Select Page

“Seorang guru mempengaruhi keabadian, ia tak pernah tahu kapan pengaruhnya berhenti.” – Henry Adams

SEjanuari2012 (9)

Saat mengajar teman teman yang selalu berhubungan dengan pendidikan dan perkembangan anak-anak, terutama anak-anak usia dini, saya selalu mengatakan bahwa saya lebih beruntung dari mereka. Saat mengajar dan saya memberikan informasi yang salah kepada mahasiswa saya, maka tanggung jawab saya lebih pada mereka. Paling banter saya dibilang dosen nggak bermutu oleh mahasiswa saya dan saya kehilangan prestise. Sedangkan teman teman pengajar usia dini, yang nota bene merupakan usia GOLDEN AGE, memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar dan lebih berat. Dimana saat mereka melakukan kesalahan, kemungkinan koreksi dari murid sangat kecil. Bahkan sebagian besar yang terjadi adalah murid akan mempercayai kesalahan ini sebagai sebuah kebenaran yang mendasari pemikiran dan pola tingkah laku seumur hidup.

Itu jika berbicara tentang materi. Jika bicara tentang rasa percaya, saya juga lebih beruntung. Mahasiswa hanya mendengarkan pengajaran saya dan sering kali menanyakan ulang kebenaran informasi saya secara langsung maupun tidak. Sedangkan anak-anak selalu menganggap gurunya paling pintar, paling benar dan paling hebat, bahkan kadang dibanding orang tuanya sendiri. Banyak anak-anak yang lebih percaya dan lebih menurut pada pada gurunya dibanding orang tua. Alhasil Right or wrong  ajaran guru itulah yang benar yang harus diikuti.

Jika di dalam kelas, mahasiswa hanya melihat apa yang saya ajarkan diatas papan tulis, LCD ataupun kertas. Sangat berbeda dengan pendidikan usia dini, dimana anak-anak banyak mendengar, melihat dan meraba lalu menyerap di otaknya yang bagaikan sponge, menumpuknya disana dan mendasari semua kehidupan dari apa yang dia kumpulkan. Pendidikan anak-anak di usia Golden age  bukan hanya tentang apa yang kita ajarkan melalui kata kata saat mengajar, tapi  lebih pada apa yang dilihat didengar, diraba/dipegang  dan dilakukan oleh dan bersama bu guru.  Jika saya mengupil, memaki dan memukul meja saat mengajar, tidak akan mempengaruhi pemikiran anak didik saya, Paling citra saya saja yang berubah. Berbeda jika hal yang sama diakukan oleh para pendidik di sekolah untuk anak usia dini. Anak didiknya akan dengan mudahnya meniru dan menjadikan kebiasaan buruk tersebut, karena dianggap hal itu baik adanya.Jika seorang guru PAUD menyindir  atau becanda tentang seseorang maka anak didiknya bisa menganggap itu sebagai julukan atau label yang dapat mereka gunakan dalam menilai orang tersebut.

Sekolah (kelas) bagi mereka adalah tempat untuk belajar, berbagi, membentuk pondasi dan tumbuh. Apalagi untuk anak-anak yang ibu bapaknya sibuk berkarir hingga memilih menitipkan anaknya pada “guru” selama mereka bekerja. Walaupun tidak dipungkiri pengaruh terbesar tetap pada  lingkungan rumah dimana sebagian besar waktunya dihabiskan.

Jika kita  mau berhenti sesaat untuk mengenang dan merenungkan saat-saat di sekolah bersama  guru-guru, saya yakin kita semua bisa menunjukkan setidaknya satu hal yang diambil dari ajaran, contoh dan tauladan guru kita, yang membuat perbedaan dalam hidup kita. Saya sendiri beruntung karena pernah memiliki seorang guru yang paling cantik (setidaknya itulah yang saya rasakan saat saya masih di taman kanak kanak) dengan rambut panjangnya, tangan yang lembut dan tutur kata yang runtut selalu tersenyum. Saya selalu mengingat beliau sebagai wanita yang selalu bisa membuat dunia saya kembali menjadi indah seburuk apapun keadaannya (dan memang bukan masa yang indah bagi saya). Beliau banyak mengajari saya tentang bermain sambil berkarya, menari, menyanyi serta selalu tersenyum. Alhasil, saya di Taman kanak kanak sampai 6 tahun. Saat sudah seharusnya masuk SD, saya hanya seminggu di bangku SD dan kembali ke taman kanak kanak bu Wati. Saat kecil cita cita sayapun menjadi guru TK dan menjadi ibu seperti bu Wati.

