Category: Opini

  • Berpihak

    Ketika Media berpihak pada politik, dan awak media tidak lagi dapat membedakan antara profesional sebagai jurnalis yang harus berimbang dan berdasar pada kode etik dengan keberpihakan/kepentingan pribadi maka rakyatpun sulit membedakan mada yang laporan kejadian dan mana yang cerita … kritikus tidak mengkritik karena tau apa yang lebih baik dan memberikan kebaikan tapi karena rasa …. dan sejarah tidak pernah ditulis berdasarkan apa yang benar benar terjadi tetapi apa yang ingin ditulis oleh si pemenang

  • Harga Mati NKRI dan Pancasila, Prinsip LUBER (LANGSUNG UMUM BEBAS RAHASIA) masih berlaku

    10338750_10204014429899755_4883086584819346443_n copy Terus terang saya tidak menonton debat CAPRES di televisi. Mungkin salah saya juga, karena saya sudah skeptic dengan debat di televisi yang dikendalikan oleh i sutradarasemacam ini, akan menjadi sebuah tontonan belaka. Belum lagi iklan yang lalu lalang yang seandainya pun debat itu benar adanya, akan merusak konsentrasi dan  makna depat itu sendiri. Jika sudah begini, karena ini siaran langsung, bisa jadi kita akan kehilangan momen atau pernyataan penting yang “tidak sengaja” tertutup oleh iklan. Andai ada debat langsung yang disaksikan umum tanpa jeda iklan dimana peraturan ketenangan dan keseriusan dibacakan didepan, mungkin saya akan mengusahakan melihatnya.

    Saya tidak mengikuti berita ini itu atau foto ini dukung itu itu dukung ini yang bersliweran di  dunia sosmed. Karena 80% dari berita dan gambar itu sudah lebay.  Ada yang foto artis A, gambar kaosnya diubah  mendukung B. Setelah itu saya melihat sebuah foto liputan konser  teman saya,  berubah menjadi foto C kampanye. Foto ini sudah di gabung dengan foto lain di tempat yang berbeda sama sekali . Belum lagi saat mendengar sebuah cerita bahwa dibalik semua kampanye ini katanya ada sekelompok orang yg sama yang meranang kampanye B dan C demi perusahaan. Nggak salah dong kalau itu menguntungkan. Tinggal bikin dua perusahaan berbeda, hire orang yang beda,namun otaknya sama J. Sayang satu prinsip Public Relation yang selama ini saya pegang “Tidak berbohong” dan Tidak menjatuhkan saingan dengan issue negative, kadang dilupakan.

    Bagaimanapun juga,  saya mencoba melihat proses kampanye dua kubu ini sebagai bahan kuliah Marketing Komunikasi dan Teknis Publikasi yang ciamik. Peramuan berbagai teori dengan contohnya semua ada disini. Mau yang White campaign, dua kubu punya. Mau Frontal Black Campaign? Dua kubu bikin. Mau perencanaan marketing yang sangat detil dua kubu punya (dari bikin sebuah kejadian yang seolah tidak disengaja, kemudian membuat kritikan seolah dari lawan, lalu memunculkan pemberitaan yang seolah olah itu merupakan pembelaan atas serangan lawab sekaligus menarik simpati target tertentu misalnya). Semua ini diramu dalam sebuah ramuan ajaib kampanye,  yang kemudia ditelan mentah mentah oleh para pendukungnya bagaikan obat kuat yang membuat mereka merasa paling benar, paling hebat dan paling tahu. Meskipun seperti juga ramuan lainnya, ada efek samping yang seringkali tidak disebutkan.

    Alhasil berkat “ramuan ajaib” yang diminum kedua kubu ini, pertarungan muncul dan memanas. Upaya mendiskreditkan satu  capres melalui black campaign dan capres lain dengan kisah masa lalu membuat banyak pendukung yang saling menyerang dan menyalahkan.  Bahkan produk pers  tidak memenuhi persyaratan yang dibutuhkan sebagai sebuah produk pers yang didasari oleh etika media masa. Mungkin memang  sulit saat ini mengharapkan produk pers yang murni, karena merekapun terbit tidak berdasarkan Surat Ijin lembaga Pers namun cukup dengan surat ijin usaha atau perusahaan (yang notabene dengan profit). Hal hal yang semestinya menjadi rahasia negara demi kepentingan keamanan dan stabilitas negara dalam dan luar negeri pun mulai diacak acak dan diadu. Bahkan ada wacana untuk meninjau kembali pencalonan lawan.

    Jika melihat cara kampanye dan antusiasme akibat ramuan ajaib ini, seolah olah mereka baru puas setelah salah satu calon dijatuhkan dan mundur dari pencapresan. Padahal jika dikaji secara lebih luas seharusnya persaingan kampanye ini tidak boleh merugikan negara kan. Apalagi  sebenarnya secara peraturan, kedua kubu saling membutuhkan. Dalam undang undang di negara kita harus memiliki minimal 2 calon untuk diselenggarakan pemilu. Jika salah satu mundur maka alon lainpun akan gugur.  . Hanya satu Capres tentu bertentangan dengan Undang-Undang Pemilihan Umum dan pemilihan Presiden pasti akan ditunda dan penundaan ini bisa memberi peluang bagi munculnya kekacauan. Misalnya jika pencalonan Prabowo dianulir KPU maka pencapresan Jokowi harus diproses kembali. Jika sudah begini maka mungkin saja  akan muncul kekacauan  politik bisa terjadi, militer terpaksa turun tangan. KPU juga terpaksa mengumumkan penundaan Pilpres sampai masa yang akan ditentukan kemudian, bisa setelah berakhir masa jabatan Presiden.  Kemungkinan yang muncul selain kekosongan kekuasaan yang memungkinkan negara lain untuk masuk ke negara kita adalah MPR memberi perpanjangan masa jabatan  Presiden sebelumnya.  Vacum of Power atau kekosongan kekuasaan  terjadi anarchisme dan saling kudeta bahkan pihak asing menguasai negara kita, bagai rumah tanpa penghuni.

