Author: shinta

  • Konsep KeTuhanan ala Khay di usia 6 tahun

    Hari ini, saat ngedate bersama Khay (anak saya yang berusia 6 tahun), ditengah kesibukannya menikmati spagheti dia bercerita tetang kegiatan dan teman temannya hari ini disekolah. Sampailah pada obrolan tentang Allah.
    “Bunda hari ini aku diteriakin rame rame sama beberapa temenku, A B C dan D. Mereka bilang aku dosa. Mereka bilang Kita harus takut pada Allah”
    “Menurut Khay, kita bagaimana?”
    “Kita nggak perlu takut pada Allah. Allah kan bukan hantu, bukan anjing yang suka menggigit atau banteng yang suka menyeruduk (hemm inilah konsep menakutkan ala khay rupanya). Kita kan harus mencintai Allah ya bunda. Kita melakukan sholat, dan sembahyang karena kita mencintai Allah kan bunda, bukan karena takut dimarahi Allah. Allah kan tidak pernah marah. katanya Allah itu selalu menyayangi kita.”

    Setelah beberapa bulan yang lalu dia sempat menanyakan
    “kalau Allah mengerti semua bahasa, kenapa kita tidak bilang dan cerita saja seperti aku cerita sama bunda? kenapa harus sholat? kenapa harus dengan bahasa Arab?

    “Kenapa Allah menciptakan orang Jahat ya bunda? kenapa tidak Allah buat semua orang itu baik. eh tapi kalau semua baik nanti tidak berbeda beda… padahal kan berbeda itu baik…”

    dan berbagai pernyataan serta opini yang selalu diakhiri dengan BUNDA TERSENYUM BANGGA

  • Berpihak

    Ketika Media berpihak pada politik, dan awak media tidak lagi dapat membedakan antara profesional sebagai jurnalis yang harus berimbang dan berdasar pada kode etik dengan keberpihakan/kepentingan pribadi maka rakyatpun sulit membedakan mada yang laporan kejadian dan mana yang cerita … kritikus tidak mengkritik karena tau apa yang lebih baik dan memberikan kebaikan tapi karena rasa …. dan sejarah tidak pernah ditulis berdasarkan apa yang benar benar terjadi tetapi apa yang ingin ditulis oleh si pemenang

  • Harga Mati NKRI dan Pancasila, Prinsip LUBER (LANGSUNG UMUM BEBAS RAHASIA) masih berlaku

    10338750_10204014429899755_4883086584819346443_n copy Terus terang saya tidak menonton debat CAPRES di televisi. Mungkin salah saya juga, karena saya sudah skeptic dengan debat di televisi yang dikendalikan oleh i sutradarasemacam ini, akan menjadi sebuah tontonan belaka. Belum lagi iklan yang lalu lalang yang seandainya pun debat itu benar adanya, akan merusak konsentrasi dan  makna depat itu sendiri. Jika sudah begini, karena ini siaran langsung, bisa jadi kita akan kehilangan momen atau pernyataan penting yang “tidak sengaja” tertutup oleh iklan. Andai ada debat langsung yang disaksikan umum tanpa jeda iklan dimana peraturan ketenangan dan keseriusan dibacakan didepan, mungkin saya akan mengusahakan melihatnya.

    Saya tidak mengikuti berita ini itu atau foto ini dukung itu itu dukung ini yang bersliweran di  dunia sosmed. Karena 80% dari berita dan gambar itu sudah lebay.  Ada yang foto artis A, gambar kaosnya diubah  mendukung B. Setelah itu saya melihat sebuah foto liputan konser  teman saya,  berubah menjadi foto C kampanye. Foto ini sudah di gabung dengan foto lain di tempat yang berbeda sama sekali . Belum lagi saat mendengar sebuah cerita bahwa dibalik semua kampanye ini katanya ada sekelompok orang yg sama yang meranang kampanye B dan C demi perusahaan. Nggak salah dong kalau itu menguntungkan. Tinggal bikin dua perusahaan berbeda, hire orang yang beda,namun otaknya sama J. Sayang satu prinsip Public Relation yang selama ini saya pegang “Tidak berbohong” dan Tidak menjatuhkan saingan dengan issue negative, kadang dilupakan.

    Bagaimanapun juga,  saya mencoba melihat proses kampanye dua kubu ini sebagai bahan kuliah Marketing Komunikasi dan Teknis Publikasi yang ciamik. Peramuan berbagai teori dengan contohnya semua ada disini. Mau yang White campaign, dua kubu punya. Mau Frontal Black Campaign? Dua kubu bikin. Mau perencanaan marketing yang sangat detil dua kubu punya (dari bikin sebuah kejadian yang seolah tidak disengaja, kemudian membuat kritikan seolah dari lawan, lalu memunculkan pemberitaan yang seolah olah itu merupakan pembelaan atas serangan lawab sekaligus menarik simpati target tertentu misalnya). Semua ini diramu dalam sebuah ramuan ajaib kampanye,  yang kemudia ditelan mentah mentah oleh para pendukungnya bagaikan obat kuat yang membuat mereka merasa paling benar, paling hebat dan paling tahu. Meskipun seperti juga ramuan lainnya, ada efek samping yang seringkali tidak disebutkan.

    Alhasil berkat “ramuan ajaib” yang diminum kedua kubu ini, pertarungan muncul dan memanas. Upaya mendiskreditkan satu  capres melalui black campaign dan capres lain dengan kisah masa lalu membuat banyak pendukung yang saling menyerang dan menyalahkan.  Bahkan produk pers  tidak memenuhi persyaratan yang dibutuhkan sebagai sebuah produk pers yang didasari oleh etika media masa. Mungkin memang  sulit saat ini mengharapkan produk pers yang murni, karena merekapun terbit tidak berdasarkan Surat Ijin lembaga Pers namun cukup dengan surat ijin usaha atau perusahaan (yang notabene dengan profit). Hal hal yang semestinya menjadi rahasia negara demi kepentingan keamanan dan stabilitas negara dalam dan luar negeri pun mulai diacak acak dan diadu. Bahkan ada wacana untuk meninjau kembali pencalonan lawan.

    Jika melihat cara kampanye dan antusiasme akibat ramuan ajaib ini, seolah olah mereka baru puas setelah salah satu calon dijatuhkan dan mundur dari pencapresan. Padahal jika dikaji secara lebih luas seharusnya persaingan kampanye ini tidak boleh merugikan negara kan. Apalagi  sebenarnya secara peraturan, kedua kubu saling membutuhkan. Dalam undang undang di negara kita harus memiliki minimal 2 calon untuk diselenggarakan pemilu. Jika salah satu mundur maka alon lainpun akan gugur.  . Hanya satu Capres tentu bertentangan dengan Undang-Undang Pemilihan Umum dan pemilihan Presiden pasti akan ditunda dan penundaan ini bisa memberi peluang bagi munculnya kekacauan. Misalnya jika pencalonan Prabowo dianulir KPU maka pencapresan Jokowi harus diproses kembali. Jika sudah begini maka mungkin saja  akan muncul kekacauan  politik bisa terjadi, militer terpaksa turun tangan. KPU juga terpaksa mengumumkan penundaan Pilpres sampai masa yang akan ditentukan kemudian, bisa setelah berakhir masa jabatan Presiden.  Kemungkinan yang muncul selain kekosongan kekuasaan yang memungkinkan negara lain untuk masuk ke negara kita adalah MPR memberi perpanjangan masa jabatan  Presiden sebelumnya.  Vacum of Power atau kekosongan kekuasaan  terjadi anarchisme dan saling kudeta bahkan pihak asing menguasai negara kita, bagai rumah tanpa penghuni.

    Efek yang kedua, jikapun situasi ini terus berlangsung dan saling membuka borok lawan, terbayangkah nanti jika salah satu dari mereka menjadi presiden? Lalu borok borok atau isu isu negative itu dicatat oleh lawan negara dan dijadikan alat mendeskreditkan presiden kita? Trus bagaimana presiden dan negara kita bisa dihargai oleh negara kita  kalau kita sendiri tidak menghargainya?Padahal kadang menurut saya, kesalahan kesalahan capres tersebut juga nggak fatal fatal amat, manusiawi kok. Misalnya : Ketika Prabowo tidak tahu singkatan “TPID” kalo nggak salah dalam acara depat presiden. Trus ribut, banyak yang mencibor, mengolok olok, merendahkan dan sebagainya. Bahkan lama lama jadi fitnah. Padahal menurut saya manusiawi kok. Kalau kebetulan pak Jokowi tahu itu juga karena beliau mendapat penghargaan. Jadi bukan karena lebih tau satu singkatan trus pak Jokowi lebih pintar toh? Gimana kalau dibales pak Prabowo  dengan singkatan atau jargon militer yang tidak pernah digunakan diluar pasukan? (dalam konteks presiden sebagai panglima tertinggi militer di Indonesia) Trus pak Jokowi juga jadi bego? Wah kalau begitu semua bego dong (termasuk saya dan anda yang saya yakin tidak tahu semua singkatan yang ada di dunia ini). Sering lho mahasiswa komunikasi saya memberikan tidak hanya singkatan tapi juga ilmu baru tentang komunikasi keada saya.  Seorang professor dibidang Geologi tidak tahu nama satu batu yang dibawa mahasiwanya dari kampong, tentu tidak membuatnya harus dicopot gelar professor geologinya kan? Atau seorang habib yang tidak tahu sebuah hadist apa berarti dia tidak pantas menyandang gelar habibnya? Padahal saya pernah diberitahu oleh eyang saya kalau ilmu manusia itu hanya setitik air di samudra ilmu yang luas.

