktur pertumbuhan anak.  Anak dengan postur tubuh apa pun dapat mengikuti olahraga beladiri. Namun bila si kecil punya penyakit tertentu semisal asma atau jantung, beritahu instrukturnya agar porsi latihan atau gerakan-gerakannya tak membahayakan si kecil.

    Pelatih harus memiliki pengetahuan tentang pertumbuhan fisik anak, agar dapat mengetahui intensitas dan kekuatan tendangan serta lompatan pada anak, hingga tak mencederai tungkai maupun otot-otot kaki anak yang sedang tumbuh serta mencederai temannya. Selalu sediakan P3K dan pelatih memiliki pengetahuan tentang keadaan darurat seperti anak terjatuh. Untuk menghindari kemungkinan si kecil cedera saat mempraktekkan teknik tendangan/lompatan di rumah, sebaiknya orang tua hadir selama anak latihan. Dengan begitu, orang tua bisa melihat teknik yang benar yang diajarkan dan membetulkannya kala anak mempraktekkannya di rumah.

    Sistem memberikan hukuman pada anak dalam pelatihan beladiri juga sangat tidak dianjurkan. Anak memang harus disiplin dan patuh mengikuti instruksi, tapi bila anak melakukan kesalahan tak ada hukuman fisik apa pun yang diterapkan. Hal ini karena konsep utama pelatihan adalah bermain.Dalam pembelajaran beladiri pada anak sebaiknya tidak mengenal kenaikan tingkat untuk menghindari kecemburuan yang kerap terjadi pada anak-anak usia dini.

    Selamat berlatih anak anak.

  • Malioboro Pencak Festival

    Malioboro Pencak Festival

    Malioboro Pencak FestivalSelama 2 hari ini saya mengikuti malioboro pencak festival di Yogyakarta. Sebuah acara yang di kemas untuk memperkenalkan kembali pencak silat dan menunjukan keragaman pencak silat pada masyarakat serta menarik minat generasi muda untuk mau mempelajari silat.

    Acara dilaksanakan selama 2 hari terdiri dari workshop dan panggung pertunjukan dan  di hari ke-2 dilaksanakan kirab di sepanjang jalan Malioboro Yogyakarta. Di sepanjang jalan tersebut para pesilat manampilkan berbagai atraksi yang dapat disaksikan langsung oleh para pengunjung di sepanjang jalan tersebut dengan puncak atraksi dilakukan tepat di km 0.

    Bila anda menyaksikannya anda akan melihat keanekaragaman silat yang ada disana. Dari yang halus bagaikan sebuah tarian hingga yang menggunakan teknik bantingan yang agresif pun ada. Sebagian kecil saja dari dari keragaman silat di tampilkan disana, karena jumlah aliran silat yang ada jumlahnya sangat banyak sekali.

    Diluar kegiatan resmi, para pesilat melakukan silahturahmi diantara mereka sendiri. Saling bertemu kangen, saling berkenalan dan tak lupa saling berbagi keilmuan mereka.

    Sebuah acara yang pasti tak akan terlupakan. Mudah-mudahan tahun depan dapat dilaksanakan lagi.

    Terimakasih buat panitia yang sudah berjuang mati-matian untuk mewujudkan acara ini walau tak ada imbalan untuk mereka.

     

  • Jadi Warga Gerak Gulung Budi Daya ti Padjadjaran

    Jadi Warga Gerak Gulung Budi Daya ti Padjadjaran

    Hari ini saya resmi menjadi warga gerak gulung budi daya, salah satu silat tua yang masih memegang paham tradisional.
    Jurusnya sangat sederhana, tapi rumit dalam keserhanaannya. Itu yang membuat saya tertarik mempelajarinya.
    Dalam proses menjadi warga, saya melewati upacara talek, berupa syukuran potong tumpeng setelah melakukan pengajian, doa bersama dan pemberian wejangan.
    Bagi saya, resmi menjadi warga artinya menerima amanat untuk menjalankan latihan dan menjalankan apa yang di wejangkan.

    Mudah2xan saya bisa memegang amanah untuk mempelajarinya. Aamiin.

    Terima kasih untuk kang Awang yang mau menerima saya sebagai warga dan mengajarkan ilmunya, terimakasih buat om Duyung yang sudah memperkenalkan kami.