    Efek yang kedua, jikapun situasi ini terus berlangsung dan saling membuka borok lawan, terbayangkah nanti jika salah satu dari mereka menjadi presiden? Lalu borok borok atau isu isu negative itu dicatat oleh lawan negara dan dijadikan alat mendeskreditkan presiden kita? Trus bagaimana presiden dan negara kita bisa dihargai oleh negara kita  kalau kita sendiri tidak menghargainya?Padahal kadang menurut saya, kesalahan kesalahan capres tersebut juga nggak fatal fatal amat, manusiawi kok. Misalnya : Ketika Prabowo tidak tahu singkatan “TPID” kalo nggak salah dalam acara depat presiden. Trus ribut, banyak yang mencibor, mengolok olok, merendahkan dan sebagainya. Bahkan lama lama jadi fitnah. Padahal menurut saya manusiawi kok. Kalau kebetulan pak Jokowi tahu itu juga karena beliau mendapat penghargaan. Jadi bukan karena lebih tau satu singkatan trus pak Jokowi lebih pintar toh? Gimana kalau dibales pak Prabowo  dengan singkatan atau jargon militer yang tidak pernah digunakan diluar pasukan? (dalam konteks presiden sebagai panglima tertinggi militer di Indonesia) Trus pak Jokowi juga jadi bego? Wah kalau begitu semua bego dong (termasuk saya dan anda yang saya yakin tidak tahu semua singkatan yang ada di dunia ini). Sering lho mahasiswa komunikasi saya memberikan tidak hanya singkatan tapi juga ilmu baru tentang komunikasi keada saya.  Seorang professor dibidang Geologi tidak tahu nama satu batu yang dibawa mahasiwanya dari kampong, tentu tidak membuatnya harus dicopot gelar professor geologinya kan? Atau seorang habib yang tidak tahu sebuah hadist apa berarti dia tidak pantas menyandang gelar habibnya? Padahal saya pernah diberitahu oleh eyang saya kalau ilmu manusia itu hanya setitik air di samudra ilmu yang luas.

    Masalah kertas terselip di baju pak Jokowi (entah itu bagian dari renana marketing komunikasi atau bukan ya), misalnyapun itu catatan pengingat apa harus dikatakan saat berbicara di depan umum, apa yang salah? Bukankah itu hanya berarti bahwa pak Jokowi punya persiapan dan menghindari kesalahan ?  Bukankah itu hal yang baik? Toh dalam debat dan pidato tidak ada peraturan dilarang membawa catatan kan? Kalau ujian closebook, baru itu dibilang nyontek karena ada aturan jelasnya.  Itu kalau memang catatan pengingat Apa yang terselip di baju kita bisa apa saja kan?  Misalnya sebelum naik ke mimbar ada yang tiba tiba kasih kartu nama atau pengingat atau apapun, dank arena buru buru kita selipkan saja di saku. Manusiawi kan?

    Masalah Umrahnya pak Jokowi yang hanya pencitraan dan ihrom yang katanya terbalik. Pencintraan atau bukan, ibadah diterima atau tidak, itu bu10511225_249232521936706_5662418762072659906_nkan hak manusia utnuk menilainya. itu hak yang beribadah dan Allah. Kenapa jadi kita yang ributin? Wong yang haji serius aja bisa nggak diterima katanya. Nah untuk urusan ihrom, saya yang ilmu agamanya hanya seperti “setetes air di samudra ini” agak bingung. Namun saat bertanya pada seorang yang dianggap ahli (tanpa bawa bawa jokowi lho) jawabannya adalah “menurut fiqih islam dalam rukun haji / umroh ttg penggunaan kain ihrom di kiri adalah yg saat thawaf mengelilingi Kabah . Setelah itu boleh bebas diselempangkan sisi manapun juga atau dikerudungkan boleh . Nah kalau begitu kenapa jadi masalah? bisa saja saat itu Jokowi tidak sedang tawaf atau sudah tawaf dan ihromnya lepas slempangnya dan karena berdesak desakan trus buru buru slempangin. Toh banyak juga yang tidak berihrom disitu. 

     

    Kemudian masalah Kalpataru dan Adipura, semua mentertawakan Hatta dari nomor 1 yang “katanya tidak bisa membedakan anata kalpataru dan adipura. Benarkah? setelah baca banyak kiriman tentang debat capres (karena saya memilih untuk bikin rancangan buku berikutnya daripada nonton) saya sempat percaya dengan “kata teman teman” tersebut. Namun kemudian saya membaca sebuah berita di kompasiana.com dimana  katanya JAKARTAPOST saudaranya menyatakan mendukung capres no 2, saya mulai penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Lalu sayapun menonton rekaman debat tersebut dan saya setuju dengan rangkuman kompasiana yang kurang lebih seperti ini:

    Ada yang menarik saat segmen final debat capres 2014 yang baru saja usai digelar oleh KPU. Pada segmen ke-5 dalam arena tanya jawab, JK kembali kelirumengartikan rentetan pertanyaan yang diajukan oleh Hatta Rajasa:

    Pak Joko Widodo dan pak Jusuf kalla, kembali kepada lingkungan hidup. Kita ingin lingkungan bersih, sehat. Upaya kita dalam membangun udara lebih sehat, seberapa jauh pandangan pak Jokowi terhadap ini?

    Jokowi :

    Menurut saya kalpataru, penghargaan itu diberikan kepada perseorangan dan lembaga. Tetapi bukan hanya piala saja, seharusnya ada insentif, sehingga mereka merasa dihargai.

    Dengan adanya insentif dan anggaran, mereka akan benar-benar bekerja dengan lebih baik lagi, memperbaiki lahan tanam, memperbaiki pengairan dan pelembagaan di desa.