    Masalah kertas terselip di baju pak Jokowi (entah itu bagian dari renana marketing komunikasi atau bukan ya), misalnyapun itu catatan pengingat apa harus dikatakan saat berbicara di depan umum, apa yang salah? Bukankah itu hanya berarti bahwa pak Jokowi punya persiapan dan menghindari kesalahan ?  Bukankah itu hal yang baik? Toh dalam debat dan pidato tidak ada peraturan dilarang membawa catatan kan? Kalau ujian closebook, baru itu dibilang nyontek karena ada aturan jelasnya.  Itu kalau memang catatan pengingat Apa yang terselip di baju kita bisa apa saja kan?  Misalnya sebelum naik ke mimbar ada yang tiba tiba kasih kartu nama atau pengingat atau apapun, dank arena buru buru kita selipkan saja di saku. Manusiawi kan?

    Masalah Umrahnya pak Jokowi yang hanya pencitraan dan ihrom yang katanya terbalik. Pencintraan atau bukan, ibadah diterima atau tidak, itu bu10511225_249232521936706_5662418762072659906_nkan hak manusia utnuk menilainya. itu hak yang beribadah dan Allah. Kenapa jadi kita yang ributin? Wong yang haji serius aja bisa nggak diterima katanya. Nah untuk urusan ihrom, saya yang ilmu agamanya hanya seperti “setetes air di samudra ini” agak bingung. Namun saat bertanya pada seorang yang dianggap ahli (tanpa bawa bawa jokowi lho) jawabannya adalah “menurut fiqih islam dalam rukun haji / umroh ttg penggunaan kain ihrom di kiri adalah yg saat thawaf mengelilingi Kabah . Setelah itu boleh bebas diselempangkan sisi manapun juga atau dikerudungkan boleh . Nah kalau begitu kenapa jadi masalah? bisa saja saat itu Jokowi tidak sedang tawaf atau sudah tawaf dan ihromnya lepas slempangnya dan karena berdesak desakan trus buru buru slempangin. Toh banyak juga yang tidak berihrom disitu. 

     

    Kemudian masalah Kalpataru dan Adipura, semua mentertawakan Hatta dari nomor 1 yang “katanya tidak bisa membedakan anata kalpataru dan adipura. Benarkah? setelah baca banyak kiriman tentang debat capres (karena saya memilih untuk bikin rancangan buku berikutnya daripada nonton) saya sempat percaya dengan “kata teman teman” tersebut. Namun kemudian saya membaca sebuah berita di kompasiana.com dimana  katanya JAKARTAPOST saudaranya menyatakan mendukung capres no 2, saya mulai penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Lalu sayapun menonton rekaman debat tersebut dan saya setuju dengan rangkuman kompasiana yang kurang lebih seperti ini:

    Ada yang menarik saat segmen final debat capres 2014 yang baru saja usai digelar oleh KPU. Pada segmen ke-5 dalam arena tanya jawab, JK kembali kelirumengartikan rentetan pertanyaan yang diajukan oleh Hatta Rajasa:

    Pak Joko Widodo dan pak Jusuf kalla, kembali kepada lingkungan hidup. Kita ingin lingkungan bersih, sehat. Upaya kita dalam membangun udara lebih sehat, seberapa jauh pandangan pak Jokowi terhadap ini?

    Jokowi :

    Menurut saya kalpataru, penghargaan itu diberikan kepada perseorangan dan lembaga. Tetapi bukan hanya piala saja, seharusnya ada insentif, sehingga mereka merasa dihargai.

    Dengan adanya insentif dan anggaran, mereka akan benar-benar bekerja dengan lebih baik lagi, memperbaiki lahan tanam, memperbaiki pengairan dan pelembagaan di desa.

    Pada akhirnya tidak hanya satu dua tetapi semakin banyak yang bekerja untuk mendapatkan kalpataru untuk negara yang kita cintai ini.

    Hatta :

    Bentuk penghargaan apakah dalam piala atau insentif, itu bukanlah hal yang penting. Tetapi prinsipnya adalah penghargaan itu diberikan. Pertanyaannya mengapa DKI dan Solo tidak pernah dapat?

    Jusuf Kalla:

    Pertanyaan bapak bagus tetapi keliru, kota penghargaannya adipura bukan kalpataru, saya tidak perlu jawab.

    Kita perhatikan. Saat itu Hatta mengajukan pertanyaan yang sifatnya menjebak pada Jokowi mengenai pandangannya tentang LINGKUNGAN YANG BERSIH DAN SEHAT. Jokowi sebenarnya faham arah dari pertanyaan Hatta ini pasti ingin menyindir kegagalan Adipura waktu ia menjabat. Jokowi menjawab dengan elegan dan lugas, walau sedikit terpeleset dengan mengkaitkan maksud sindiran itu pada KALPATARU. Padahal jika dikembalikan pada pertanyaan Hatta tentu yang dimaksud Hatta sebenarnya soal ADIPURA yang tidak didapat oleh Jokowi selama memimpin di DKI atau Solo.

    Berdasarkan pandangan Jokowi tersebut, Hatta menanggapi bahwa yang penting bukanlah penghargaan dalam bentuk piala dan intensif, tetapi makna dari diterimanya penghargaan tersebut. lalu Hatta mempertanyakan, jika menurut Jokowi penghargaan itu cukup penting, mengapa DKI dan Solo tidak mendapatkannya?

    Jika hanya melihat sepotong antara saat pak Hatta bilang kalpataru dan jawaban pak JK memang sangat yakin jika orang kemudian mengira pak Hatta tidak tahu bedanya adipura dan kalpataru. Namun jika dilihat dari rangkaian pembicaraan  maka sebenarnya jokowilah yang ingin menghindari adipura dengan membelokkan masalah penghargaan lingkungan hidup (notabene yang dimaksud adipura)  ke kalpataru dan JK yang kemudian mengambil alih (sedikit emosi) menyalahkan Hatta yang hanya mengulang kata kata Jokowi.  Mungkin kurang konsentrasi karena baru saja sakit ya, jadi wajar.

    Dari presiden terdahulu sampai presiden  sekarang, hal yang pasti adalah over expectations. Baru sehari, seminggu atau sebulan  duduk di kursi kepresidennya, maunya semua masalah selesai. Menjadi presiden berarti harus tahu semua masalah rakyatnya plus masalah di seluruh dunia. Termasuk harus tahu pake baju apa kalau tiba tiba ketemu si fulan di jalan.  Baru sehari duduk di kursi presiden maunya semua yang diinginkan sudah disediakan oleh presiden. Presiden harus menyelesaikan semua masalah dengan cepat, harus ada di semua tempat tapi juga harus ikutan macet macetan karena nggak boleh lewat duluan (nyusahin rakyat kalau pake nyetop sana sini dan pake paswalpres). Presiden pake baju murah atau biasa biasa saja dibilang “Presiden kok kere, malu maluin rakyat” pake baju mahal “presiden kok bajunya mahal nggak inget rakyatnya”.  Bahkan baru jadi calon presiden aja sudah harus sakti mandraguna dan pandai sulap sihir.

    Buat saya, apapun alasannya membuka aib orang lain adalah tidak baik. Menyampaikan fakta  memang tipis batasannya dengan membuka aib orang ya. Sebuah fakta memang akurat dengan data data yang lengkap dan terbukti (bukan katanya atau copy paste) itu adalah informasi. Selain dari itu? Tingkah dan reaksi berlebihan dari pendukung dua pihak ini tidak lucu sama sekali. Kita punya masalah akan empati dan emosional behavior serius. Betapa mudahnya orang mentertawakan orang lain, hingga lupa, kalau dia juga tidak sempurna. Dan lupakan kalian, kita ditonton banyak orang. Anak2 kita, remaja2 kita, mereka menonton. Kalian mau jika mereka berpikir: “oh ternyata mentertawakan orang lain itu boleh.” “oh ternyata malah asyik dan seru.” Kita lupa bahwa yang kita hina dan jatuhkan itu nantinya akan menjadi pemimpin negara kita.  Mengkritik itu jauh lebih mudah daripada memperbaiki. Sebelum mengkritk sebaiknya anda tahu bagaimana baiknya dan berikan solusi.

    Kedua capres yang dihina hina dikorek korek kesalahannya itu adalah saudara kita sebangsa dan setanahair, yang sama dengan kita, tidak sempurna. Bedanya mereka memiliki kemauan untuk berbuat lebih bagi bangsa ini dengan perjuangan yang lebih untuk menjadi seperti mereka.  Nantinya, salah satu dari mereka akan menjadi kepala negara kita yang kita bebani dengan berbagai keinginan dan pengharapan kita.  Menghina mereka berarti menghina kepala kita sendiri . Jangan hanya marah saat negara lain menghina dan menginjak injak kepala kita namun disaat yang sama kita juga menghina kepala kita sendiri. Dan bagi saudaraku yang muslim, bukannya ada hadist yang melarang kita untuk saling menghina dan membuka aib saudara kita sesame muslim? (dua capres kita muslim lho) pilih

    Jadi tidak boleh punya jagoan? Boleh. Tapi kalau kata eyang saya Sakmadyo. Tidak perlu berlebihan.  Ada yang melemparkan issue langsung nyolot. Melihat celah menghina capres lawab langsung disambut dan ditambah tambah. Biar apa? Seru? Ramai? Dibilang hebat dan tau banyak? Waduhhhhh!!!! Bukankah tujuan awalnya hanya memilih calon yang terbaik? Bagaimana kalau biarkan semua pada porsi dan tugasnya. Simak,  saring telaah dan pilih. Bukannya prinsip pemilu masih sama; LUBER : Langung memilih di TPS, Umum dimana semua orang mendapatkan haknya menggunakan kesempatan memilih, Bebas memilih calon manapun tanpa paksaan dan RAHASIA. Apapun hasilnya dan siapapun presidennya nanti, semoga saat terpilih akan didukung sepenuhnya oleh rakyat Indonesia termasuk para politikus dan cendekiawan dadakan yang saat ini berseberangan, demi NKRI, demi bangsa kita, demi kita sendiri.  Mari berkarya dan melakukan yang terbaik, dimulai dari diri sendiri. Siapapun pilihannya silahkan diberikan tanggal 9 nanti dan setelah itu yang menang amanah yang kalah legowo iklas dalam SALAM 10 JARI dimana jari 1 dan jari 2 bersama 7 jari lainnya bersatu berjabat erat lalu bekerja untuk bangsa ini… selamat berdamai, selamat berpuasa dan salam 10 jari persaudaraan