    Pendapat saya setelah lebih banyak mengenal silat ini adalah Gerak Gulung adalah silat yang rumit dalam kesederhanaannya. Begitu banyak rahasia tersimpan dalam gerakannya yang sederhana dan irit gerakan itu.

     

    GERAK GULUNG BUDI DAYA TI PADJAJARAN

    Sejarah Singkat

    Permainan silat Gerak Gulung Budi Daya Ti Padjajaran pada dasarnya adalah silat tradisional yang berasal dari kerajaan Padjajaran,Bogor. Awalnya bernama Gulung Maung yang diturunkan secara turun temurun melalui jalur keluarga, oleh sebab itu permainan ini tertutup untuk kalangan luas/masyarakat, yang pada akhirnya sampailah kepada Eyang Sarean . Hingga saat ini Eyang Sarean dianggap sebagai cikal bakal/pewaris awal dari permainan Gulung Maung tersebut yang dapat ditelusuri dengan bukti sejarah.

    Eyang Sarean sendiri tinggal di Sukaraja Bogor, karena permainan ini hanya diturunkan di lingkungan keluarga maka permainan ini tidak berkembang luas di masyarakat. Eyang Sarean mempunyai putera bernama Eyang Guru H, Abdullah (±1800–1916) yang juga tinggal di Sukaraja Bogor. Pada masa Eyang Guru ini barulah nama Gulung Maung diubah menjadi Gerak Gulung Budi Daya Ti Padjajaran (GGBD). Perubahan ini didasarkan pada sifat dari permainan Gulung Maung yang sangat buas, karena Gulung Maung mempunyai prinsip “Kembangna cilaka, buahna pati “.

    Dari hasil istikhoroh, Eyang Guru mendapat gambaran berupa sesosok bayi yang baru lahir, merangkak, melangkah dan berjalan. Berdasarkan gambaran tersebut Eyang Guru mengambil gerakan untuk jurus berdasarkan tantungan/adegan (berdiri) Sholat, inilah awal dari jurus Salancar. Mengapa disebut GGBD? Karena permainan ini masih mempunyai dasar sama dengan Gulung Maung, akan tetapi yang telah di budi dayakan, dalam artian permainan ini tidak lagi sebuas seperti Gulung Maung yang bersifat seperti Harimau, yang pada dasarnya harus membunuh mangsanya.

    Dengan adanya perubahan dari Gulung Maung menjadi GGBD diharapkan agar seseorang yang telah menguasai permainan ini tidak akan buas seperti Harimau, karena pada prinsipnya manusia lebih unggul/mulia dibandingkan Harimau, dan perlu diingat bahwa hampir semua permainan silat sifatnya untuk bela diri termasuk GGBD.

    Sesudah masa Eyang Guru permainan ini diwariskan kepada H. Ace Aom Kusumaningrat (1840–1943) yaitu keponakan dan juga menantu dari Eyang Guru, bertempat tinggal di Bojong Neros. H. Ace Aom Kusumaningrat adalah putera dari Uyut Syafei dan beliau adalah adik dari Eyang Guru. Permainan GGBD pada masa ini mulai sedikit terbuka untuk kalangan kerabat.

    Agar lebih jelas, GGBD sebenarnya mempunyai 2 permainan yaitu Gerak Leang, Gerak Sambut Pukul. Permainan ini dikuasai oleh tiga orang putera H. Ace Aom K. Putera pertama, H.Ahmad Kusumaningrat (1900–1985) tinggal di Jl. Ciranjang Kebayoran Jakarta, menguasai semua jenis permainan GGBD termasuk Gerak Leang, Gerak Sambut Pukul. Putera kedua, Muhammad Yusuf/Aki Cucu mengusai permainan Gerak Sambut Pukul bertempat tinggal di Bojong Neros, dan putera ketiga, Abdusshomad/Aki Shomad menguasai permainan Gerak Leang bertempat tinggal di Wanajaya , Pasir Kuda Bogor.

    Sebagai infromasi tambahan, istri H Ace Aom yang bernama Tresmen Megantara menguasai Jurus Budi Daya yang dikhususkan untuk perempuan, walaupun pada intinya tidak ada bedanya dengan Gerak Gulung, namun disesuaikan dengan kodratnya perempuan baik itu dari fisik, dimana gerakan dan power (tenaga), dan pada umumnya perempuan lebih lemah/halus dibandingkan laki-laki.