    Pada akhirnya tidak hanya satu dua tetapi semakin banyak yang bekerja untuk mendapatkan kalpataru untuk negara yang kita cintai ini.

    Hatta :

    Bentuk penghargaan apakah dalam piala atau insentif, itu bukanlah hal yang penting. Tetapi prinsipnya adalah penghargaan itu diberikan. Pertanyaannya mengapa DKI dan Solo tidak pernah dapat?

    Jusuf Kalla:

    Pertanyaan bapak bagus tetapi keliru, kota penghargaannya adipura bukan kalpataru, saya tidak perlu jawab.

    Kita perhatikan. Saat itu Hatta mengajukan pertanyaan yang sifatnya menjebak pada Jokowi mengenai pandangannya tentang LINGKUNGAN YANG BERSIH DAN SEHAT. Jokowi sebenarnya faham arah dari pertanyaan Hatta ini pasti ingin menyindir kegagalan Adipura waktu ia menjabat. Jokowi menjawab dengan elegan dan lugas, walau sedikit terpeleset dengan mengkaitkan maksud sindiran itu pada KALPATARU. Padahal jika dikembalikan pada pertanyaan Hatta tentu yang dimaksud Hatta sebenarnya soal ADIPURA yang tidak didapat oleh Jokowi selama memimpin di DKI atau Solo.

    Berdasarkan pandangan Jokowi tersebut, Hatta menanggapi bahwa yang penting bukanlah penghargaan dalam bentuk piala dan intensif, tetapi makna dari diterimanya penghargaan tersebut. lalu Hatta mempertanyakan, jika menurut Jokowi penghargaan itu cukup penting, mengapa DKI dan Solo tidak mendapatkannya?

    Jika hanya melihat sepotong antara saat pak Hatta bilang kalpataru dan jawaban pak JK memang sangat yakin jika orang kemudian mengira pak Hatta tidak tahu bedanya adipura dan kalpataru. Namun jika dilihat dari rangkaian pembicaraan  maka sebenarnya jokowilah yang ingin menghindari adipura dengan membelokkan masalah penghargaan lingkungan hidup (notabene yang dimaksud adipura)  ke kalpataru dan JK yang kemudian mengambil alih (sedikit emosi) menyalahkan Hatta yang hanya mengulang kata kata Jokowi.  Mungkin kurang konsentrasi karena baru saja sakit ya, jadi wajar.

    Dari presiden terdahulu sampai presiden  sekarang, hal yang pasti adalah over expectations. Baru sehari, seminggu atau sebulan  duduk di kursi kepresidennya, maunya semua masalah selesai. Menjadi presiden berarti harus tahu semua masalah rakyatnya plus masalah di seluruh dunia. Termasuk harus tahu pake baju apa kalau tiba tiba ketemu si fulan di jalan.  Baru sehari duduk di kursi presiden maunya semua yang diinginkan sudah disediakan oleh presiden. Presiden harus menyelesaikan semua masalah dengan cepat, harus ada di semua tempat tapi juga harus ikutan macet macetan karena nggak boleh lewat duluan (nyusahin rakyat kalau pake nyetop sana sini dan pake paswalpres). Presiden pake baju murah atau biasa biasa saja dibilang “Presiden kok kere, malu maluin rakyat” pake baju mahal “presiden kok bajunya mahal nggak inget rakyatnya”.  Bahkan baru jadi calon presiden aja sudah harus sakti mandraguna dan pandai sulap sihir.

    Buat saya, apapun alasannya membuka aib orang lain adalah tidak baik. Menyampaikan fakta  memang tipis batasannya dengan membuka aib orang ya. Sebuah fakta memang akurat dengan data data yang lengkap dan terbukti (bukan katanya atau copy paste) itu adalah informasi. Selain dari itu? Tingkah dan reaksi berlebihan dari pendukung dua pihak ini tidak lucu sama sekali. Kita punya masalah akan empati dan emosional behavior serius. Betapa mudahnya orang mentertawakan orang lain, hingga lupa, kalau dia juga tidak sempurna. Dan lupakan kalian, kita ditonton banyak orang. Anak2 kita, remaja2 kita, mereka menonton. Kalian mau jika mereka berpikir: “oh ternyata mentertawakan orang lain itu boleh.” “oh ternyata malah asyik dan seru.” Kita lupa bahwa yang kita hina dan jatuhkan itu nantinya akan menjadi pemimpin negara kita.  Mengkritik itu jauh lebih mudah daripada memperbaiki. Sebelum mengkritk sebaiknya anda tahu bagaimana baiknya dan berikan solusi.

    Kedua capres yang dihina hina dikorek korek kesalahannya itu adalah saudara kita sebangsa dan setanahair, yang sama dengan kita, tidak sempurna. Bedanya mereka memiliki kemauan untuk berbuat lebih bagi bangsa ini dengan perjuangan yang lebih untuk menjadi seperti mereka.  Nantinya, salah satu dari mereka akan menjadi kepala negara kita yang kita bebani dengan berbagai keinginan dan pengharapan kita.  Menghina mereka berarti menghina kepala kita sendiri . Jangan hanya marah saat negara lain menghina dan menginjak injak kepala kita namun disaat yang sama kita juga menghina kepala kita sendiri. Dan bagi saudaraku yang muslim, bukannya ada hadist yang melarang kita untuk saling menghina dan membuka aib saudara kita sesame muslim? (dua capres kita muslim lho) pilih