    Catatan ini terinspirasi dari berbagai tulisan di media sosial dan blog banyak orang 🙂

  • Pengaruh Guru Pendidikan usia dini: Tidak Hanya di Kelas, Tapi Jauh Lebih Luas (Baik Dari Sisi Ruang Maupun Waktu)

    “Seorang guru mempengaruhi keabadian, ia tak pernah tahu kapan pengaruhnya berhenti.” – Henry Adams

    SEjanuari2012 (9)

    Saat mengajar teman teman yang selalu berhubungan dengan pendidikan dan perkembangan anak-anak, terutama anak-anak usia dini, saya selalu mengatakan bahwa saya lebih beruntung dari mereka. Saat mengajar dan saya memberikan informasi yang salah kepada mahasiswa saya, maka tanggung jawab saya lebih pada mereka. Paling banter saya dibilang dosen nggak bermutu oleh mahasiswa saya dan saya kehilangan prestise. Sedangkan teman teman pengajar usia dini, yang nota bene merupakan usia GOLDEN AGE, memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar dan lebih berat. Dimana saat mereka melakukan kesalahan, kemungkinan koreksi dari murid sangat kecil. Bahkan sebagian besar yang terjadi adalah murid akan mempercayai kesalahan ini sebagai sebuah kebenaran yang mendasari pemikiran dan pola tingkah laku seumur hidup.

    Itu jika berbicara tentang materi. Jika bicara tentang rasa percaya, saya juga lebih beruntung. Mahasiswa hanya mendengarkan pengajaran saya dan sering kali menanyakan ulang kebenaran informasi saya secara langsung maupun tidak. Sedangkan anak-anak selalu menganggap gurunya paling pintar, paling benar dan paling hebat, bahkan kadang dibanding orang tuanya sendiri. Banyak anak-anak yang lebih percaya dan lebih menurut pada pada gurunya dibanding orang tua. Alhasil Right or wrong  ajaran guru itulah yang benar yang harus diikuti.

    Jika di dalam kelas, mahasiswa hanya melihat apa yang saya ajarkan diatas papan tulis, LCD ataupun kertas. Sangat berbeda dengan pendidikan usia dini, dimana anak-anak banyak mendengar, melihat dan meraba lalu menyerap di otaknya yang bagaikan sponge, menumpuknya disana dan mendasari semua kehidupan dari apa yang dia kumpulkan. Pendidikan anak-anak di usia Golden age  bukan hanya tentang apa yang kita ajarkan melalui kata kata saat mengajar, tapi  lebih pada apa yang dilihat didengar, diraba/dipegang  dan dilakukan oleh dan bersama bu guru.  Jika saya mengupil, memaki dan memukul meja saat mengajar, tidak akan mempengaruhi pemikiran anak didik saya, Paling citra saya saja yang berubah. Berbeda jika hal yang sama diakukan oleh para pendidik di sekolah untuk anak usia dini. Anak didiknya akan dengan mudahnya meniru dan menjadikan kebiasaan buruk tersebut, karena dianggap hal itu baik adanya.Jika seorang guru PAUD menyindir  atau becanda tentang seseorang maka anak didiknya bisa menganggap itu sebagai julukan atau label yang dapat mereka gunakan dalam menilai orang tersebut.

    Sekolah (kelas) bagi mereka adalah tempat untuk belajar, berbagi, membentuk pondasi dan tumbuh. Apalagi untuk anak-anak yang ibu bapaknya sibuk berkarir hingga memilih menitipkan anaknya pada “guru” selama mereka bekerja. Walaupun tidak dipungkiri pengaruh terbesar tetap pada  lingkungan rumah dimana sebagian besar waktunya dihabiskan.

    Jika kita  mau berhenti sesaat untuk mengenang dan merenungkan saat-saat di sekolah bersama  guru-guru, saya yakin kita semua bisa menunjukkan setidaknya satu hal yang diambil dari ajaran, contoh dan tauladan guru kita, yang membuat perbedaan dalam hidup kita. Saya sendiri beruntung karena pernah memiliki seorang guru yang paling cantik (setidaknya itulah yang saya rasakan saat saya masih di taman kanak kanak) dengan rambut panjangnya, tangan yang lembut dan tutur kata yang runtut selalu tersenyum. Saya selalu mengingat beliau sebagai wanita yang selalu bisa membuat dunia saya kembali menjadi indah seburuk apapun keadaannya (dan memang bukan masa yang indah bagi saya). Beliau banyak mengajari saya tentang bermain sambil berkarya, menari, menyanyi serta selalu tersenyum. Alhasil, saya di Taman kanak kanak sampai 6 tahun. Saat sudah seharusnya masuk SD, saya hanya seminggu di bangku SD dan kembali ke taman kanak kanak bu Wati. Saat kecil cita cita sayapun menjadi guru TK dan menjadi ibu seperti bu Wati.

    Saat di sekolah dasar, hal yang paling berkesan bagi saya adalah Pak Sarwoko, kepala sekolah yang berpenampilan sangar. Meskipun sangar, Bapak kepala sekolah yang satu ini menjadi favorit saya. Beliau selalu tahu bagaimana membuat saya bersemangat untuk terus belajar dan belajar, membaca dan membaca, berkegiatan sebanyak mungkin, serta selalu menyelesaikan dengan sebaik mungkin, apa yang kita mulai. Meskipun sudah beberapa dasawarsa masa ini berlalu, kenangan, ajaran dan keindahan ini masih terus teringat. Sangat berbeda dengan memori SMP, SMA ataupun Kuliah yang hanya tersimpan beberapa saat dan hanya hal yang benar benar istimewaKesamaan kedua guru ini dalam kenangan saya adalah:

    1. Selalu berusaha dan pantang menyerah
    2. Selalu tersenyum dalam keadaan apapun
    3. Selalu berkreasi dan berkarya. Ikuti kegiatan apapaun yang memungkinkan dengan senang. To be creative, learn and fun
    4. Belajar dan sekolah itu menyenangkan
    5. Selalu menyelesaikan semampu kita sebaik mungkin sesuatu yang sudah kita mulai

    Saat mengenang semua ini saya bersyukur bertemu dan memiliki guru guru yang istimewa, yang melihat saya sebagai seorang anak  istimewa. Saya bersyukur mereka selalu sabar serta memberikan suri tauladan positif bagi saya. Saat berbincang dengan mereka lima atau enam tahun lalu, mereka bilang saya adalah anak yang penuh ide, lincah, banyak maunya, tidak bisa diam, bawel suka nanya dan berpontensi untuk berkembang.  Mereka bilang pertanyaan pertanyaan dan kemauan saya yang menggebu gebu waktu kecil sering membuat mereka jengkel juga. Namun kejengkelan ini ternyata tidak pernah saya sadari sampai sekarang dan merekapun tidak pernah memaksa saya berubah menjadi seperti anak-anak lainnya. Seingat saya mereka selalu sabar menjawab pertanyaan saya (dan beberapa jawaban ini ternyata masih menjadi dasar pengetahuan saya sampai saat ini) dan selalu tersenyum. Tidak ada labeling, shouting, pengucilan, pembedaan apalagi judging dari mereka. Dalam pandangan saya, hal yang sama yang sering dialami oleh anak-anak seperti saya dan Khay. Oh ya, Khay adalah anak saya, yang kurang lebih punya sifat yang sama dengan bundanya. Untuk itu saya sangat bersyukur dan berharap Khay pun memiliki guru guru dengan kualitas yang sama.

    Saya yakin sekali bahwa para guru yang memiliki pengaruh besar dalam hidup saya ini, sama sekali tidak pernah berpikir tentang besarnya pengaruh mereka. Sebagian besar para guru di TK dan SD tidak pernah mengira bahwa apa yang mereka katakan, lakukan dan ajarkan di lingkungan sekolah memiliki efek yang begitu besar.Karena sebagian besar hal hal yang berpengaruh pada kita adalah hal hal kecil yang tidak direncanakan. Sayangnya jika hal hal positif ini bisa memiliki pengaruh besar, hal hal negatifpun begitu juga. Jika dulu sebagian besar orang tua relatif masih memiliki waktu dengan anaknya, karena tuntutan jaman, saat ini orang tua lebh banyak mempercayakan pendidikan anak pada guru. Anak lebih banyak berinteraksi dengan lingkungan sekolah dibanding rumah. Itu berarti pengaruh guru menjadi lebih besar.

    Beberapa ahli psikologi mengatakan bahwa keberhasilan seorang murid di sekolah tergantung pada adanya hubungan yang erat, saling percaya dan saling menjaga Antara si murid dengan satu orang dewasa di sekolah tersebut (biasanya guru). Dengan hubungan seperti ini akan membangun rasa percaya diri, rasa diakui, rasa aman dan munculnya rasa ingin membuktikan bahwa org yang disayanginya itu benar saat percaya “dirinya bisa”. Anak juga perlu merasa bahwa ada seseorang di lingkungan itu (sekolah) yang mereka tahu dan tahu dia ada. Mereka perlu tahu ada seseorang yang menyayangi dirinya apa adanya tanpa harus berubah menjadi seperti yang lain dan akan menjaga mereka jika terjadi sesuatu.