    Pada masa H. Ahmad Kusumaningrat permainan GGBD mulai disebarkan kepada kalangan orang-orang terdekat. Permainan GGBD mulai disebarkan di kalangan umum pada masa Horis Kusumaningrat (1930-1999), yaitu putera pertama dari H. Ahmad Kusumaningrat yang bertempat tinggal di Bojong Menteng Ciomas Bogor. Pada masa Horis Kusumaningrat, banyak pendekar dan praktisi beladiri dari dalam dan luar negeri sempat datang berguru ke beliau, walaupun sebelum mereka berguru, mereka jajal dulu sebelumnya. Sampai pada akhirnya mereka mengakui keunggulan dan kehebatan Horis Kusumaningrat. Bahkan menurut mereka, teknik beladiri silat Gerak Gulung sangat efektif dan berbahaya bagi lawan jika digunakan dalam suatu pertarungan. Beberapa pendekar dan praktisi beladiri dari dalam dan luar negeri yang sempat berguru dan mempelajari sedikit teknik beladiri GGBD. diantaranya adalah Eddie Jafri, Greg Alland, Dustin Etan/ David Tanner, Frank Metiello.

    Berdasarkan kesepakatan dari Bapak. Horis Kusumaningrat sebagai pewaris langsung dari permainan silat GGBD, diangkatlah beberapa orang Rakawira (yang telah mendapat ijin untuk melatih), beberapa orang diantaranya TB. Isnaeni bin Isro (Kang Iyus), Heri Bahtra (Mas Heri), M. Ridwan (Kang Awang), Firman Hamdani (Kang Dani). Januari tahun 2008 Kang Iyus wafat, sedangkan Mas Heri dan Dani karena kesibukannya untuk sementara ini tidak aktif. Saat ini yang masih aktif melatih adalah Kang Awang, berpusat di kediamaan beliau di Ciomas Bogor.

    Seperti pada umumnya permainan silat di tanah Sunda, awal dari silat GGBD adalah untuk Siar Islam, seiring dengan perkembangan jaman sekarang permainan ini lebih difokuskan kepada pembinaan ahlak/moral dengan pendekatan silahturahmi yang intinya adalah persaudaraan. Perlu juga diketahui di dalam silat GGBD tidak ada istilah Guru dan Murid yang ada hanyalah Kakak dan Adik. Oleh sebab itu apabila ingin menjadi warga GGBD harus di Taleq. Dan bagi siapa saja yang ingin menjadi warga GGBD silahkan datang ke kediaman Kang Awang di Ciomas Bogor.

    CIRI PERMAINAN GGBD

    Aspek permainan GGBD ada 4 yaitu:
    1. Gerak
    2. Rasa
    3. Gulung
    4. Budi Daya

    Apabila dilihat dari 4 aspek tersebut permainan GGBD mempunyai sifat gerakan :
    1. Gerak rasa
    2. Gerak yang lemah lembut
    3. Gerak yang keras
    4. Gerak yang buas

    JURUS GGBD
    • Pada dasarnya semua jurus yang ada dalam silat GGBD adalah jurus dasar
    • Inti dari silat GGBD harus menguasai jurus salancar karena salancar adalah induk dari semua jurus
    • Jurus permainan silat GGBD dibagi menjadi 3 ( tiga ) ditambah dengan faham dan rantean

    JURUS adalah Gerakan yang dibuat untuk mendukung dasar dari permainan
    • Gerak Pukul (8 Jurus)
    • Gerak Gulung (8 Jurus)
    • Lalangkahan (23 Langkah)

    FAHAM adalah gerakan yang sifatnya baku (22 Faham)
    RANTEAN adalah merangkaikan jurus, faham dan nafas menjadi satu

    Silsilah bisa dilihat di
    http://puragabaya.multiply.com/photo…s_Gerak_Gulung

    Oleh : Yudhy Haryantho

    Sumber:
    http://puragabaya.multiply.com/photo…s_Gerak_Gulung
    http://sahabatsilat.com/forum/index.php?topic=52.0

  • Nunchaku dan Kutukan Pohon Kuping Gajah

    “Darleng, ambilin nunchaku ayah dong ? Pengen latihan nih”, kataku sore itu di hari sabtu sore sambil berdiri di depan rumah.

