Select Page

Hari ini, saat ngedate bersama Khay (anak saya yang berusia 6 tahun), ditengah kesibukannya menikmati spagheti dia bercerita tetang kegiatan dan teman temannya hari ini disekolah. Sampailah pada obrolan tentang Allah.
“Bunda hari ini aku diteriakin rame rame sama beberapa temenku, A B C dan D. Mereka bilang aku dosa. Mereka bilang Kita harus takut pada Allah”
“Menurut Khay, kita bagaimana?”
“Kita nggak perlu takut pada Allah. Allah kan bukan hantu, bukan anjing yang suka menggigit atau banteng yang suka menyeruduk (hemm inilah konsep menakutkan ala khay rupanya). Kita kan harus mencintai Allah ya bunda. Kita melakukan sholat, dan sembahyang karena kita mencintai Allah kan bunda, bukan karena takut dimarahi Allah. Allah kan tidak pernah marah. katanya Allah itu selalu menyayangi kita.”

Setelah beberapa bulan yang lalu dia sempat menanyakan
“kalau Allah mengerti semua bahasa, kenapa kita tidak bilang dan cerita saja seperti aku cerita sama bunda? kenapa harus sholat? kenapa harus dengan bahasa Arab?

“Kenapa Allah menciptakan orang Jahat ya bunda? kenapa tidak Allah buat semua orang itu baik. eh tapi kalau semua baik nanti tidak berbeda beda… padahal kan berbeda itu baik…”

dan berbagai pernyataan serta opini yang selalu diakhiri dengan BUNDA TERSENYUM BANGGA