    Namun secara logika pernyataan ini juga bisa berarti sebaliknya. Bahwa jika hubungan ini berubah menjadi buruk, si orang dewasa (guru) yang sudah “terlanjur” dipercaya dan harus dijaga perasaannya ini memiliki penilaian buruk dan ini berpengaruh pada cara sang guru menghadapi si anak, maka efeknyapun menjadi buruk. Saat seseorang memiliki stigma “anak nakal”, anak tidak mampu karena masih terlalu kecil”, “anak kurang ajar” anak bodoh” dan sebagainya, maka semua itu tanpa disadari akan muncul dalam sikap dan perkataan yang direkam dengan jelas oleh si anak, maupun teman temannya. Maka jangan heran jika kemudian teman teman si anak berpikir seperti “yang dipikirkan guru”. Akibatnya anakpun memndapat perlakuan yang berbedasesuai dengan labelingnya dan jika ini dibiarkan maka anak akan percaya bahwa dirinya seperti itu. Hal seperti ini sudah seringkali saya lihat di beberapa sekolah yang saya kunjungi. Bahkan anak-anak yang semula hanya “memiliki badan besar” (namun belum mampu mengontrol kekuatan dan gerakan), anak yang sangat aktif (belum masuk kategori hiperaktif sebenarnya), sangat pintar dan cepat belajar sesuatu (hingga sering merasa bosan karena harus menunggu temannya yang belum mengerti, pada akhirnya menjadi anak “bermasalah ataupun “berkebutuhan khusus” karena judging dari guru guru di sekolahnya dan berakibat pada salah penanganan. Tenyata sampai dia besar beberapa anak ini kadang masih harus berjuang melawan pemikirannya sendiri bahwa dirinya tidak bisa diam, didinya bodok, dirinya tidak bisa berlaku benar dan sebagainya.

    Lalu saya mulai mencoba merumuskan guru yang baik dengan kata kata saya sendiri,

    • Seorang guru yang baik, pertama dan utama, melihat setiap murid sebagai individu yang unik dengan harapan, impian, kekuatan, dan kerentanan masing masing,
    • Seorang guru yang baik, bekerja untuk menciptakan suasana kelas yang harmonis dan dinamis, di mana setiap murid melihat setiap murid lain dalam sebuah pemikiran positif – di mana mereka memang berbeda satu sama lain, harus menghormati satu sama lain. Kewajiban guru adalah membuat suasana di mana setiap murid merasa cukup aman untuk berbagi pikiran dan perasaan mereka. Sebuah lingkungan kelas (bahkan sekolah)yang membuat kesalahan dipandang sebagai kesempatan untuk belajar daripada kesempatan untuk merasa gagal,
    • Seorang guru yang baik, tahu murid pada berbagai tingkatan. Memang Guru harus mengajar dan belajar tentang kekuatan dan kebutuhan akademis muridnya. Namun tak kalah pentingnya, guru juga harus belajar tentang kepentingan mereka, ketakutan, harapan dan kekhawatiran muridnya. Dengan begitu Guru membantu murid belajar tentang diri mereka sendiri dan membantu murid untuk belajar beberapa hal tentang satu sama lain, terutama kasih saying, kekuatan dan harapan,
    • Seorang guru yang baik, harus selalu ingat bahwa mengingat bahwa setiap murid adalah anak yang berharga dari orang tuanya. Kita semua pasti tahu bahwa setiap orang tua memiliki cita cita tinggi, kekhawatiran yang cukup kuat dan harapan besar untuk anak itu. Dalam hal ini Guru bekerja untuk membantu orang tua memahami tujuan dan untuk mengembangkan kepercayaan diri mereka- tidak mengganggu, menghambat atau bahkan menghancurkan pola didik orang tua. Tapi Guru bukan menggantikan orang tua melaksanakan tugas tersebut karena bagaimanapun Orang tua merupakan bagian integral dan penting dari pendidikan anak. Guru juga harus menyadari  seberapa besar pengaruh dapat dibuat dalam kehidupan seorang anak dan betapa sulitnya orang tua bisa memberikan mempercayakan anak mereka kepada orang lain.
    • Seorang guru yang baik, selalu mencoba untuk melihat hal-hal melalui mata murid juga, bekerja keras untuk menjadi adil, empati dan mendorong. Guru berusaha untuk mempertahankan harapan yang tinggi untuk setiap anak. Guru harus bisa menantang muridnya untuk meraih yang terbaik dan terbang ke bintang dimana  tujuannya adalah membuat mereka terus belajar, melakkan yang terbaik dan bukan nilai 1 sampai 10 di rapor.
    • Seorang guru yang baik, mampu membuat muridnya menyukai belajar dan sekolah (bukan sekolahannya secara fisik saja) melalui pembelajaran yang menarik. Guru membantu setiap murid menemukan minat bakatnya sendiri serta mengeksplorasinya lalu menguasainya hingga tingkat terbaik yang bisa dilakukan dan menguasai. Guru membantu murid melihat bahwa tujuan yang pada awalnya sulit pada akhirnya menjadi mudah, dan seringkali yang paling memuaskan adalah untuk mencapainya. Guru yang baik membantu murid untuk melihat hal-hal baru sebagai tantangan bukan rintangan ditakuti. Guru menunjukkan kepada mereka bahwa kesempurnaan tidak hanya tidak realistis, tetapi tidak diinginkan juga.
    • Seorang guru yang baik, akan melekat pada ingatan murid. Jika hal ini terjadi maka  akan sulit untuk mengucapkan selamat tinggal pada akhir tahun ajaran, berharap para murid akan datang kembali untuk mengunjungi. Mereka akan membawa kenangan guru yang di masa depan mereka dan dengan keberhasilan mereka.

    Guru merupakan figur pengganti orang tua bagi anak-anak di sekolah, yang memberikan andil yang besar dalam tumbuh  kembang mereka. Guru akan memberikan perlindungan, pengajaran dan kebiasaan-kebiasaan  baru yang mendukung.Menurut  Covey (1997) ada empat prinsip peranan guru yang sangat berpengaruh dfalam dalam tumbuh kembang anak-anak, yaitu:

    1. Modelling (Example of trustworthness). Guru adalah contoh atau model bagi anak. Tidak dapat disangkal bahwa contoh guru mempunyai pengaruh yang sangat kuat bagi anak, sehingga Schweitz mengatakan bahwa ada tiga prinsip dalam mengembangkan anak  yeitu pertama contoh, kedua contoh dan ketiga contoh. Guru merupakan model bagi anak baik positif maupun negatif dan turut memberikan pola bagi way of life anak. Melalui modelling ini guru akan turut mewariskan cara berpikirnya kepada anak, oleh karena itu maka peranan modelling merupakan suatu yang sangat mendasar. Melalui modelling anak juga akan belajar tentang sikap proaktif, sikap respek dan kasih sayang.
    2. Mentoring yaitu kemampuan untuk menjalin atau membangun hubungan, investasi emosional atau pemberian perlindungan kepada orang lain secara mendalam, jujur, pribadi dan tidak bersyarat. Guru menjadi sumber pertama di sekolah bagi perkembangan perasaan anak: rasa aman atau tidak aman, dicintai atau dibenci. Ada lima cara untuk memberikan kasih sayang pada orang lain: (1) empathiing adalah mendengarkan hati orang lain dengan hati sendiri; (2) sharing adalah berbagi wawasan, emosi dan keyakinan; (3) affirming adalah memberikan ketegasan/penguatan kepada orang lain melalui kepercayaan, penilaian, konfirmasi, apresiasi dan dorongan; (4) praying  mendoakan orang lain secara ikhlas dari hati yang paling dalam dan (5) sacrificing  adalah berkorban untuk diri orang lain.
    3. Organazing  yaitu  sekolah memerlukan tim kerja dan kerjasama antar anggota dalam memenuhi tugas-tugas atau kebutuhan sekolah dan hal-hal penting.
    4. Teaching. Guru berperan sebagai pengajar bagi anak-anak tentang hukum-hukum dasar kehidupan. Melalui pengajaran ini, guru juga menciptakan concious competence pada diri anak yaiitu anak mengalami tentang apa yang mereka kerjakan dan alasan  mengapa mereka mengerjakan itu.

    Gurupun manusia. Seperti halnya Bu Wati dan pak Sarwoko yang mengakui bahwa mereka kadang jengkel, sebel, emosi menghadapi shinta kecil yang nggak bisa diem dan terus bertanya samapai puas. Banyak hal hal kecil yang kemudian muncul saat hal seperti ini terjadi, yang tentu tidak menyenangkan kedua belah pihat. Itulah mengapa, menurut saya, Guru perlu mengambil waktu untuk diri mereka sendiri, luangkan waktu untuk merayakan semua pencapaian kecil dalam hidup, serta fokus pada anak yang diajarkan. Kesadaran akan peranan mereka jauh lebih penting saat hal seperti ini terjadi. Mungkin lebih baik, mundur sebentar untuk menata pikiran agar tidak menjadi negatif.

    Guru tidak harus meminimalkan peran yang mereka mainkan dalam mempengaruhi kehidupan murid dan rasanya tidak mungkin. Namun sebagai guru, kita bisa membuat peran kita menjadi peran yang  positif, memiliki kualitas yang “dewasa karismatik” yang tidak hanya menyentuh pikiran murid, tetapi juga roh mereka , cara mereka melihat dan merasakan tentang diri mereka sendiri selama sisa hidup mereka. Pengaruh tersebut adalah benar-benar suatu kehormatan langka yang harus dihargai dan dipelihara. Karena peran guru terutama guru PAUD dan SD tidak hanya sebatas ruangan kelas, tapi jauh diluar kelas baik dari segi waktu maupun ruang.

