Author: mprasodjo

  • Satu kesalahan yang merusak persiapan berbulan-bulan

    Begitulah…

    Persiapan untuk menempuh perjalanan mudik dengan bersepeda tahun ini gagal total karena begitu perjalanan dimulai terjadi kerusakan pada RD.

    Semua persiapan fisik dan mental telah dilakukan. Pengecekan fisik sepeda juga sudah dilakukan. Satu hal yang terlewatkan adalah usia pakai dari RD bawaan si merseli, seli 20″ yang sedianya akan ku pakai dalam perjalanan ini.

    Usianya sudah hampir 2 tahun, sementara perjalanan hariannya berkisar sekitar 50km perhari, kadang kalau iseng bisa 100-an km. Jalan hidupnya pun tidak selalu mulus. Kadang berhadapan dengan makadam, jalan2x tanah, naik turun bukit, dll, sehingga penunggangnya mendapat julukan ropli alias rombongan penyiksa seli. Juga perjalanan tahun lalu menempuh sekitar 480 km dan sebelum ini sekitart 380km tentunya memakan usia pakai RD tersebut.

    Jadilah setelah meluncur sejauh 135.6 km saya memutuskan membatalkan perjalanan bekasi – yogyakarta berdua bersama merseli tahun ini karena per RD yang ngak bisa diajak kompromi.

    Nyari per RD neos 2 kayaknya susah, jadi diputuskan sepertinya harus ganti RD.

    Demikian curhatan ini
    Hick

  • Bersepeda Lagi

    Sudah bertahun-tahun saya tidak bersepeda. Dan entah bagaimana akhir tahun lalu terpikir ingin menaiki sepeda lagi untuk sehari-hari seperti dahulu kala yang mana pemikiran tersebut muncul dari pembicaraan tentang rencana pindah kantor.

    Akhirnya dilakukanlah survey kian kemari terhadap jenis-jenis sepeda yang ada saat ini. Dari mulai survey melalui web site hingga bertanya pada teman dan saudara yang menjadi penunggang sepeda.

    Keinginan awal adalah memiliki sepeda jenis MTB. Tapi untuk pemakaian harian mungkin akan cukup repot membawanya bila mendadak ada keperluan.

    Akhirnya setelah ngobrol kian kemari dengan teman sekantor, om Wasis, pilihan jatuh pada Seli.

    Jenis sepeda lipat ini cukup praktis dibawa ke kantor dan beratnya masih cukup rasional untuk ku jinjing jalan-jalan.

    Setelah membuat banyak perbandingan, pilihan jatuh pada Dahon Speed P8 berwarna merah api.

    Sepeda ini bahannya yang cukup bagus dan lentur sehingga tidak terlalu keras ketika mengalami benturan, harga yang berada dalam kisaran tengah, berat 12 kg.

    Maka dipesankanlah sepeda tersebut yang sudah seminggu ini saya tunggangi untuk perjalanan pulang pergi ke kantor.

    Pengalaman kembali bersepeda ini cukup mengasikan. Apalagi kemarin saya tidak membawa kaos ganti untuk pulang. Sehingga pulang kerumah dengan pakaian kantor lengkap, mengayuh sepeda malam hari.

    Tentu saja tak lupa selain sepeda, peralatan keselamatan utama sudah terpasang, yaitu lampu depan dan belakang dan helm.

    Satu point yang selalu sama dengan sepeda manapun yang pernah saya punya adalah sadel. Entah mengapa saya tidak pernah cocok dengan sadel standar bawaan. Jadi mau tak mau harus sangat mempertimbangkan untuk menggantinya dengan sadel lain yang lebih nyaman.

    Sudah ada beberapa pilihan untuk sadel baru yang rencananya akan di hunting besok sambil mampir ke pameran di JHCC.

  • Tentang Ubuntu 9.10 Karmic yang saya pakai

    Berikut ini adalah pengalaman saya menggunakan ubuntu 9.10 dari semenjak dia lahir hingga sekarang. Ubuntu 9.10 ini hadir dalam mesin saya dalam prosesi upgrade dari 9.04 menggunakan mode net upgrade.

    Peringatan : Tulisan ini mungkin tidak lengkap dan bersifat subjektif.