    Maka sang darleng pun beranjak kedalam mengambilkan nunchaku karet buatan Tokaido (tolong dibacanya lengkap ya, jangan 3 huruf depan doang) dan menyerahkannya.

    Dimulailah latihan kecil di halaman depan rumah yang sempit dengan sedikit takut-takut kalau-kalau putarannya menyambar segala benda di sekeliling.

    Sempat terpikir mau latihan dilapangan basket komplek biar keren keliatan tetangga. Tapi ah malu.. takut makin banyak penggemar kan repot.

    Sementara si ganteng lagi memutar-mutar nunchaku, the darleng dan pembantu serta si bayi lagi asik ngerubutin rambutan yang baru saja di panen dari pohon di depan rumah.

    Oh iya.. sebelumnya saya udah berlatih ilmu tongkat sakti dengan menjadikan rambutan sebagai sasaran tusukan. Dengan tongkat panjang di tusuk-tusukan agar buahnya berjatuhan. Tentu saja ngak ada yang jatuh. Orang dahannya lentur gitu. Yang ada malah muter-muter doang itu buah ditambah tangan makin lama makin pegal. Ah tapi kan gaya. hehehe

    Karena gagal juga, sambil berdiri ditengah jalan, saya akhirnya memutuskan mengganti tusukan menjadi sabetan. Dan berhamburanlah rambutan ke bawah, entah terlempar kemana karena jelas jatuhnya jadi ngak terarah. Emang jurus perontok rambutan ini belum juga bisa di sempurnakan walaupun udah dilatih bertahun-tahun. Tapi yaa apa daya. Pembantu dan the darleng pun harus sibuk kian kemari untuk mengumpulkan rambutan. Tapi yaa semua bisa terbayar oleh nikmatnya rambutan manis yang sudah terkenal ke seantero tetangga yang menunggu jatah panen.

    Sementara asik dengan latihan jurus perontok rambutan, seorang tamu dari tetangga melintas dengan mobilnya sambil membuka kaca. Cewek looo yang nyupir… Sambil tersenyum manis dia bilang, “Permisi pak yaa…” dan saya jawab, “Oh silahkan bu. Maaf  menghalangi jalan”.

    Sebetulnya saya masih meneruskan, “Jadi nomor teleponnya berapa bu”. Eh dia udah nutup jendela. Sementara yang denger cuman the darleng dan pembantu yang langsung pada ngakak.

    “Looo kok pada ngakak sihhh”, kata saya.

    “Paraaahhhh !!!!!! Cowok sama aja”, kata pembantu saya.

    “Lah iya dong cowok sama, tapi beda kualitas gentengnya. Kalo cowok beda-beda malah kamu yang susah ngebedainnya entar dan jadi banyak sebutan buat cowok”, kata saya lagi.

    Saya jadi mikir, gimana yaa kalo cowok beda-beda ? Apa mungkin. Ada yang kotak, segi banyak gitu. Yaaa ngak tau lah… namanya juga cuman mikir.

    Yak kembali ke nunchaku.

    Asik dengan putaran kiri kanan sambil berdiri disamping pohon kuping gajah kesayangan the darleng.

    Eh pohon itu malah nyamperin sehingga daunnya kesamber pas nunchakunya lepas dari pegangan gara-gara gerakan berputar yang asik dan dasyat tak bisa dibendung.

    Sang pohon pun daunnya sompal. Eh tapi pohon ini kan emang daun semua ?

    Jadi saya pun menyalahkan pohon dan yang menghampiri nunchaku-ku dan kucing yang kebetulan lewat sehingga terjadilah kecelakaan dimana daun itu tersambar dan somplak.

    Sudah tentu somplakannya segera ku sembunyikan di bawah pot agar jejak kejadiannya semakin sulit di deteksi sambil menggunakan sarung kaki dengan gaya cubitan monyet untuk menyembunyikannya serta meyakinkan tidak adanya sidik jari kaki disitu disana.

    Kemudian dengan wajah polos mulai kembali berlatih memutar nunchaku.

    Eh tapi ternyata si pembantu ngeliat dan di laporinlah orang ganteng ini ke the darleng.

    Dasar tukang ngadu. Dan akhirnya orang ganteng ini di omel-omelin oleh the darleng.