    Jakarta 16 Maret 2014

    Shinta Kertasari

  • Beladiri Bagi Anak Usia Dini

    OLYMPUS DIGITAL CAMERASaat mencari SD untuk Khay, banyak sekali sekolah yang mencantumkan bela diri sebagai bagian ekstrakurikuler untuk siswanya. Hal ini ternyata mengundang pertanyaan bagi banyak ibu yang kebetulan hunting bareng atau ketemu saat open house sekolah dasar. “Waduh, masih kecil kok sudah diajarin berantem? Emang boleh ya?” “Kapan sih anak anak boleh mulai belajar beladiri?” “Emangnya anak anak belajar beladiri nggak bikin mereka tambah suka kekerasan?” “Kalau kelas 1 sudah ikut beladiri ntar anak gue pulang pulang babak belur lagi” dan sebagainya. Hal ini sangat wajar jika kita melihat beladiri sebagai sebuah olah raga dan jurus.

    Mendengar kata “beladiri”, boleh jadi yang terbayang di benak kita adalah kekerasan yang melibatkan adu fisik. Tak heran jika banyak orang tua “alergi” terhadap cabang olahraga yang satu ini. Jangankan untuk si kecil yang baru masuk sekolah dasar, anaknya yang sudah besar pun kalau bisa akan dicegah agar jangan sampai belajar beladiri apalagi masuk kedalam klub beladiri. Nah, bila di sekolah anak kita ada kegiatan tersebut, bukan tak mungkin ia akan ngotot ikut. Sementara kita khawatir kesayangan kita bakal cedera atau malah kelak jadi tukang berantem.

    Kadang teman teman saya bertanya saat melihat khay yang sering kami ajak berlatih beladiri. Sebagai orang tua, saya dan suami yang kebetulan menggeluti beberapa macam beladiri tidak terlalu kawatir Khay akan mengenal dan bahkan berlatih beladiri apapun yang dipilihnya. Bahkan kami kadang mengarahkannya untuk latihan yang benar dan mengenalkan berbagai jenis gerakan dalam berbagai bela diri. Hal ini bisa menjadi penyaluran energi dan keingintahuan Khay yang luar biasa. Dari pada sembunyi sembunyi dan jadi salah kenapa tidak sekalian mengenal dan positif.

    Bagi saya sendiri, Bela diri bukan hanya “bag bug bag bug” jotos sana jotos sini, tendang sana tendang sini. Setiap mempelajari ilmu beladiri, saya lebih suka konsentrasi pada filosofi dan pengobatan dari pada olah ragawinya. Karena disinilah inti dari setiap gerakan di dalamnya. Jadi beladiri bukan berintikan pada kekerasan. Selain itu, saat belajar beladiri kita melatih tingkat kewaspadaan, kemampuan menganalisa situasi dan menyusun strategi saat keadaan tidak menguntungkan.

    Dalam sabdanya, Rasulullah memerintahkan: “Ajarilah anak-anakmu berenang, memanah dan menunggang kuda”. (H.R bukhari muslim). Tiga hal yang diperintahkan itu adalah pelajaran ketangkasan fisik. Jadi bukan cuma aspek kognitif yang perlu diasah dari anak. Di era sekarang ini, tentu saja bukan memanah lagi yang menjadi ketrampilan survival tapi bagaimana membela diri yang baik bisa menjadi acuan pengganti.

    Menurut Jerry Wykoff, dan Barbara C Unel dalam buku Teachable Virtues: Practical Ways to Pass on Lessons of Virtue and Character to Your Children (Perigee, 1995) dan Dorothy Law dalam Children Learn What They Live dikatakan bahwa anak anak belajar tentang hidup dan bagaimana menjalaninya sejak dini. Anak siatas usia empat tahun perlu diajarkan mengenal dan mempunyai ketrampilan sendiri untuk menghadapi bahaya yang disebut knowledge of sense of awareness. Meski kita tak mengharapkan si kecil menghadapi keadaan bahaya, tapi penanaman sikap waspada bisa membantunya merasakan hal-hal yang perlu diwaspadai atau mengundang bahaya.

    Diatas empat tahun, mereka harus mulai melatih “kekuatan” dan kemampuan untuk bertahan  dan tahu akan bahaya. Mereka harus memiliki kemampuan dan keahlian untuk menghadapi ketidak nyamanan, gangguan, ancaman serta bahaya. Anak anak harus melatih tingkat peduli pada lingkungan serta kewaspadaan sejak dini. Meskipun sebagai orang tua, kita tidak pernah berharap anak anak benar benar akan menghadapinya. Namun dengan latihan seperti ini, maka anak anak akan memiliki kesiapan dan bisa menghindari situasi tersebut. Dari sini bisa dikatakan bahwa anak beladiri sejak usia 5 tahun tidak masalah. Justru anak akan mendapatkan banyak manfaat dari kegiatannya itu. Tidak usah cemas ia bakal cedera atau jadi sok jagoan. Justru dari sini ia belajar disiplin dan patuh. Perkembangan motoriknya pun makin baik.  Selagi masih kecil dalam masih mudah dibentuk, rasa tanggung jawab membuat kita mengarahkan mereka pada jalan kebaikan.

    Beladiri sebagai Olah Raga Ketahanan Fisik dan Mental

    Memang, beladiri termasuk jenis olahraga pertarungan yang seringkali melibatkan kontak fisik dengan orang lain yang dipandang menimbulkan ancaman, lalu menyerang. Namun di balik tonjokan dan tendangannya, beladiri juga mengandung disiplin, patuh, dan menonjolkan sifat kependekaran yang mengutamakan moral. Selain filosofinya,segi moral dan disiplin juga diajarkan. Dari menunggu giliran untuk praktek tonjokan/tendangan, anak belajar untuk sabar dan disiplin. Sambil diajarkan gerakan-gerakan beladiri, anak juga dilatih untuk patuh mengikuti semua petunjuk dan sabar. Perlu adanya pendampingan dan kebijakan pelatih tentu saja untuk menunjukan pada anak bahwa beladiri bukan menyerang, memamerkan kepandaian menendang dan meninju tapi mempertahankan diri, Sebaiknya, beladiri untuk anak ditekankan lebih pada unsur olahraganya, bukan beladirinya. Bukan pada intensitas dan kekuatan dari pukulan/tendangan tetapi lebi pada melihat posisi tubuh yang benar dan baik. Hal ini juga bisa membantu pembentukan postur tubuh yang baik pada anak dan membangun percaya dirinya.

    Sebagai anak yang memiliki postur tubuh kecil, sejak awal sekolah maupun di lingkungan rumah, Khay tidak lepas dari bully teman temannya. Meskipun kawatir, saat melihat kejadian seperti ini, sebagai ibu saya cenderung hanya mengawasi dari jauh. Sangat jarang saya turun tangan membantu Khay menghadapi kejadian semacam ini. Menurut saya, dalam dunia yang lebih luas lagi, anak saya mau tidak mau harus berhadapan dengan berbagai “penindasan”. Inilah saatnya bagi Khay untuk melatih kemampuannya bertahan dan membela diri.

    Seorang anak yang jago bela diri tentu saja akan aman terhindar dari penindasan anak seusianya. Tidak dapat dipungkiri kalau di dunia anak, khususnya anak laki-laki, menjadi jagoan adalah sebuah nilai yang mereka pandang hebat. Tak jarang untuk menunjukkan kejagoannya, seorang anak melakukan bullying atau penindasan pada anak lain yang lebih lemah. Seorang anak yang mempunyai kemampuan bela diri tentu akan segan dibully oleh anak lain.Tentu saja, semua ini harus dibarengi dengan pendampingan dan pemahaman akan filosofi beladiri itu sendiri, sebagai alat membela diri, bukan menindas dan melakukan bully.

    Anak harus menghadapi segala sesuatu dengan segenap kemampuannya, berani berkata jujur dan benar, bertindak benar, berani berinisiatif, berani menolong orang, berani mempertahankan haknya, dan sebagainya. Berlatih beladiri bukan saja melatih jurus-jurus tetapi juga mentalnya. Sebelum atau setelah latihan, para pelatih/orang tua harus mengajak anak berbincang mengenai apa yang harus dilakukan di luar tempat latihan, menanamkan dalam otak dan jiwa mereka untuk berlaku benar sebagai wujud dari sikap ksatria

    Pada dasarnya anak memiliki energi negatif. Mungkin karena ia menyimpan kekesalan, kemarahan, kekecewaan, dan lainnya. Energi negatif ini perlu penyaluran yang tepat. Nah, berlatih bela diri adalah salah satu cara mengeluarkan energi negatifnya dengan cara positif. Ia bisa memukul bantalan karet, berguling di atas matras, melompat, berteriak, berlari, dan lainnya. Jika emosi negatifnya tersalurkan dengan baik, maka secara emosi anak akan merasa lebih nyaman dan emosinya pun bisa lebih stabil.

    Secara fisik, tentu saja sebagai olahraga, beladiri  akan membawa kesehatan bagi tubuh. Seorang anak akan terbantu proses pertumbuhannya dengan kondisi fisik yang bugar dan sehat. Beladiri sangat bermanfaat bagi perkembangan motorik anak. Latihan tendangan, misal, bisa memperkuat otot tungkai. Bukankah si kecil di usianya ini amat suka menendang-nendang dan melompat seperti yang dilakukan tokoh-tokoh idolanya di film-film?  Dengan mengikuti latihan beladiri, anak belajar teknik menendang dan melompat yang benar, hingga kemungkinan ia cedera akibat meniru gerakan-gerakan si tokoh dapat diminimalisir.

    Gerakan memukul, menendang, merunduk, melompat, menghindar, berputar, berlatih keseimbangan, dan lainnya kerap diterapkan saat berlatih bela diri. Belum lagi dengan gerakan-gerakan pemanasan atau gerakan untuk menguatkan otot-otot, seperti berlari, sit up, push up, berjalan jongkok, dan lainnya. Semua gerakan tersebut melatih motorik anak menjadi lebih kuat, cekatan, cepat dan tangkas.