    Suka

    • Kecepatan loading yang lebih baik
    • Interaksi yang lebih baik dan nyaman
    • Stabilitasnya makin hari makin baik
    • Dual head terasa lebih baik dan terfasilitasi dengan lebih baik

    Benci

    • Saya biasa menggunakan mode text bila akan melakukan dialup ke hp 3G saya menggunakan bluetooth. Tapi ternyata rfcomm tidak langsung aktif. Dan belum sempet mencari lebih lanjut mengapanya. Untuk bisa melakukan dialup saat ini harus menggunakan blue-man, yang lalu mengkonekan hp dengan laptop dahulu, baru melakukan dialup lewat preconfig di menu “Edit Connections”
    • Firefox terasa jauh lebih berat memakan resource dibanding waktu 9.04. Tapi bisa jadi ini terjadi karena versi firefoxnya juga lebih baru dibanding waktu menggunakan 9.04. Tapi yang pasti dengan kondisi plugin/addon yang sama dengan waktu menggunakan 9.04, penggunaan cpu sering kali tahu-tahu bertahan di 100%.
    • Eclipse yang saya pakai mendadak berantakan. Banyak tulisan dalam combo box menjadi tak nampak (dan belum sempat saya coba untuk me-resolve-nya)
    • Beberapa codec tidak berjalan semestinya. Misalnya beberapa video yang tadinya bersuara, menjadi tidak bisa lagi bersuara.

    Anyway, busway….

    Saya sedang mempertimbangkan kembali untuk mengubah kembali laptop ini ke Slackware tercinta.

    Back to Basic-lah kata orang jawa hehehe

  • Nunchaku dan Kutukan Pohon Kuping Gajah

    “Darleng, ambilin nunchaku ayah dong ? Pengen latihan nih”, kataku sore itu di hari sabtu sore sambil berdiri di depan rumah.

    Maka sang darleng pun beranjak kedalam mengambilkan nunchaku karet buatan Tokaido (tolong dibacanya lengkap ya, jangan 3 huruf depan doang) dan menyerahkannya.

    Dimulailah latihan kecil di halaman depan rumah yang sempit dengan sedikit takut-takut kalau-kalau putarannya menyambar segala benda di sekeliling.

    Sempat terpikir mau latihan dilapangan basket komplek biar keren keliatan tetangga. Tapi ah malu.. takut makin banyak penggemar kan repot.

    Sementara si ganteng lagi memutar-mutar nunchaku, the darleng dan pembantu serta si bayi lagi asik ngerubutin rambutan yang baru saja di panen dari pohon di depan rumah.

    Oh iya.. sebelumnya saya udah berlatih ilmu tongkat sakti dengan menjadikan rambutan sebagai sasaran tusukan. Dengan tongkat panjang di tusuk-tusukan agar buahnya berjatuhan. Tentu saja ngak ada yang jatuh. Orang dahannya lentur gitu. Yang ada malah muter-muter doang itu buah ditambah tangan makin lama makin pegal. Ah tapi kan gaya. hehehe

    Karena gagal juga, sambil berdiri ditengah jalan, saya akhirnya memutuskan mengganti tusukan menjadi sabetan. Dan berhamburanlah rambutan ke bawah, entah terlempar kemana karena jelas jatuhnya jadi ngak terarah. Emang jurus perontok rambutan ini belum juga bisa di sempurnakan walaupun udah dilatih bertahun-tahun. Tapi yaa apa daya. Pembantu dan the darleng pun harus sibuk kian kemari untuk mengumpulkan rambutan. Tapi yaa semua bisa terbayar oleh nikmatnya rambutan manis yang sudah terkenal ke seantero tetangga yang menunggu jatah panen.

    Sementara asik dengan latihan jurus perontok rambutan, seorang tamu dari tetangga melintas dengan mobilnya sambil membuka kaca. Cewek looo yang nyupir… Sambil tersenyum manis dia bilang, “Permisi pak yaa…” dan saya jawab, “Oh silahkan bu. Maaf  menghalangi jalan”.

    Sebetulnya saya masih meneruskan, “Jadi nomor teleponnya berapa bu”. Eh dia udah nutup jendela. Sementara yang denger cuman the darleng dan pembantu yang langsung pada ngakak.

    “Looo kok pada ngakak sihhh”, kata saya.

    “Paraaahhhh !!!!!! Cowok sama aja”, kata pembantu saya.

    “Lah iya dong cowok sama, tapi beda kualitas gentengnya. Kalo cowok beda-beda malah kamu yang susah ngebedainnya entar dan jadi banyak sebutan buat cowok”, kata saya lagi.

