Category: unek-unek

  • Harga Mati NKRI dan Pancasila, Prinsip LUBER (LANGSUNG UMUM BEBAS RAHASIA) masih berlaku

    10338750_10204014429899755_4883086584819346443_n copy Terus terang saya tidak menonton debat CAPRES di televisi. Mungkin salah saya juga, karena saya sudah skeptic dengan debat di televisi yang dikendalikan oleh i sutradarasemacam ini, akan menjadi sebuah tontonan belaka. Belum lagi iklan yang lalu lalang yang seandainya pun debat itu benar adanya, akan merusak konsentrasi dan  makna depat itu sendiri. Jika sudah begini, karena ini siaran langsung, bisa jadi kita akan kehilangan momen atau pernyataan penting yang “tidak sengaja” tertutup oleh iklan. Andai ada debat langsung yang disaksikan umum tanpa jeda iklan dimana peraturan ketenangan dan keseriusan dibacakan didepan, mungkin saya akan mengusahakan melihatnya.

    Saya tidak mengikuti berita ini itu atau foto ini dukung itu itu dukung ini yang bersliweran di  dunia sosmed. Karena 80% dari berita dan gambar itu sudah lebay.  Ada yang foto artis A, gambar kaosnya diubah  mendukung B. Setelah itu saya melihat sebuah foto liputan konser  teman saya,  berubah menjadi foto C kampanye. Foto ini sudah di gabung dengan foto lain di tempat yang berbeda sama sekali . Belum lagi saat mendengar sebuah cerita bahwa dibalik semua kampanye ini katanya ada sekelompok orang yg sama yang meranang kampanye B dan C demi perusahaan. Nggak salah dong kalau itu menguntungkan. Tinggal bikin dua perusahaan berbeda, hire orang yang beda,namun otaknya sama J. Sayang satu prinsip Public Relation yang selama ini saya pegang “Tidak berbohong” dan Tidak menjatuhkan saingan dengan issue negative, kadang dilupakan.

    Bagaimanapun juga,  saya mencoba melihat proses kampanye dua kubu ini sebagai bahan kuliah Marketing Komunikasi dan Teknis Publikasi yang ciamik. Peramuan berbagai teori dengan contohnya semua ada disini. Mau yang White campaign, dua kubu punya. Mau Frontal Black Campaign? Dua kubu bikin. Mau perencanaan marketing yang sangat detil dua kubu punya (dari bikin sebuah kejadian yang seolah tidak disengaja, kemudian membuat kritikan seolah dari lawan, lalu memunculkan pemberitaan yang seolah olah itu merupakan pembelaan atas serangan lawab sekaligus menarik simpati target tertentu misalnya). Semua ini diramu dalam sebuah ramuan ajaib kampanye,  yang kemudia ditelan mentah mentah oleh para pendukungnya bagaikan obat kuat yang membuat mereka merasa paling benar, paling hebat dan paling tahu. Meskipun seperti juga ramuan lainnya, ada efek samping yang seringkali tidak disebutkan.

    Alhasil berkat “ramuan ajaib” yang diminum kedua kubu ini, pertarungan muncul dan memanas. Upaya mendiskreditkan satu  capres melalui black campaign dan capres lain dengan kisah masa lalu membuat banyak pendukung yang saling menyerang dan menyalahkan.  Bahkan produk pers  tidak memenuhi persyaratan yang dibutuhkan sebagai sebuah produk pers yang didasari oleh etika media masa. Mungkin memang  sulit saat ini mengharapkan produk pers yang murni, karena merekapun terbit tidak berdasarkan Surat Ijin lembaga Pers namun cukup dengan surat ijin usaha atau perusahaan (yang notabene dengan profit). Hal hal yang semestinya menjadi rahasia negara demi kepentingan keamanan dan stabilitas negara dalam dan luar negeri pun mulai diacak acak dan diadu. Bahkan ada wacana untuk meninjau kembali pencalonan lawan.