    Tubuh yang secara teratur diajak berolahraga secara otomatis akan meningkatkan kebugarannya, karena otot-otot terlatih untuk bergerak, tidak kaku, dan tidak mudah keseleo atau terkilir. Dengan begitu, sistem metabolisme tubuhpun bekerja lebih baik yang membuat daya tahan tubuh meningkat, sehingga anak tidak mudah sakit. Jadi, tubuhnya akan kembali sehat.

    Bela diri bukan sekedar latihan rutin begitu saja. Tapi dikenal peningkatan jenjang. Biasanya dikenal pewarnaan pada sabuk yang dikenakan pada baju latihan atau penamaan kedudukan. Peningkatan jenjang ini adalah sebuah prestasi sendiri yang membawa kepuasan pada anak. Selain itu, anak juga bisa mengikuti even-even perlombaan. Dan ini bisa memacunya untuk berprestasi pada hal yang positif.

    Mengajarkan  Disiplin dan Kewaspadaan Melalui Beladiri

    Menurut John Locke (dalam Gunarsa, 1986) anak adalah pribadi yang masih bersih dan peka terhadap rangsangan-rangsangan yang berasal dari lingkungan. Latihan beladiri mengajarkan banyak kedisiplinan. Peraturan yang melekat pada saat latihan seperti harus datang tepat waktu, membawa baju latihan, serius dan konsentrasi, dan sebagainya adalah pengajaran yang baik untuk anak. Tersedia hukuman bila anak melanggar. Bahkan pada setiap latihan beladiri juga ada sumpah atau janji yang poinnya adalah berbuat kebaikan. Seperti misalnya ikrar yang diucapkan sebelum atau setelah latihan.

    Setiap olahraga bela diri memiliki aturan masing-masing. Salah satunya adalah anak harus disiplin. Ia harus datang tepat waktu, mengikuti instruksi pelatih, harus memakai seragam, tidak boleh bermain-main, harus bekerja sama dengan siswa, saling menghormati, tidak boleh menggunakan kemampuan dengan sembarangan, menolong sesama, dan sebagainya. Gerakan-gerakan pada latihan beladiri itu melatih ketangkasan pada anak. Reflek saat menangkis serangan lawan, kuat menerima pukulan di badan, gesit berkelebat dalam pertarungan, itu semua akan didapatnya pada latihan yang disiplin.

    Latihan seperti ini akan menguatkan serta meningkatkan kedisiplinan dan komitmen anak. Tak mustahil anak juga akan menerapkan disiplin dan komitmen pada hal lain, seperti mengerjakan tugas sekolah, belajar di rumah, datang tepat waktu ke sekolah, menghormati teman, dan lainnya. Anak diberi latihan-latihan yang bisa membantu pertumbuhan psikomotorik dan menunjang kesehatannya. Sambil berjalan pembentukan moral sedikit demi sedikit dilakukan melalui penanaman disiplin. Sifat kependekaran pelan-pelan ditumbuhkan seperti tak menyerang lebih dulu, berani mengakui kelemahan, dan sifat-sifat kependekaran lain yang menjunjung moral dan disiplin.

    Tentunya, dengan belajar beladiri, anak juga mengembangkan sense of awareness. Dia jadi punya sikap waspada terhadap lingkungan sekitar yang bisa mengancam. Mengacu pada literatur psikologi perilaku anak dari Jerry Wykoff, Barbara C. Unell dan Dorothy Law Nolte, anak-anak usia 4 tahun ke atas perlu dilatih untuk membentuk dan mengambangkan sense of awareness atau kewaspadaan pada lingkungan yang membahayakan.  Nah, pada olahraga beladiri, sense of awareness diajarkan lewat metode pelatihan sehari hari. Karena konsep musuh belum dikenal di usia dini, maka situasi bahaya itu digambarkan lewat  perumpamaan. Disinilah perlu kebijakan dari pelatih dan orang tua.

    Perlu diingat, kita harus hati hati, jangan sampai salah mengajarkan analisa bahaya pada anak. Kalau sampai salah, anak bisa berkembang jadi paranoid, memandang setiap orang dengan curiga. Jadi, pola pengajaran sense of awareness ini harus dilakukan dengan bijaksana, hati-hati, tidak berlebihan dan tidak menjadikan anak paranoid. Ancaman dalam kehidupan memang “besar”, tapi anak jangan ditakuti-takuti. Sikap waspada harus dikembangkan secara bijak. Beladiri bisa menjadi suatu bagian untuk menghadapi tantangan di dalam hidup, tapi kapan ilmunya harus dikeluarkan, harus secara bijak diajarkan. Ingat, pada usia dini, keselamatan anak menjadi tanggungan orang tua sepenuhnya. Artinya, sikap waspada bisa diajarkan, tapi keselamatan anak tetap menjadi tanggung jawab orang tua

    Penanaman Aspek Sosialisasi Dalam Beladiri

    Di tempat latihan bela diri anak akan bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang: ada pelatih, siswa lain, pengurus, bahkan mungkin orangtua dari teman. Dengan begitu interaksi anak jadi lebih terbuka sehingga ia bisa memanfaatkannya untuk meningkatkan kemampuan bersosialisasinya. Beberapa anak mungkin malu-malu, tugas kita lah membangun keberaniannya sehingga mampu bersosialisasi dengan baik.

    Kadang seorang anak tidak hanya menemukan teman seusianya di tempat latihan. Dia harus berinteraksi dengan anak yang lebih muda atau lebih tua yang mengenakan warna sabuk yang sama. Saat inilah anak belajar menghormati dan menghargai. Anak juga mendapatkan banyak teman yang tidak hanya teman sekolah atau teman lingkungan rumahnya. Ada banyak jaringan pertemanan real yang luas yang di dapatnya.

    Disinilah perlu kemampuan pelaih untuk mengambangkan teknik pembelajaran beladiri yang memperbanyak unsur bermain dan mengembangkan aspek sosialisasi anak. Dunia anak adalah dunia bermain. Kegiatan apa pun yang kita berikan kepadanya, sebaiknya tak meninggalkan pola bermain. Anak-anak berkumpul bersama teman sebaya lainnya dan harus bermain bergembira dengan kegiatannya.

    Teman Belajar dan Bukan Lawan Tanding

    Sebagai combat sport beladiri tentu tak lepas dari “pertarungan”, baik dalam latihan maupun dalam perlombaan. Namun konsep “musuh” tidak disarankan untuk dikenalkan kepada anak anak Anak jangan dikenalkan pada konsep musuh. “Siapa itu musuh dan wujudnya kayak apa, masih terlalu dini untuk dikenalkan pada anak usia dini.” Aspek utama pada anak usia dini adalah to grow, berkembang. Untuk membuat dia tumbuhdan berkembang,  harus ada rangsangan dari luar. Itu sebabnya pembelajaran beladiri pada anak usia dini hanya untuk olahraga dan pembentukan disiplin, bukan menekankan pada self defense-nya.

    Dengan pemahaman bahwa konsentrasi dan kombinasi lompatan yang bagus akan menghasilkan keberhasilan “menyelamatkan” diri dari suatu “serangan” yang membahayakan. Maka sparing partner sebaiknya tidk dikenalkan. Bagaimanapun, jika sudah menggunakan teman sebagai lawan tanding, berarti sudah mengarah pada unsur combatting daripada olahraganya. Bila anak sudah diajarkan bertarung melawan teman pada usia yang masih dini, maka secara tak sadar akan terbentuk konsep predator pada dirinya, yaitu mahluk yang suka menaklukkan temannya sendiri. Olahraga raga ini dinamakan beladiri, (self defense), bukan attacking others. Filosofi dasarnya adalah sifat kesatria yang melawan kalau diserang, bukan menyerang lebih dulu untuk menunjukkan kejagoannya. Bahkan sedapat mungkin menghindari perkelahian.

    OLYMPUS DIGITAL CAMERAMengajarkan Beladiri Dengan Konsep Bermain

    Bermain dalam tatanan pembelajaran dapat digambarkan sebagai suatu rentang rangkaian kesatuan yang berujung pada bermain bebas, bermain dengan bimbingan dan berakhir pada bermain yang diarahkan. Menurut Dr. Mary Go Setiawani dalam bukunya “Menerobos Dunia Anak” (Yayasan Kalam Hidup Bandung 2000) bermain memiliki beberapa fungsi antara lain:

    1. Melatih fisik: Bermain merupakan latihan olahraga yang terbaik bagi tubuh. Bermain dapat membina kemampuan anak dalam berolahraga, kecerdasan, dan ketangkasan otak;
    2. Belajar hidup bersama/berkelompok: Bermain adalah kesempatan yang baik bagi anak untuk terjun ke dalam kelompok dan belajar menyesuaikan diri dalam kehidupan yang harmonis di masyarakat;
    3. Menggali potensi diri sendiri: Dengan bermain, anak diberi kesempatan untuk menyelesaikan kesulitan dengan kemampuan dirinya sendiri;
    4. Mentaati peraturan: Orang dewasa harus membantu anak bersikap sportif dalam bermain dan membimbing mereka untuk menaati peraturan.

    Agar fungsi bermain dapat berjalan sebagaimana mestinya maka dalam memilih jenis permainan perlu memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut

    1. Beri permainan yang dapat mengembangkan fisik;
    2. Perlu ada keseimbangan antara permainan yang bersifat tenang dan yang banyak bergerak dalam ruangan atau di luar ruangan;
    3. Berikan macam-macam permainan untuk memusatkan perhatian mereka;
    4. Sediakan permainan atau kegiatan yang bertujuan memberikan pengalaman belajar bagi mereka;
    5. Pilihlah permainan yang sesuai dengan usia mereka;
    6. Persiapkan seorang atau orang dewasa untuk memimpin mereka dalam bermain atau berekreasi;
    7. Berikan kesempatan untuk menggunakan daya imaginasi dan kreativitas mereka.