    Jadi tidak boleh punya jagoan? Boleh. Tapi kalau kata eyang saya Sakmadyo. Tidak perlu berlebihan.  Ada yang melemparkan issue langsung nyolot. Melihat celah menghina capres lawab langsung disambut dan ditambah tambah. Biar apa? Seru? Ramai? Dibilang hebat dan tau banyak? Waduhhhhh!!!! Bukankah tujuan awalnya hanya memilih calon yang terbaik? Bagaimana kalau biarkan semua pada porsi dan tugasnya. Simak,  saring telaah dan pilih. Bukannya prinsip pemilu masih sama; LUBER : Langung memilih di TPS, Umum dimana semua orang mendapatkan haknya menggunakan kesempatan memilih, Bebas memilih calon manapun tanpa paksaan dan RAHASIA. Apapun hasilnya dan siapapun presidennya nanti, semoga saat terpilih akan didukung sepenuhnya oleh rakyat Indonesia termasuk para politikus dan cendekiawan dadakan yang saat ini berseberangan, demi NKRI, demi bangsa kita, demi kita sendiri.  Mari berkarya dan melakukan yang terbaik, dimulai dari diri sendiri. Siapapun pilihannya silahkan diberikan tanggal 9 nanti dan setelah itu yang menang amanah yang kalah legowo iklas dalam SALAM 10 JARI dimana jari 1 dan jari 2 bersama 7 jari lainnya bersatu berjabat erat lalu bekerja untuk bangsa ini… selamat berdamai, selamat berpuasa dan salam 10 jari persaudaraan

    Catatan ini terinspirasi dari berbagai tulisan di media sosial dan blog banyak orang 🙂

  • Pengaruh Guru Pendidikan usia dini: Tidak Hanya di Kelas, Tapi Jauh Lebih Luas (Baik Dari Sisi Ruang Maupun Waktu)

    “Seorang guru mempengaruhi keabadian, ia tak pernah tahu kapan pengaruhnya berhenti.” – Henry Adams

    SEjanuari2012 (9)

    Saat mengajar teman teman yang selalu berhubungan dengan pendidikan dan perkembangan anak-anak, terutama anak-anak usia dini, saya selalu mengatakan bahwa saya lebih beruntung dari mereka. Saat mengajar dan saya memberikan informasi yang salah kepada mahasiswa saya, maka tanggung jawab saya lebih pada mereka. Paling banter saya dibilang dosen nggak bermutu oleh mahasiswa saya dan saya kehilangan prestise. Sedangkan teman teman pengajar usia dini, yang nota bene merupakan usia GOLDEN AGE, memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar dan lebih berat. Dimana saat mereka melakukan kesalahan, kemungkinan koreksi dari murid sangat kecil. Bahkan sebagian besar yang terjadi adalah murid akan mempercayai kesalahan ini sebagai sebuah kebenaran yang mendasari pemikiran dan pola tingkah laku seumur hidup.

    Itu jika berbicara tentang materi. Jika bicara tentang rasa percaya, saya juga lebih beruntung. Mahasiswa hanya mendengarkan pengajaran saya dan sering kali menanyakan ulang kebenaran informasi saya secara langsung maupun tidak. Sedangkan anak-anak selalu menganggap gurunya paling pintar, paling benar dan paling hebat, bahkan kadang dibanding orang tuanya sendiri. Banyak anak-anak yang lebih percaya dan lebih menurut pada pada gurunya dibanding orang tua. Alhasil Right or wrong  ajaran guru itulah yang benar yang harus diikuti.

    Jika di dalam kelas, mahasiswa hanya melihat apa yang saya ajarkan diatas papan tulis, LCD ataupun kertas. Sangat berbeda dengan pendidikan usia dini, dimana anak-anak banyak mendengar, melihat dan meraba lalu menyerap di otaknya yang bagaikan sponge, menumpuknya disana dan mendasari semua kehidupan dari apa yang dia kumpulkan. Pendidikan anak-anak di usia Golden age  bukan hanya tentang apa yang kita ajarkan melalui kata kata saat mengajar, tapi  lebih pada apa yang dilihat didengar, diraba/dipegang  dan dilakukan oleh dan bersama bu guru.  Jika saya mengupil, memaki dan memukul meja saat mengajar, tidak akan mempengaruhi pemikiran anak didik saya, Paling citra saya saja yang berubah. Berbeda jika hal yang sama diakukan oleh para pendidik di sekolah untuk anak usia dini. Anak didiknya akan dengan mudahnya meniru dan menjadikan kebiasaan buruk tersebut, karena dianggap hal itu baik adanya.Jika seorang guru PAUD menyindir  atau becanda tentang seseorang maka anak didiknya bisa menganggap itu sebagai julukan atau label yang dapat mereka gunakan dalam menilai orang tersebut.

    Sekolah (kelas) bagi mereka adalah tempat untuk belajar, berbagi, membentuk pondasi dan tumbuh. Apalagi untuk anak-anak yang ibu bapaknya sibuk berkarir hingga memilih menitipkan anaknya pada “guru” selama mereka bekerja. Walaupun tidak dipungkiri pengaruh terbesar tetap pada  lingkungan rumah dimana sebagian besar waktunya dihabiskan.

    Jika kita  mau berhenti sesaat untuk mengenang dan merenungkan saat-saat di sekolah bersama  guru-guru, saya yakin kita semua bisa menunjukkan setidaknya satu hal yang diambil dari ajaran, contoh dan tauladan guru kita, yang membuat perbedaan dalam hidup kita. Saya sendiri beruntung karena pernah memiliki seorang guru yang paling cantik (setidaknya itulah yang saya rasakan saat saya masih di taman kanak kanak) dengan rambut panjangnya, tangan yang lembut dan tutur kata yang runtut selalu tersenyum. Saya selalu mengingat beliau sebagai wanita yang selalu bisa membuat dunia saya kembali menjadi indah seburuk apapun keadaannya (dan memang bukan masa yang indah bagi saya). Beliau banyak mengajari saya tentang bermain sambil berkarya, menari, menyanyi serta selalu tersenyum. Alhasil, saya di Taman kanak kanak sampai 6 tahun. Saat sudah seharusnya masuk SD, saya hanya seminggu di bangku SD dan kembali ke taman kanak kanak bu Wati. Saat kecil cita cita sayapun menjadi guru TK dan menjadi ibu seperti bu Wati.