    Saya jadi mikir, gimana yaa kalo cowok beda-beda ? Apa mungkin. Ada yang kotak, segi banyak gitu. Yaaa ngak tau lah… namanya juga cuman mikir.

    Yak kembali ke nunchaku.

    Asik dengan putaran kiri kanan sambil berdiri disamping pohon kuping gajah kesayangan the darleng.

    Eh pohon itu malah nyamperin sehingga daunnya kesamber pas nunchakunya lepas dari pegangan gara-gara gerakan berputar yang asik dan dasyat tak bisa dibendung.

    Sang pohon pun daunnya sompal. Eh tapi pohon ini kan emang daun semua ?

    Jadi saya pun menyalahkan pohon dan yang menghampiri nunchaku-ku dan kucing yang kebetulan lewat sehingga terjadilah kecelakaan dimana daun itu tersambar dan somplak.

    Sudah tentu somplakannya segera ku sembunyikan di bawah pot agar jejak kejadiannya semakin sulit di deteksi sambil menggunakan sarung kaki dengan gaya cubitan monyet untuk menyembunyikannya serta meyakinkan tidak adanya sidik jari kaki disitu disana.

    Kemudian dengan wajah polos mulai kembali berlatih memutar nunchaku.

    Eh tapi ternyata si pembantu ngeliat dan di laporinlah orang ganteng ini ke the darleng.

    Dasar tukang ngadu. Dan akhirnya orang ganteng ini di omel-omelin oleh the darleng.

    “Darleng, ini semua kesalahan terjadi karena kucing. Ketika sedang berlatih, kucingnya lewat dan kesamber nunchaku, lalu dia terlempar ke pohon kuping gajah itu. Nah karena dia kesel, dia ngamuk terus nyakar2x pohon kesayangan the darleng. Gitu ceritanya”, kataku jelas-jelas ngebohong.

    “Awas yaa kalo rusak lagi”, kata the darleng.

    “Baiklah”, kataku yang kembali memutar nunchaku sementara the darleng beranjak kembali ke teras rumah untuk kembali melatih jurus pisau pengupas rambutannya. Setibanya di teras, nunchaku yang kuputar terlempar dan terjatuh kesebuah pohon hingga tercabut dari akarnya.

    “Hayooo ini sih gara2x apa lagi yaaa”, kata the darling.

    “Hehehehe”, aku ketawa nyari kisah.

    Lalu besok paginya aku dibuatkan sepiring nasi goreng oleh the darling sebelum pergi latihan ke monas. Tak lama sehabis makan nasi goreng perutku mules-mules dan berakhir dengan bolak balik harus buang air.

    Waduh… ini kutukan Pohon Kuping Gajah atau balas dendam the darleng ???

    Ah tapi ngak mungkinlah the darleng ngeracunin gua. The darleng kan baek kayak bebek. Jadi mungkin ini kutukan pohon kuping gajah hiiiiiiii.

    Demikianlah kisah Kutukan Pohon Kuping Gajah yang menyebabkan hari ini, saya yang ganteng ini, ngak latihan ke monas.

    *hick*

  • Decode JavaScript Yang di Encode

    Hari ini kebetulan saya berdiskusi dengan kawan tentang javascript dan css.

    Dan kebetulan salah satu contoh javascript tersebut di encode oleh pembuatnya sehingga tidak mudah dibaca.

    Pertamanya agak bingung juga. Tapi terpikir kalau sebetulnya semua itu akan dijalankan oleh browser dan si browser bisa mengerti. Berarti sesungguhnya semua itu harus bisa di baca secara langsung.

    Nah, yang jadi masalah adalah kita mau membahas isinya. So jelas kita harus punya kode yang dalam kondisi tidak di encode.

    Nah browser tentunya sudah punya engine untuk kebutuhan ini. Tapi untuk mempermudah, saya menggunakan Rhino, javascript engine yang ditulis dalam java.

    Rhino ini terdiri dari rhino yang shell base dan rhino-debugger yang berbasis grafis.

    Panggil rhino-debugger  yang akan menghasilkan windows grafis, lalu panggil file yang berisi javascript yang di encode dan klik “Go”.

    Violla… selesailah kita men-decode.

    Tentunya ada banyak cara lainnya selain yang dituliskan disini.

    Penggunaan debug perlu dilakukan terutama bila file javascriptnya memberikan pesan error ketika di panggil oleh rhino.

    oh iya.. para pengguna ubuntu tinggal menjalankan “apt-get install rhino” untuk menginstallnya.

    Selamat mencoba.