    Aktivitas bermain tanpa disadari merupakan bagian dari gerak dasar beladiri seperti menendang, memukul, mengelak, menghindar, atau berlari. Dasar beladiripun pada dasarnya sudah dimiliki seseorang sejak lahir seperti bayi yang biasa menendangkan kaki atau memukul-mukulkan tangannya. Dari beberapa teknik dasar dalam beladiri, tidak semuanya bisa disampaikan atau cocok untuk anak usia dini, pelatih/orang tua harus pandai-pandai dalam memilih atau menentukan teknik dan gerakan yang sesuai. Dalam menyampaikan teknik dasar beladiri, juga harus tetap mengandung unsur bermain dan mengembangkan aspek sosialisasi termasuk dalam menggunakan bahasa/istilah yang digunakan bisa diubah agar tidak terkesan keras/kasar.

    Model pembelajaran bermain pencak silat harus dikemas sedemikian rupa agar tidak menimbulkan kesan kekerasan atau permusuhan tetapi dibuat agar timbul rasa senang pada anak dan juga harus memperhatikan faktor keselamatan anak. Dalam menentukan jenis permainan harus memperhatikan prinsip memilih jenis permainan dan juga memperhatikan prinsip-prinsip bermain.

    Dalam mengajarkan beladiri kapada anak usia dini, baik pelatih maupun orang tua harus memiliki model pembelajaran/pelatihan tepat yang arahnya lebih pada pembentukan kesehatan dan bermanfaat bagi perkembangan psikomotorik anak. Model pembelajaran bermain beladiri yang tepat dapat menciptakan suasana senang dan ceria untuk anak sehingga tanpa disadari anak telah menerima pembelajaran/pelatihan beladiri mekipun dalam bentuk permainan. Tentusaja disertai dengan pendampingan dan penanaman nilai filosofi yang terus menerus pada pemikiran dan jiwa si anak.

    Sebagai saran tambahan, untuk anak usia dini, pilihlah jenis olahraga beladiri yang tak menggunakan alat tapi lebih mengandalkan gerakan seperti lompatan dan tendangan. Ketauhilah minat anak terlebih dahulu. Jangan memaksakan anak untuk belajar beladiri ataupu memilih jenis beladiri tertentu.

    Selain itu, pelatihnya juga harus tahu perkembangan fisik dan psikologi anak, maupun sturuktur pertumbuhan anak.  Anak dengan postur tubuh apa pun dapat mengikuti olahraga beladiri. Namun bila si kecil punya penyakit tertentu semisal asma atau jantung, beritahu instrukturnya agar porsi latihan atau gerakan-gerakannya tak membahayakan si kecil.

    Pelatih harus memiliki pengetahuan tentang pertumbuhan fisik anak, agar dapat mengetahui intensitas dan kekuatan tendangan serta lompatan pada anak, hingga tak mencederai tungkai maupun otot-otot kaki anak yang sedang tumbuh serta mencederai temannya. Selalu sediakan P3K dan pelatih memiliki pengetahuan tentang keadaan darurat seperti anak terjatuh. Untuk menghindari kemungkinan si kecil cedera saat mempraktekkan teknik tendangan/lompatan di rumah, sebaiknya orang tua hadir selama anak latihan. Dengan begitu, orang tua bisa melihat teknik yang benar yang diajarkan dan membetulkannya kala anak mempraktekkannya di rumah.

    Sistem memberikan hukuman pada anak dalam pelatihan beladiri juga sangat tidak dianjurkan. Anak memang harus disiplin dan patuh mengikuti instruksi, tapi bila anak melakukan kesalahan tak ada hukuman fisik apa pun yang diterapkan. Hal ini karena konsep utama pelatihan adalah bermain.Dalam pembelajaran beladiri pada anak sebaiknya tidak mengenal kenaikan tingkat untuk menghindari kecemburuan yang kerap terjadi pada anak-anak usia dini.

    Selamat berlatih anak anak.

  • Mulutmu Harimaumu

    Ajining wong ing wicara, resep sedep wijile rum aririh, wosing sedya laras runtut, grapyak gampang tinampa, culing tutur tinampa datan ngelantur, Solah bawa mung samadya, Karyenak tyasing sasami
    Jejege janma ing nala, pikir resik rereged den ilangi, tindak tanduk ywa kumrungsung, nyenyamah nyakrabawa, apan iku karana tyas kumalungkung, ngagungken diri priyangga adhakan ndeder bilahi

    [Pangkur, Dharmo Kinidung]
    —oOo—
    Nilai manusia ditentukan oleh bicaranya. Enak didengar, sedap dan tidak keras. Maksud yang disampaikan jelas dan dikeluarkan secara runut dan teratur. Akrab dan gampang diterima. Kata-kata disampaikan dengan baik dan tidak berkepanjangan. Saat berucap, sikap dan gaya cukup seperlunya, yang paling penting dapat membuat senang hati orang yang mendengarnya.
    Kewibawaan orang karena pikirannya. Berfikir tanpa kekotoran, berkata atau bahkan berbuat, tidak terdorong oleh amarah. Jangan pernah mengecilkan dan mencurigai orang hanya karena Rasa Sombong dan merasa diri lebih “tinggi” dari yang lain. Saudaraku, kalau engkau lakukan itu, ibarat menanam benih celaka.
    Rasanya pangkur jawa ini sangat cocok buat kita kita semua dan apa yang terjadi belakangan ini. Mulutmu harimaumu, dan harga dirimu. Semua itu bisa sangat berbahaya apalagi hanya untuk sebuah ego dan pembenaran diri.

  • Bakpao Mini

    bahan:
    1/4 kg tepung terigu
    1/2 ons gula halus
    1/2 ons margarin/mentega putih
    1 butir telur ayam
    1 sdt ragi instan
    garam secukupnya
    susu cair 120cc
    isi : selai/ keju/apapun sesuai selera

    cara membuat:
    campur semua bahankulit jadi satu dan uleni hingga licin dan kalis. diamkan selama 45 menit. sisihkan
    bagi adonan menjadi 14 bulatan yang licin. diamkan selama 15 menit
    pipihkan tiap bulatan, lalu isi dengan selai sesuai selera. bulatkan kembali lalu bentuk sesuai selera dan kukus hingga matang. angkat, sajikan
    Jika ingin disimpan, kukus 10 menit (setengah matang) lalu dinginkan, masukkan ke freezer. saat akan dimakan keluarkan dari freezer, diamkan 5 menit lalu kukus sampai matang

  • Rating untuk Film Bioskop

    Pingin nonton THOR tapi ragu apakah film ini cocok buat Khay. sementara itu nonton tanpa Khay is IMPOSIBLE. cari cari dengan harapan film ini bisa ditonton anak anak, yang didapat kode rating film yaitu R. waduhhh maksudnya apa nih R…. akhirnya setelah browsing nemulah poster ini. Sharing buat yang belum tahu 🙂

     

    rating film

  • Adventure of Prasodjo Family, Agustus 2013

    Lebaran kali ini keluarga Prasodjo merubah kebiasaan. Kalo biasanya ayah gowes, kita berdua bareng tebengers naik mobil, taun ini tidak ada sopir dan sepi tebengers. Alhasil bunda bujukin ayah untuk naik GMH alias si Grand Max Hitam aja. Persiapan sih masih biasa, bagian tengah full makanan, minuman, buku dan mainan. Kali ini ayah beli perlengapan perlistrikan yang memadai jadi sepanjang jalan Gadget dan GPS terus nyala. Khay bisa menikmati film film dan lagu kesayanganya di belakang sambil tiduran. Berangkat Jumat, 2 Agustus 2013. Rencana jumat pagi batal karena bunda harus meeting jam 1 dan ayah ngantor. Meski tetep jumat pagi jam (9.00) dari rumah, tapi seharian Khay nongkrong di kantor ayah nemenin ayah kerja sambil nungguin bunda meeting. Setelah buka puasa barulah kita benar benar berangkat dengan satu orang tebengers. Perjalanan diluar perkiraan (dikira masih sepi pemudik). Emang sih sepi pemudik mobil, tapi pemudik motor luarrrrrrrrrrrrrrrrr biasa. Bahkan di daerah antara Cikampek – Tegal beberapa POM Bensin penuh pesepeda motor yang istirahat (bahkan parkirnya sampai memenuhi satu jalur jalan hingga menimbulkan kemacetan beberapa kilometer) Belum lagi sepeda motor yang berjalan rombongan mengisi 2 jalur dan mobil tidak bisa lewat, atau pesepeda motor yang potong kanan kiri tanpa lampu send hingga tidak bsa diduga kemana arahnya. Selain itu, sebagian besar dari mereka over load dan over penumpang. Kasihan lho lihat anak anak kecil jadi tameng angin orang tua (duduk dan tertidur di depan) HUAAAHHHHHHHHHHHHHHH. Ayah yang kelelahan (karena kita sudah mulai jalan jam 9 pagi) beberapa kali berhenti setelah lewat malam di resto perhentian yang iklannya ada di sepanjang jalan. No recomended!!!! kopi+teh+2es duren = Rp.100.000!!!!!!!!!!!!!! Tapi akhirnya di Tegal kita terhibur dengan late lunch (sabtu, 3 Agustus) yang luar bisa di Resto Sate Empuk Subali. Sop Ayam, gulai kambing, Sate terpedo, sate kambing dan nasi 3 plus beberapa macam minuman =Rp.98.750. Setelah kenyang kita jalan sampai ke Temanggung untuk menikmati Bakso Ulek yang ok, bareng bulik Vina dan nginep semalam. perkiraan saur di temanggung jadi molor 12 jam  gara gara pemudik motor.