    Saat di sekolah dasar, hal yang paling berkesan bagi saya adalah Pak Sarwoko, kepala sekolah yang berpenampilan sangar. Meskipun sangar, Bapak kepala sekolah yang satu ini menjadi favorit saya. Beliau selalu tahu bagaimana membuat saya bersemangat untuk terus belajar dan belajar, membaca dan membaca, berkegiatan sebanyak mungkin, serta selalu menyelesaikan dengan sebaik mungkin, apa yang kita mulai. Meskipun sudah beberapa dasawarsa masa ini berlalu, kenangan, ajaran dan keindahan ini masih terus teringat. Sangat berbeda dengan memori SMP, SMA ataupun Kuliah yang hanya tersimpan beberapa saat dan hanya hal yang benar benar istimewaKesamaan kedua guru ini dalam kenangan saya adalah:

    1. Selalu berusaha dan pantang menyerah
    2. Selalu tersenyum dalam keadaan apapun
    3. Selalu berkreasi dan berkarya. Ikuti kegiatan apapaun yang memungkinkan dengan senang. To be creative, learn and fun
    4. Belajar dan sekolah itu menyenangkan
    5. Selalu menyelesaikan semampu kita sebaik mungkin sesuatu yang sudah kita mulai

    Saat mengenang semua ini saya bersyukur bertemu dan memiliki guru guru yang istimewa, yang melihat saya sebagai seorang anak  istimewa. Saya bersyukur mereka selalu sabar serta memberikan suri tauladan positif bagi saya. Saat berbincang dengan mereka lima atau enam tahun lalu, mereka bilang saya adalah anak yang penuh ide, lincah, banyak maunya, tidak bisa diam, bawel suka nanya dan berpontensi untuk berkembang.  Mereka bilang pertanyaan pertanyaan dan kemauan saya yang menggebu gebu waktu kecil sering membuat mereka jengkel juga. Namun kejengkelan ini ternyata tidak pernah saya sadari sampai sekarang dan merekapun tidak pernah memaksa saya berubah menjadi seperti anak-anak lainnya. Seingat saya mereka selalu sabar menjawab pertanyaan saya (dan beberapa jawaban ini ternyata masih menjadi dasar pengetahuan saya sampai saat ini) dan selalu tersenyum. Tidak ada labeling, shouting, pengucilan, pembedaan apalagi judging dari mereka. Dalam pandangan saya, hal yang sama yang sering dialami oleh anak-anak seperti saya dan Khay. Oh ya, Khay adalah anak saya, yang kurang lebih punya sifat yang sama dengan bundanya. Untuk itu saya sangat bersyukur dan berharap Khay pun memiliki guru guru dengan kualitas yang sama.

    Saya yakin sekali bahwa para guru yang memiliki pengaruh besar dalam hidup saya ini, sama sekali tidak pernah berpikir tentang besarnya pengaruh mereka. Sebagian besar para guru di TK dan SD tidak pernah mengira bahwa apa yang mereka katakan, lakukan dan ajarkan di lingkungan sekolah memiliki efek yang begitu besar.Karena sebagian besar hal hal yang berpengaruh pada kita adalah hal hal kecil yang tidak direncanakan. Sayangnya jika hal hal positif ini bisa memiliki pengaruh besar, hal hal negatifpun begitu juga. Jika dulu sebagian besar orang tua relatif masih memiliki waktu dengan anaknya, karena tuntutan jaman, saat ini orang tua lebh banyak mempercayakan pendidikan anak pada guru. Anak lebih banyak berinteraksi dengan lingkungan sekolah dibanding rumah. Itu berarti pengaruh guru menjadi lebih besar.

    Beberapa ahli psikologi mengatakan bahwa keberhasilan seorang murid di sekolah tergantung pada adanya hubungan yang erat, saling percaya dan saling menjaga Antara si murid dengan satu orang dewasa di sekolah tersebut (biasanya guru). Dengan hubungan seperti ini akan membangun rasa percaya diri, rasa diakui, rasa aman dan munculnya rasa ingin membuktikan bahwa org yang disayanginya itu benar saat percaya “dirinya bisa”. Anak juga perlu merasa bahwa ada seseorang di lingkungan itu (sekolah) yang mereka tahu dan tahu dia ada. Mereka perlu tahu ada seseorang yang menyayangi dirinya apa adanya tanpa harus berubah menjadi seperti yang lain dan akan menjaga mereka jika terjadi sesuatu.

    Namun secara logika pernyataan ini juga bisa berarti sebaliknya. Bahwa jika hubungan ini berubah menjadi buruk, si orang dewasa (guru) yang sudah “terlanjur” dipercaya dan harus dijaga perasaannya ini memiliki penilaian buruk dan ini berpengaruh pada cara sang guru menghadapi si anak, maka efeknyapun menjadi buruk. Saat seseorang memiliki stigma “anak nakal”, anak tidak mampu karena masih terlalu kecil”, “anak kurang ajar” anak bodoh” dan sebagainya, maka semua itu tanpa disadari akan muncul dalam sikap dan perkataan yang direkam dengan jelas oleh si anak, maupun teman temannya. Maka jangan heran jika kemudian teman teman si anak berpikir seperti “yang dipikirkan guru”. Akibatnya anakpun memndapat perlakuan yang berbedasesuai dengan labelingnya dan jika ini dibiarkan maka anak akan percaya bahwa dirinya seperti itu. Hal seperti ini sudah seringkali saya lihat di beberapa sekolah yang saya kunjungi. Bahkan anak-anak yang semula hanya “memiliki badan besar” (namun belum mampu mengontrol kekuatan dan gerakan), anak yang sangat aktif (belum masuk kategori hiperaktif sebenarnya), sangat pintar dan cepat belajar sesuatu (hingga sering merasa bosan karena harus menunggu temannya yang belum mengerti, pada akhirnya menjadi anak “bermasalah ataupun “berkebutuhan khusus” karena judging dari guru guru di sekolahnya dan berakibat pada salah penanganan. Tenyata sampai dia besar beberapa anak ini kadang masih harus berjuang melawan pemikirannya sendiri bahwa dirinya tidak bisa diam, didinya bodok, dirinya tidak bisa berlaku benar dan sebagainya.