Saat di sekolah dasar, hal yang paling berkesan bagi saya adalah Pak Sarwoko, kepala sekolah yang berpenampilan sangar. Meskipun sangar, Bapak kepala sekolah yang satu ini menjadi favorit saya. Beliau selalu tahu bagaimana membuat saya bersemangat untuk terus belajar dan belajar, membaca dan membaca, berkegiatan sebanyak mungkin, serta selalu menyelesaikan dengan sebaik mungkin, apa yang kita mulai. Meskipun sudah beberapa dasawarsa masa ini berlalu, kenangan, ajaran dan keindahan ini masih terus teringat. Sangat berbeda dengan memori SMP, SMA ataupun Kuliah yang hanya tersimpan beberapa saat dan hanya hal yang benar benar istimewaKesamaan kedua guru ini dalam kenangan saya adalah:

  1. Selalu berusaha dan pantang menyerah
  2. Selalu tersenyum dalam keadaan apapun
  3. Selalu berkreasi dan berkarya. Ikuti kegiatan apapaun yang memungkinkan dengan senang. To be creative, learn and fun
  4. Belajar dan sekolah itu menyenangkan
  5. Selalu menyelesaikan semampu kita sebaik mungkin sesuatu yang sudah kita mulai

Saat mengenang semua ini saya bersyukur bertemu dan memiliki guru guru yang istimewa, yang melihat saya sebagai seorang anak  istimewa. Saya bersyukur mereka selalu sabar serta memberikan suri tauladan positif bagi saya. Saat berbincang dengan mereka lima atau enam tahun lalu, mereka bilang saya adalah anak yang penuh ide, lincah, banyak maunya, tidak bisa diam, bawel suka nanya dan berpontensi untuk berkembang.  Mereka bilang pertanyaan pertanyaan dan kemauan saya yang menggebu gebu waktu kecil sering membuat mereka jengkel juga. Namun kejengkelan ini ternyata tidak pernah saya sadari sampai sekarang dan merekapun tidak pernah memaksa saya berubah menjadi seperti anak-anak lainnya. Seingat saya mereka selalu sabar menjawab pertanyaan saya (dan beberapa jawaban ini ternyata masih menjadi dasar pengetahuan saya sampai saat ini) dan selalu tersenyum. Tidak ada labeling, shouting, pengucilan, pembedaan apalagi judging dari mereka. Dalam pandangan saya, hal yang sama yang sering dialami oleh anak-anak seperti saya dan Khay. Oh ya, Khay adalah anak saya, yang kurang lebih punya sifat yang sama dengan bundanya. Untuk itu saya sangat bersyukur dan berharap Khay pun memiliki guru guru dengan kualitas yang sama.

Saya yakin sekali bahwa para guru yang memiliki pengaruh besar dalam hidup saya ini, sama sekali tidak pernah berpikir tentang besarnya pengaruh mereka. Sebagian besar para guru di TK dan SD tidak pernah mengira bahwa apa yang mereka katakan, lakukan dan ajarkan di lingkungan sekolah memiliki efek yang begitu besar.Karena sebagian besar hal hal yang berpengaruh pada kita adalah hal hal kecil yang tidak direncanakan. Sayangnya jika hal hal positif ini bisa memiliki pengaruh besar, hal hal negatifpun begitu juga. Jika dulu sebagian besar orang tua relatif masih memiliki waktu dengan anaknya, karena tuntutan jaman, saat ini orang tua lebh banyak mempercayakan pendidikan anak pada guru. Anak lebih banyak berinteraksi dengan lingkungan sekolah dibanding rumah. Itu berarti pengaruh guru menjadi lebih besar.

Beberapa ahli psikologi mengatakan bahwa keberhasilan seorang murid di sekolah tergantung pada adanya hubungan yang erat, saling percaya dan saling menjaga Antara si murid dengan satu orang dewasa di sekolah tersebut (biasanya guru). Dengan hubungan seperti ini akan membangun rasa percaya diri, rasa diakui, rasa aman dan munculnya rasa ingin membuktikan bahwa org yang disayanginya itu benar saat percaya “dirinya bisa”. Anak juga perlu merasa bahwa ada seseorang di lingkungan itu (sekolah) yang mereka tahu dan tahu dia ada. Mereka perlu tahu ada seseorang yang menyayangi dirinya apa adanya tanpa harus berubah menjadi seperti yang lain dan akan menjaga mereka jika terjadi sesuatu.