    “Darleng, ini semua kesalahan terjadi karena kucing. Ketika sedang berlatih, kucingnya lewat dan kesamber nunchaku, lalu dia terlempar ke pohon kuping gajah itu. Nah karena dia kesel, dia ngamuk terus nyakar2x pohon kesayangan the darleng. Gitu ceritanya”, kataku jelas-jelas ngebohong.

    “Awas yaa kalo rusak lagi”, kata the darleng.

    “Baiklah”, kataku yang kembali memutar nunchaku sementara the darleng beranjak kembali ke teras rumah untuk kembali melatih jurus pisau pengupas rambutannya. Setibanya di teras, nunchaku yang kuputar terlempar dan terjatuh kesebuah pohon hingga tercabut dari akarnya.

    “Hayooo ini sih gara2x apa lagi yaaa”, kata the darling.

    “Hehehehe”, aku ketawa nyari kisah.

    Lalu besok paginya aku dibuatkan sepiring nasi goreng oleh the darling sebelum pergi latihan ke monas. Tak lama sehabis makan nasi goreng perutku mules-mules dan berakhir dengan bolak balik harus buang air.

    Waduh… ini kutukan Pohon Kuping Gajah atau balas dendam the darleng ???

    Ah tapi ngak mungkinlah the darleng ngeracunin gua. The darleng kan baek kayak bebek. Jadi mungkin ini kutukan pohon kuping gajah hiiiiiiii.

    Demikianlah kisah Kutukan Pohon Kuping Gajah yang menyebabkan hari ini, saya yang ganteng ini, ngak latihan ke monas.

    *hick*

  • [Silat] Berlatih 1 Jurus Dulu

    Begitulah cara saya melatih dan berlatih, “Belajar dan pahami 1 jurus dulu”.

    Memang sih pasti akan sangat membosankan mengulang terus menerus jurus yang sama. Disalah satu tempat saya melatih dulu, saya melatihkan hanya 1 jurus selama 2 tahun latihan.

    Mengulang-ulang jurus yang sama terus menerus akan memberikan memory kepada otot kita atas gerakan tersebut. Disamping itu mereka yang berlatih bisa melatih pecah jurus dari 1 jurus itu.

    Cara latihan seperti ini mungkin cukup efektif di aliran saya yang kebetulan memiliki jurus yang sangat sedikit, lugas dan gamblang sehingga latihan dasar selama 2 tahun akan memberikan dasar yang lumayan untuk bisa memahami penggunaannya, memahami pemecahannya dan bisa menghayati setiap unsur yang ada didalamnya.

    Semoga catatan kecil ini bisa mengingatkan diri saya sendiri

  • [Silat] Jurus dasar sebagai jurus andalan

    Itu pendapat saya. Boleh dibantah, boleh diterima, boleh di ikuti, boleh juga di benci.

    Dulu seorang kawan yang juga pesilat dari salah satu aliran silat yang berkembang di lembang, menyanggah habis tentang hal ini ketika dia melihat saya selalu mengulang 5 jurus silat aliran saya yang saya ulang terus menerus setiap kali berlatih.

    Sementara di tempat latihan aikido, saya mengulang-ulang 3 teknik saja. Terus menerus dari mulai dia berkenalan dengan dia hingga dia menyandang sabuk biru. Dan itu berlangsung bertahun-tahun.

    Waktu dia tanya alasannya, saya bilang. Karena jurus ini adalah jurus andalan.

    Andalan ? Jurus-jurus yang seluruhnya jurus dasar itu ? YA !!!!

    Karena tanpa jurus dasar tidak akan ada jurus lanjutan.

    Salah seorang yang mempelajari jurus aliran saya ada yang selama ini, sejak pertama berlatih hingga hari ini hanya mempelajari 1 jurus dasar yang pertama saja, yaitu kipas suliwa yang telah dilatihnya selama 15 tahun lebih.

    Dan hasilnya adalah seluruh refleksnya bergerak sesuai dengan jurus tersebut. Kecepatannya juga luar biasa. Karena hanya satu itu saja yang terus menerus diingatnya.

    Yang diperlukan dalam latihan jurus adalah penjiwaan, menjadikannya memory otot, sehingga tanpa berpikir tubuh kita akan bereaksi sesuai dengan situasi tanpa banyak berpikir. Bahkan seringkali bergerak dulu baru terpikir.

    Tapi yang terpenting dari itu semua adalah berlatihlah dengan gembira agar latihan menjadi menyenangkan.