    Lalu saya mulai mencoba merumuskan guru yang baik dengan kata kata saya sendiri,

    • Seorang guru yang baik, pertama dan utama, melihat setiap murid sebagai individu yang unik dengan harapan, impian, kekuatan, dan kerentanan masing masing,
    • Seorang guru yang baik, bekerja untuk menciptakan suasana kelas yang harmonis dan dinamis, di mana setiap murid melihat setiap murid lain dalam sebuah pemikiran positif – di mana mereka memang berbeda satu sama lain, harus menghormati satu sama lain. Kewajiban guru adalah membuat suasana di mana setiap murid merasa cukup aman untuk berbagi pikiran dan perasaan mereka. Sebuah lingkungan kelas (bahkan sekolah)yang membuat kesalahan dipandang sebagai kesempatan untuk belajar daripada kesempatan untuk merasa gagal,
    • Seorang guru yang baik, tahu murid pada berbagai tingkatan. Memang Guru harus mengajar dan belajar tentang kekuatan dan kebutuhan akademis muridnya. Namun tak kalah pentingnya, guru juga harus belajar tentang kepentingan mereka, ketakutan, harapan dan kekhawatiran muridnya. Dengan begitu Guru membantu murid belajar tentang diri mereka sendiri dan membantu murid untuk belajar beberapa hal tentang satu sama lain, terutama kasih saying, kekuatan dan harapan,
    • Seorang guru yang baik, harus selalu ingat bahwa mengingat bahwa setiap murid adalah anak yang berharga dari orang tuanya. Kita semua pasti tahu bahwa setiap orang tua memiliki cita cita tinggi, kekhawatiran yang cukup kuat dan harapan besar untuk anak itu. Dalam hal ini Guru bekerja untuk membantu orang tua memahami tujuan dan untuk mengembangkan kepercayaan diri mereka- tidak mengganggu, menghambat atau bahkan menghancurkan pola didik orang tua. Tapi Guru bukan menggantikan orang tua melaksanakan tugas tersebut karena bagaimanapun Orang tua merupakan bagian integral dan penting dari pendidikan anak. Guru juga harus menyadari  seberapa besar pengaruh dapat dibuat dalam kehidupan seorang anak dan betapa sulitnya orang tua bisa memberikan mempercayakan anak mereka kepada orang lain.
    • Seorang guru yang baik, selalu mencoba untuk melihat hal-hal melalui mata murid juga, bekerja keras untuk menjadi adil, empati dan mendorong. Guru berusaha untuk mempertahankan harapan yang tinggi untuk setiap anak. Guru harus bisa menantang muridnya untuk meraih yang terbaik dan terbang ke bintang dimana  tujuannya adalah membuat mereka terus belajar, melakkan yang terbaik dan bukan nilai 1 sampai 10 di rapor.
    • Seorang guru yang baik, mampu membuat muridnya menyukai belajar dan sekolah (bukan sekolahannya secara fisik saja) melalui pembelajaran yang menarik. Guru membantu setiap murid menemukan minat bakatnya sendiri serta mengeksplorasinya lalu menguasainya hingga tingkat terbaik yang bisa dilakukan dan menguasai. Guru membantu murid melihat bahwa tujuan yang pada awalnya sulit pada akhirnya menjadi mudah, dan seringkali yang paling memuaskan adalah untuk mencapainya. Guru yang baik membantu murid untuk melihat hal-hal baru sebagai tantangan bukan rintangan ditakuti. Guru menunjukkan kepada mereka bahwa kesempurnaan tidak hanya tidak realistis, tetapi tidak diinginkan juga.
    • Seorang guru yang baik, akan melekat pada ingatan murid. Jika hal ini terjadi maka  akan sulit untuk mengucapkan selamat tinggal pada akhir tahun ajaran, berharap para murid akan datang kembali untuk mengunjungi. Mereka akan membawa kenangan guru yang di masa depan mereka dan dengan keberhasilan mereka.

    Guru merupakan figur pengganti orang tua bagi anak-anak di sekolah, yang memberikan andil yang besar dalam tumbuh  kembang mereka. Guru akan memberikan perlindungan, pengajaran dan kebiasaan-kebiasaan  baru yang mendukung.Menurut  Covey (1997) ada empat prinsip peranan guru yang sangat berpengaruh dfalam dalam tumbuh kembang anak-anak, yaitu:

    1. Modelling (Example of trustworthness). Guru adalah contoh atau model bagi anak. Tidak dapat disangkal bahwa contoh guru mempunyai pengaruh yang sangat kuat bagi anak, sehingga Schweitz mengatakan bahwa ada tiga prinsip dalam mengembangkan anak  yeitu pertama contoh, kedua contoh dan ketiga contoh. Guru merupakan model bagi anak baik positif maupun negatif dan turut memberikan pola bagi way of life anak. Melalui modelling ini guru akan turut mewariskan cara berpikirnya kepada anak, oleh karena itu maka peranan modelling merupakan suatu yang sangat mendasar. Melalui modelling anak juga akan belajar tentang sikap proaktif, sikap respek dan kasih sayang.
    2. Mentoring yaitu kemampuan untuk menjalin atau membangun hubungan, investasi emosional atau pemberian perlindungan kepada orang lain secara mendalam, jujur, pribadi dan tidak bersyarat. Guru menjadi sumber pertama di sekolah bagi perkembangan perasaan anak: rasa aman atau tidak aman, dicintai atau dibenci. Ada lima cara untuk memberikan kasih sayang pada orang lain: (1) empathiing adalah mendengarkan hati orang lain dengan hati sendiri; (2) sharing adalah berbagi wawasan, emosi dan keyakinan; (3) affirming adalah memberikan ketegasan/penguatan kepada orang lain melalui kepercayaan, penilaian, konfirmasi, apresiasi dan dorongan; (4) praying  mendoakan orang lain secara ikhlas dari hati yang paling dalam dan (5) sacrificing  adalah berkorban untuk diri orang lain.
    3. Organazing  yaitu  sekolah memerlukan tim kerja dan kerjasama antar anggota dalam memenuhi tugas-tugas atau kebutuhan sekolah dan hal-hal penting.
    4. Teaching. Guru berperan sebagai pengajar bagi anak-anak tentang hukum-hukum dasar kehidupan. Melalui pengajaran ini, guru juga menciptakan concious competence pada diri anak yaiitu anak mengalami tentang apa yang mereka kerjakan dan alasan  mengapa mereka mengerjakan itu.

    Gurupun manusia. Seperti halnya Bu Wati dan pak Sarwoko yang mengakui bahwa mereka kadang jengkel, sebel, emosi menghadapi shinta kecil yang nggak bisa diem dan terus bertanya samapai puas. Banyak hal hal kecil yang kemudian muncul saat hal seperti ini terjadi, yang tentu tidak menyenangkan kedua belah pihat. Itulah mengapa, menurut saya, Guru perlu mengambil waktu untuk diri mereka sendiri, luangkan waktu untuk merayakan semua pencapaian kecil dalam hidup, serta fokus pada anak yang diajarkan. Kesadaran akan peranan mereka jauh lebih penting saat hal seperti ini terjadi. Mungkin lebih baik, mundur sebentar untuk menata pikiran agar tidak menjadi negatif.

    Guru tidak harus meminimalkan peran yang mereka mainkan dalam mempengaruhi kehidupan murid dan rasanya tidak mungkin. Namun sebagai guru, kita bisa membuat peran kita menjadi peran yang  positif, memiliki kualitas yang “dewasa karismatik” yang tidak hanya menyentuh pikiran murid, tetapi juga roh mereka , cara mereka melihat dan merasakan tentang diri mereka sendiri selama sisa hidup mereka. Pengaruh tersebut adalah benar-benar suatu kehormatan langka yang harus dihargai dan dipelihara. Karena peran guru terutama guru PAUD dan SD tidak hanya sebatas ruangan kelas, tapi jauh diluar kelas baik dari segi waktu maupun ruang.

    Jakarta 16 Maret 2014

    Shinta Kertasari

  • Salah Pemberitaan dan Hak Jawab

    Kesalahan komunikasi dalam sebuah organisasi, sekecil apapun, ternyata bisa berakibat sangat fatal. Kadang bukan hanya dalam lingkup keorganusasian, ternyata pada akhirnya bisa merembet ke pribadi masing masing pengurus dan anggota. Apalagi jika ditambah nafsu “mencari siapa yang salah-dan bukan saya” berujung debat kusir tanpa akhir. Itulah cerita yang saya dengar belakangan ini.

    (more…)

  • Teori Kertas Putih dan Anakku

    Teori “tabula rasa” sebagai kelanjutan pendapat Aristoteles, secara garis besar menganalogikan manusia ( bayi ) sebagai kertas putih dan menjadikan hitam atau berwarna lain, adalah pengalaman atau hasil interaksi dengan lingkungannya. Bagaimana dia jadinya kelak, tergantung bagaimana orang tuanya menorehkan pena kehidupan, bagaimana lingkungan dan dunia memberikan warnanya.

    (more…)

  • Privacy, dulu dan kini

    Saya terlibat satu pembicaraan kecil dengan teman setelah melihat sebuah foto dimana wajah saya tampak disitu dan seorang kawan men-tag saya.

    Fotonya biasa saja, bahkan saya sedang di kerubuti para bidadari hehe. Tapi yang sedikit tersentil adalah, kalau dulu rasanya sangat mudah kita membuat persembunyian untuk tak di ketahui orang. Tapi untuk saat ini, walaupun kita sudah bersembunyi sebaik-baiknya, tetap saja bisa muncul dimana saja dari kisah orang lain. Baik itu blog atau site2x jejaring sosial seperti facebook yang sekarang ini sedang booming.

    Informasi yang beredar bisa muncul dari mana saja, bocor dari mana saja dengan begitu banyaknya forum dan situs jejaring sosial yang terus bertambah. Dan informasi tersebut semakin mudah pula di temukan dengan tersedianya situs pencari yang semakin canggih.

    Sementara itu, banyak orang yang kurang tahu kalau atas persetujuannya informasi-informasi miliknya, termasuk yang pribadi diberikan untuk di komersilkan atau untuk keperluan lainnya ketika mendaftarkan diri pada sebuah site. Google atau facebook misalnya. Pada saat mendaftar kita telah menyetujui dan memperbolehkan mereka menggunakan informasi-informasi milik kita untuk kepentingan mereka.

    Saya sendiri beberapa kali pernah melakukan hunting secara serius terhadap informasi-informasi seseorang menggunakan situs pencari. Dan hasilnya cukup luar biasa.

    Memang, dengan kondisi tersebut, akan banyak pula terjadi pemalsuan informasi. Tapi rasanya jauh lebih banyak informasi dan jejak elektronik lainnya kita tinggalkan dimana-mana.

    Terbayang bagaimana nanti, para anak bisa di awasi dengan cukup mudah oleh para orang tua, tapi para orang tua juga akan sulit membatasi informasi yang masuk ke anak-anaknya.