Namun secara logika pernyataan ini juga bisa berarti sebaliknya. Bahwa jika hubungan ini berubah menjadi buruk, si orang dewasa (guru) yang sudah “terlanjur” dipercaya dan harus dijaga perasaannya ini memiliki penilaian buruk dan ini berpengaruh pada cara sang guru menghadapi si anak, maka efeknyapun menjadi buruk. Saat seseorang memiliki stigma “anak nakal”, anak tidak mampu karena masih terlalu kecil”, “anak kurang ajar” anak bodoh” dan sebagainya, maka semua itu tanpa disadari akan muncul dalam sikap dan perkataan yang direkam dengan jelas oleh si anak, maupun teman temannya. Maka jangan heran jika kemudian teman teman si anak berpikir seperti “yang dipikirkan guru”. Akibatnya anakpun memndapat perlakuan yang berbedasesuai dengan labelingnya dan jika ini dibiarkan maka anak akan percaya bahwa dirinya seperti itu. Hal seperti ini sudah seringkali saya lihat di beberapa sekolah yang saya kunjungi. Bahkan anak-anak yang semula hanya “memiliki badan besar” (namun belum mampu mengontrol kekuatan dan gerakan), anak yang sangat aktif (belum masuk kategori hiperaktif sebenarnya), sangat pintar dan cepat belajar sesuatu (hingga sering merasa bosan karena harus menunggu temannya yang belum mengerti, pada akhirnya menjadi anak “bermasalah ataupun “berkebutuhan khusus” karena judging dari guru guru di sekolahnya dan berakibat pada salah penanganan. Tenyata sampai dia besar beberapa anak ini kadang masih harus berjuang melawan pemikirannya sendiri bahwa dirinya tidak bisa diam, didinya bodok, dirinya tidak bisa berlaku benar dan sebagainya.

Lalu saya mulai mencoba merumuskan guru yang baik dengan kata kata saya sendiri,

  • Seorang guru yang baik, pertama dan utama, melihat setiap murid sebagai individu yang unik dengan harapan, impian, kekuatan, dan kerentanan masing masing,
  • Seorang guru yang baik, bekerja untuk menciptakan suasana kelas yang harmonis dan dinamis, di mana setiap murid melihat setiap murid lain dalam sebuah pemikiran positif – di mana mereka memang berbeda satu sama lain, harus menghormati satu sama lain. Kewajiban guru adalah membuat suasana di mana setiap murid merasa cukup aman untuk berbagi pikiran dan perasaan mereka. Sebuah lingkungan kelas (bahkan sekolah)yang membuat kesalahan dipandang sebagai kesempatan untuk belajar daripada kesempatan untuk merasa gagal,
  • Seorang guru yang baik, tahu murid pada berbagai tingkatan. Memang Guru harus mengajar dan belajar tentang kekuatan dan kebutuhan akademis muridnya. Namun tak kalah pentingnya, guru juga harus belajar tentang kepentingan mereka, ketakutan, harapan dan kekhawatiran muridnya. Dengan begitu Guru membantu murid belajar tentang diri mereka sendiri dan membantu murid untuk belajar beberapa hal tentang satu sama lain, terutama kasih saying, kekuatan dan harapan,
  • Seorang guru yang baik, harus selalu ingat bahwa mengingat bahwa setiap murid adalah anak yang berharga dari orang tuanya. Kita semua pasti tahu bahwa setiap orang tua memiliki cita cita tinggi, kekhawatiran yang cukup kuat dan harapan besar untuk anak itu. Dalam hal ini Guru bekerja untuk membantu orang tua memahami tujuan dan untuk mengembangkan kepercayaan diri mereka- tidak mengganggu, menghambat atau bahkan menghancurkan pola didik orang tua. Tapi Guru bukan menggantikan orang tua melaksanakan tugas tersebut karena bagaimanapun Orang tua merupakan bagian integral dan penting dari pendidikan anak. Guru juga harus menyadari  seberapa besar pengaruh dapat dibuat dalam kehidupan seorang anak dan betapa sulitnya orang tua bisa memberikan mempercayakan anak mereka kepada orang lain.
  • Seorang guru yang baik, selalu mencoba untuk melihat hal-hal melalui mata murid juga, bekerja keras untuk menjadi adil, empati dan mendorong. Guru berusaha untuk mempertahankan harapan yang tinggi untuk setiap anak. Guru harus bisa menantang muridnya untuk meraih yang terbaik dan terbang ke bintang dimana  tujuannya adalah membuat mereka terus belajar, melakkan yang terbaik dan bukan nilai 1 sampai 10 di rapor.
  • Seorang guru yang baik, mampu membuat muridnya menyukai belajar dan sekolah (bukan sekolahannya secara fisik saja) melalui pembelajaran yang menarik. Guru membantu setiap murid menemukan minat bakatnya sendiri serta mengeksplorasinya lalu menguasainya hingga tingkat terbaik yang bisa dilakukan dan menguasai. Guru membantu murid melihat bahwa tujuan yang pada awalnya sulit pada akhirnya menjadi mudah, dan seringkali yang paling memuaskan adalah untuk mencapainya. Guru yang baik membantu murid untuk melihat hal-hal baru sebagai tantangan bukan rintangan ditakuti. Guru menunjukkan kepada mereka bahwa kesempurnaan tidak hanya tidak realistis, tetapi tidak diinginkan juga.
  • Seorang guru yang baik, akan melekat pada ingatan murid. Jika hal ini terjadi maka  akan sulit untuk mengucapkan selamat tinggal pada akhir tahun ajaran, berharap para murid akan datang kembali untuk mengunjungi. Mereka akan membawa kenangan guru yang di masa depan mereka dan dengan keberhasilan mereka.