    Minggu kitapun melanjutkan ke Yogyakarta dan langsung memenuhi ultah om Fara di Soto Kudus Wirosaban yang super duper murah (14 mangkok soto + berbagai macam minumam dan lain sebagainya hanya sekitar Rp. 150 ribuan) :d Setelah beres beres, malamnya kita ketemu om Yossy Tangtungan danditraktir makan Sate Klathak Pak Yong di Jl. Imogiri Barat (recomended). Hampir setiap malam kita menikmati gudeg di beberapa tempat berbeda, nongkrong di alun alun, nyicip angkringan pak Harjo wijilan. Tidak ketinggalan kita ke pantai. Kali ini kita mengunjungi Pantai Baru Bantul. Karena sepi, kita berasa punya pantai pribadi.

    Seperti lebaran biasanya kegiatan takbiran, sholat idhul fitri, sungkeman, opor ayam sambel goreng, sambel tumpang, brongkos semua ada. Pokoknya, Tanggal 4-10 Agustus, kami menikmati piknik, lebaran di yogya plus kulinernya.

    Sabtu pagi tanggal 10 kita berangkat menuju solo (Makan siang di pondok adem ayem – ratingnya biasa saja harga sedikit mahal) lanjut ke rumah mbah putri di magetan (ayam bakarnya mak nyusssssssss yummy), ke trenggalek buat nyekar ke makam Mbah Darminto Kakung dan mengenang masa kecilku di rumah Jati, SDN Jati Trenggalek dan lebaran yang semua rumah openhouse (dapat telur asin dan madu mongso home made by mbah Slamet yang yummy), ke Pogalan, mampir di Tulung Agung makan ikan (lupa namanya tapi recomended makanan prasmanannya asal jangan pesan mangkokan). Ke Kediri nyari kopi ayah dan oleh oleh (ada yang ngamuk belanja oleh oleh), mampir Batu untuk menikmati udara dingin yang segar, lalu istirahat di Malang. Menkmati jalan jalan di Jatim Park (sayang berangkatnya kesorean- recomended untuk datang dari pagi) dan berenang di Taman Wendhit (not recomended karena terlalu crowded dan kotor) ketemu monyet, naik kuda, dan berenang. Tidak lupa ke bakso presiden (recomended).

    21 Agustus, kita berangkat ke Ampel Surabaya langsung disambut Sate madura yang mak nyuuss (thanks mas Amin) dan istirahat semalam) Besoknya kita makan siang Belut Goreng H. Poer (recomended) langsung menuju Semarang. Sepanjang jalan kami menikmati pemandangan luar biasa (Subhanallah, Alhamdulillah AllahuAkbar). Beberapa kali kami berhenti untuk sekedar memotret.  Di Rembang kami berhenti untuk sekedar istirahat, khay makan dan mandi. Sampai di Simpang Lima semarang kita makan malam Nasi liwet yang oke punya. Saat makan kami memutuskan untuk stay semalam di kota lumpia ini. Paginya kami habiskan untuk nongkrong di Gramedia (nggak banget ihhh hehehehe). Sayangnya keinginan cari lumpia dan mochi terlupakan begitu saja karena terkena macet saat berangkat. Tapi kembali terbayar dengan makan siang di Sate Subali Batang yang oke banget. (langganan tiap tahun (recomended). Dan perjalanan pulangpun dilanjutkan. Kami sampai dirumah sekitar jam 12 malam. Perjalanan petualangan dua minggu keluarga Prasodjo bersama GMH mengelilingi sebagian besar bagian luar Pulau Jawa yang luar biasa.

  • Berusaha, Iklas dan Sabar

    krupuk

    Gara gara ngak bisa makan model prasmanan, alhasil pulang dari Reuni SMA 3 Padmanaba perut keroncongan. Rencana awal sih mau naik busway sampai UKI (mumpung busway gratis) trus nyambung naik 58 sampai kampung 2 dan jalan kerumah. Alhamdulilah, ada temen yang mau pulang ke Bogor nawarin tebengan sampai UKI, yahh lumayan kan nggak perlu ngantri busway yang penuh (karena gratisan) dan nyebrang jembatan penghubung mampang yang cukup panjang. Turun di UKI mulai berhitung, lalu memutuskan untuk naik taksi ke Besqi biar bisa makan sekaligus nyari kado buat ponakan di tempat toko favorit. Plus badan tiba tiba panas dingin dan mual. Biasanya kalo dah gini, butuh pengeluaran atas bawah hehehe. Pilihan pakai taksi adalah yang terbaik, meski mulai menghitung uang di dompet karena lupa mampir ATM.

    Sampai di Besqi, tujuan pertama tentu toilet. Setelah itu langsung mencari tempat makan dengan pertimbangan makanan, tampilan dan tentusaja harga. Pemenangnya adalah nasi timbel di resto O*** yang harganya lumayan terjangkau, dan tempatnya lumayan.  Duduk di meja sebelah, sepasang ibu ibu dengan tas LV dan Prada ( (entah asli atau KW ), bersama anaknya usia 5-10 tahunan.

    Bukan maksud hati nguping, tapi apa daya, iseng makan sendirian plus volume mereka juga 6 (skala 1-10) alhasil terdengarlah obrolan ibu LV dan ibu Prada. Mulai dari pamer habis belanja tas harga 500.000, si A simpanan si om ini sampai urusan arisan jutaan dan belanjaan temannya yang cuma (?) 25.000 sehari dan dianggap pelit.

    Pesananku tiba dan mulailah niat serius ngisi perut, saat seorang bocah (awalnya saya kira masih 8-10 tahun atau kelas 4 SD lah) ganteng, sederhana dan wajah senyum menghampiriku dengan sopan.

    “Ibu, makan nasinya pakai krupuk ikan enak lho. Beli krupuk saya ya bu.”

    “Krupuk”

    “iya, Harganya 3500 tapi kalau ibu beli 10.000 dapat 3. Bos saya belinya kiloan bu, trus diplastikin kecil kecil biar gampang jualnya. Keuntungannya buat saya akan saya kumpulkan untuk masuk SMP bu” sambil tersenyum sopan.

    “masuk SMP siapa?”

    “Saya bu. tahun ini saya masuk SMP. ”

    “Ya sudah, mau dong 10.000 saja.” (saya beli karena memang pingin krupuk dan nggak kepikir apakah krupuk itu mahal atau murah)

    “Ini bu, 3 ya. tapi maaf, saya nggak punya plastik. mahal bu. nggak ada untungnya nanti. Boleh saya masukan ke tas ibu ini saja” Katanya sambil nunjuk ke tas goodybag hasil reuni tadi. wah itu kan ada baju kotor hehehe jangan dong.”

    “Nggak usah, tarok saja di meja. Kan mau langsung saya makan”

    “Oh gitu, boleh saya bukakan?”

    “Boleh. Rumahmu dimana?”

    “Jati bening ujung bu (hemmm dimana itu ya?)” Katanya sambil mulai berusaha buka plastik yang lumayan alot.

    “Jauh dong, naik apa kesini”

    “Naik angkot bu” dengan masih susah payah buka plastik

    “sudah nggak usah dibuka, nanti saya buka pakai gunting deh.”

    “Makasih ibu, selamat sore, assalamualaikum” katanya senyum dengan sopan sambil mengulurkan tangan cium tangan.

    Luar biasa. Disaat diluar sana banyak orang/anak yang memilih cara yang mudah dengan menadahkan tangan meminta, si bocah memilih jualan krupuk yang rasanya sih untugnya nggak seberapa.

    Niat serius makan ternyata kembali gagal ketika suara ibu LV sebelah agak meninggi.

    “Berapa? 3500? mahal amat? Saya beli biasanya cuma 3000 kok”

    “Yah nggak bisa bu. memang segitu harganya kalau ibu beli 3 harganya 10.000. dan untungnya sedikit untuk saya masuk SMP”

    “Halah, alasan aja nih. Kalau mau minta uang bilang aja. 3000 satu atau aku nggak mau beli. Nih 500”

    “Nggak bu, saya nggak mau minta kok. Kalau ibu tidak membeli juga nggak papa. Makasih bu, Assalamualaikum”

    “Ehhh tunggu. Ya udah sini. Ini saya amal ya buat kamu. saya beli 3” (waksssss amal kok bilang bilang? jadi ingat pelajaran iklas dari Kyai Hasan Basri bertahun tahun yang lalu. Kalau iklas jangan bilang dan lupakan)

    “Saya juga mau amal deh, nih 10.000” saut ibu Prada

    “Iya bu, ini krupuknya, 6 ya bu. Tapi maaf saya nggak punya plastik”

    “Gimana sih ! niat nggak jualan? trus saya bawa krupuknya gimana?” (PLISSSSSSSSSSSS DEEEEEEEEEHHHH itu tas LV dan PRADA segede gaban bisa muat deh krupuk 10 bungkus juga.) haduhhh kenapa jadi aku yang emosi ya. padahal anak itu tetep pasang muka senyum dan lempeng.

    Sekali lagi si anak minta maaf dan pamit mengucapkan salam. Seperginya anak itu aku kembali tersadar dari bengong dan pinjam gunting ke kasir untuk buka krupuk. Tiba tiba ibu LV nyolek dan bilang

    “Enak nggak krupuknya? beli di bocah tadi kan? coba satu ya. punya saya masih belum dibuka, susah. pingin nyobain aja. makasih”sambi nyomot satu dari plastikku. Antara kaget, takjub dan nggak iklas membuatku terdiam (kayaknya mas mas yang layanin dan mbak mbak kasirnya senyum senyum liat ekspresiku deh).

    “ih enak ya. Tahu enak tadi aku beli 10 deh. murah lagi. Padahal kalau di G*** biasanya sekantong isi 10 gini kan 5000. ” huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa  GGGUUUBRAKKKKKKKKKKZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZ

    Ini adalah tulisan ketiga setelah 2 x draft sebelumnya terhapus begitu saja.