    GPS tracking juga sudah menjadi barang yang murah dan mudah didapat, sementara fasilitas untuk melakukan tracking juga semakin canggih. Barangnya juga tidak seperti dulu lagi. Sekarang ini bisa sangat kecil, bahkan bisa disamarkan sebagai gantungan kunci misalnya.

    Mau tidak mau, masa masa berkurangnya privacy akan semakin dekat dan sangat mungkin akan segera terjadi.

    Jadi….. berhati-hatilah….

  • Mencoba Zyrex Ellipse EGT270

    Mencoba laptop Zyrex Ellipse EGT270 memberikan pengalaman yang tak terlupakan. Mengapa ? Karena sangat menyebalkan.

    Wifi

    Sangat LEMAH !!! Sementara laptop 2x lain dengan gagah mendapatkan sinyal full untuk mengakses akses point berjarak sekitar 5 meter dan line of sign,  dia hanya menari di 1-2 bar. Memasang wifi usb adalah cara terbaik untuk mendapatkan akses yang lebih stabil.

    USB Port

    Lemah. Saat memasang 1 buah mouse, semua normal. Ditambahkan 1 buah harddisk semua normal. Begitu ditambahkan 1 buah flashdisk, harddisk removable dan flashdisk tidak terbaca. Keliatannya powernya tidak mencukupi untuk menhidupi semua harddisk. Sementara versi lamanya bisa dengan tenang melayani 3 buah removable disk.

    Akhir kata.

    Capeee deee make laptop ini. Musti pasang external usb hub dengan power agar mendapatkan high power usb agar bisa menggunakan 2 media. Capek dengan wifi yang putus nyambung. Capek dengan panas yang menggelora ditangan.

    Saya pribadi tidak ingin lagi menggunakannya.

  • IBU PRITA MULYASARI, PENULIS SURAT KELUHAN MELALUI INTERNET YANG DITAHAN!

    Ibu prita ditahan karena menulis surat keluhan melalui internet. Kasus ini kini sedang ramai dibicarakan. Penahanan karena mengeluhkan di Indonesia ini ngak cuma satu ini. Hanya saja yang lainnya “terlupakan”. Dan seringnya memang begitu. Ramai, ramai, ramai, lalu hilang begitu saja dari peredaran. Tidak ada lagi kisah-kisahnya.

    Tidak hanya masalah ini, tapi misalnya tentang bencana. Kasus lapindo ? samar samar terdengar. Nasib para korban Situ Gintung ? Tak lagi ada kisahnya. Kemana perginya media yang tadinya ramai mengerumuni berita itu ?

    Ngak kebayang kalau liat keluhan pelanggan di surat kabar yang seringkali banyak sekali berkaitan dengan layanan sebuah perusahaan atau rumah sakit dan lainnya. Berapa banyak dari mereka (para perusahaan) yang akan berpikir untuk melakukan tindakan serupa ?

    Ngak kebayang juga apakah akan menjadi ajak bertindak seenak perut bagi para penyelenggara layanan kepada para pelanggannya karena anda tidak bisa mengeluh.

    Saya sendiri punya pengalaman mengeluhkan layanan ke penyedia layanan publik. Dan beberapa kali kejadian tidak ada tanggapan sama sekali. Hanya kisah “akan kami tindak lanjuti” yang entah sampai kapan akan dilakukan dan jelas jangan berharap akan ada kabar apapun dari mereka. Hanya dengan berteriak sekeras-kerasnya melalui media entah blog entah milis, baru mendapatkan perhatian.  Atau bisa juga anda mendapat perhatian dengan membawa pengacara yang jelas untuk itu anda perlu merogoh saku anda entah seberapa dalam.

    Tapi dengan adanya kasus-kasus sejenis ini, apa yang akan terjadi ?

    Seandainya semua pasal yang digunakan menjerat Ibu Prita ini sukses, kayaknya akan menjadi image buruk, bahwa nantinya “barang siapa mengeluhkan sesuatu melalui media publik bisa langsung masuk bui”.

    Yang jelas, para penyelenggara layanan bisa dipastikan punya cukup dana untuk mengedepankan pengacara. Sementara tak semua pengguna layanan mampu melakukan hal itu.

  • Permen sebagai alat pembayaran eh kembalian

    Saat ini kalau kita berbelanja dimana pihak penjual harus memberikan kembalian dalam nilai ratusan rupiah seringkali bukannya dikasih uang tapi malah dikasih permen.

    Tapi coba anda melakukan pembayaran dengan permen ? Maukah mereka ?

    Ini terjadi di mini market yang berada di salah satu perusahaan besar (sekali) di Indonesia, dimana waktu saya membeli sesuatu dikasih kembalian permen sebagai pengganti uang Rp. 300,-. Tadinya saya cuek aja dan menerimanya. Tapi ketika sampai dipintu keluar, saya teringat kalau ada yang lain yang ingin saya beli.

    Karena nilainya mengandung 200 rupiah, saya kembalikan 2 permen. Tapi ternyata ditolak. Dia tidak menerima pembayaran berupa permen. Padahal permen itu dari dia juga. Karena itu saya juga ngotot untuk mendapat kembalian dalam wujud uang dan bukan permen.

    Rasanya perlakuan permen menjadi alat pembayaran kembalian ini makin semena-mena.  Konsumen tidak diperbolehkan menolak penjualan paksa permen ini yang setiap butirnya dihargai Rp. 100,-.

    Kalau memang permen ini adalah alat pembayaran, mustinya segera diresmikan dong “Permen sebagai mata uang RI“

  • Terjebak Dalam Kebohongan Finansial Karena Rasa Sayang

    Dalam sebuah keluarga, permasalahan ini seringkali muncul. Apa yang akan Anda lakukan jika sanak saudara atau sahabat yang memiliki kebiasaan untuk meminta bantuan keuangan atau meminjam uang dan tidak tahu apakah akan kembali atau tidak kepada Anda? Ternyata Anda tidak sendirian.

    (more…)