Guru merupakan figur pengganti orang tua bagi anak-anak di sekolah, yang memberikan andil yang besar dalam tumbuh  kembang mereka. Guru akan memberikan perlindungan, pengajaran dan kebiasaan-kebiasaan  baru yang mendukung.Menurut  Covey (1997) ada empat prinsip peranan guru yang sangat berpengaruh dfalam dalam tumbuh kembang anak-anak, yaitu:

  1. Modelling (Example of trustworthness). Guru adalah contoh atau model bagi anak. Tidak dapat disangkal bahwa contoh guru mempunyai pengaruh yang sangat kuat bagi anak, sehingga Schweitz mengatakan bahwa ada tiga prinsip dalam mengembangkan anak  yeitu pertama contoh, kedua contoh dan ketiga contoh. Guru merupakan model bagi anak baik positif maupun negatif dan turut memberikan pola bagi way of life anak. Melalui modelling ini guru akan turut mewariskan cara berpikirnya kepada anak, oleh karena itu maka peranan modelling merupakan suatu yang sangat mendasar. Melalui modelling anak juga akan belajar tentang sikap proaktif, sikap respek dan kasih sayang.
  2. Mentoring yaitu kemampuan untuk menjalin atau membangun hubungan, investasi emosional atau pemberian perlindungan kepada orang lain secara mendalam, jujur, pribadi dan tidak bersyarat. Guru menjadi sumber pertama di sekolah bagi perkembangan perasaan anak: rasa aman atau tidak aman, dicintai atau dibenci. Ada lima cara untuk memberikan kasih sayang pada orang lain: (1) empathiing adalah mendengarkan hati orang lain dengan hati sendiri; (2) sharing adalah berbagi wawasan, emosi dan keyakinan; (3) affirming adalah memberikan ketegasan/penguatan kepada orang lain melalui kepercayaan, penilaian, konfirmasi, apresiasi dan dorongan; (4) praying  mendoakan orang lain secara ikhlas dari hati yang paling dalam dan (5) sacrificing  adalah berkorban untuk diri orang lain.
  3. Organazing  yaitu  sekolah memerlukan tim kerja dan kerjasama antar anggota dalam memenuhi tugas-tugas atau kebutuhan sekolah dan hal-hal penting.
  4. Teaching. Guru berperan sebagai pengajar bagi anak-anak tentang hukum-hukum dasar kehidupan. Melalui pengajaran ini, guru juga menciptakan concious competence pada diri anak yaiitu anak mengalami tentang apa yang mereka kerjakan dan alasan  mengapa mereka mengerjakan itu.

Gurupun manusia. Seperti halnya Bu Wati dan pak Sarwoko yang mengakui bahwa mereka kadang jengkel, sebel, emosi menghadapi shinta kecil yang nggak bisa diem dan terus bertanya samapai puas. Banyak hal hal kecil yang kemudian muncul saat hal seperti ini terjadi, yang tentu tidak menyenangkan kedua belah pihat. Itulah mengapa, menurut saya, Guru perlu mengambil waktu untuk diri mereka sendiri, luangkan waktu untuk merayakan semua pencapaian kecil dalam hidup, serta fokus pada anak yang diajarkan. Kesadaran akan peranan mereka jauh lebih penting saat hal seperti ini terjadi. Mungkin lebih baik, mundur sebentar untuk menata pikiran agar tidak menjadi negatif.

Guru tidak harus meminimalkan peran yang mereka mainkan dalam mempengaruhi kehidupan murid dan rasanya tidak mungkin. Namun sebagai guru, kita bisa membuat peran kita menjadi peran yang  positif, memiliki kualitas yang “dewasa karismatik” yang tidak hanya menyentuh pikiran murid, tetapi juga roh mereka , cara mereka melihat dan merasakan tentang diri mereka sendiri selama sisa hidup mereka. Pengaruh tersebut adalah benar-benar suatu kehormatan langka yang harus dihargai dan dipelihara. Karena peran guru terutama guru PAUD dan SD tidak hanya sebatas ruangan kelas, tapi jauh diluar kelas baik dari segi waktu maupun ruang.

Jakarta 16 Maret 2014

Shinta Kertasari