    Jika melihat cara kampanye dan antusiasme akibat ramuan ajaib ini, seolah olah mereka baru puas setelah salah satu calon dijatuhkan dan mundur dari pencapresan. Padahal jika dikaji secara lebih luas seharusnya persaingan kampanye ini tidak boleh merugikan negara kan. Apalagi  sebenarnya secara peraturan, kedua kubu saling membutuhkan. Dalam undang undang di negara kita harus memiliki minimal 2 calon untuk diselenggarakan pemilu. Jika salah satu mundur maka alon lainpun akan gugur.  . Hanya satu Capres tentu bertentangan dengan Undang-Undang Pemilihan Umum dan pemilihan Presiden pasti akan ditunda dan penundaan ini bisa memberi peluang bagi munculnya kekacauan. Misalnya jika pencalonan Prabowo dianulir KPU maka pencapresan Jokowi harus diproses kembali. Jika sudah begini maka mungkin saja  akan muncul kekacauan  politik bisa terjadi, militer terpaksa turun tangan. KPU juga terpaksa mengumumkan penundaan Pilpres sampai masa yang akan ditentukan kemudian, bisa setelah berakhir masa jabatan Presiden.  Kemungkinan yang muncul selain kekosongan kekuasaan yang memungkinkan negara lain untuk masuk ke negara kita adalah MPR memberi perpanjangan masa jabatan  Presiden sebelumnya.  Vacum of Power atau kekosongan kekuasaan  terjadi anarchisme dan saling kudeta bahkan pihak asing menguasai negara kita, bagai rumah tanpa penghuni.

    Efek yang kedua, jikapun situasi ini terus berlangsung dan saling membuka borok lawan, terbayangkah nanti jika salah satu dari mereka menjadi presiden? Lalu borok borok atau isu isu negative itu dicatat oleh lawan negara dan dijadikan alat mendeskreditkan presiden kita? Trus bagaimana presiden dan negara kita bisa dihargai oleh negara kita  kalau kita sendiri tidak menghargainya?Padahal kadang menurut saya, kesalahan kesalahan capres tersebut juga nggak fatal fatal amat, manusiawi kok. Misalnya : Ketika Prabowo tidak tahu singkatan “TPID” kalo nggak salah dalam acara depat presiden. Trus ribut, banyak yang mencibor, mengolok olok, merendahkan dan sebagainya. Bahkan lama lama jadi fitnah. Padahal menurut saya manusiawi kok. Kalau kebetulan pak Jokowi tahu itu juga karena beliau mendapat penghargaan. Jadi bukan karena lebih tau satu singkatan trus pak Jokowi lebih pintar toh? Gimana kalau dibales pak Prabowo  dengan singkatan atau jargon militer yang tidak pernah digunakan diluar pasukan? (dalam konteks presiden sebagai panglima tertinggi militer di Indonesia) Trus pak Jokowi juga jadi bego? Wah kalau begitu semua bego dong (termasuk saya dan anda yang saya yakin tidak tahu semua singkatan yang ada di dunia ini). Sering lho mahasiswa komunikasi saya memberikan tidak hanya singkatan tapi juga ilmu baru tentang komunikasi keada saya.  Seorang professor dibidang Geologi tidak tahu nama satu batu yang dibawa mahasiwanya dari kampong, tentu tidak membuatnya harus dicopot gelar professor geologinya kan? Atau seorang habib yang tidak tahu sebuah hadist apa berarti dia tidak pantas menyandang gelar habibnya? Padahal saya pernah diberitahu oleh eyang saya kalau ilmu manusia itu hanya setitik air di samudra ilmu yang luas.

    Masalah kertas terselip di baju pak Jokowi (entah itu bagian dari renana marketing komunikasi atau bukan ya), misalnyapun itu catatan pengingat apa harus dikatakan saat berbicara di depan umum, apa yang salah? Bukankah itu hanya berarti bahwa pak Jokowi punya persiapan dan menghindari kesalahan ?  Bukankah itu hal yang baik? Toh dalam debat dan pidato tidak ada peraturan dilarang membawa catatan kan? Kalau ujian closebook, baru itu dibilang nyontek karena ada aturan jelasnya.  Itu kalau memang catatan pengingat Apa yang terselip di baju kita bisa apa saja kan?  Misalnya sebelum naik ke mimbar ada yang tiba tiba kasih kartu nama atau pengingat atau apapun, dank arena buru buru kita selipkan saja di saku. Manusiawi kan?

    Masalah Umrahnya pak Jokowi yang hanya pencitraan dan ihrom yang katanya terbalik. Pencintraan atau bukan, ibadah diterima atau tidak, itu bu10511225_249232521936706_5662418762072659906_nkan hak manusia utnuk menilainya. itu hak yang beribadah dan Allah. Kenapa jadi kita yang ributin? Wong yang haji serius aja bisa nggak diterima katanya. Nah untuk urusan ihrom, saya yang ilmu agamanya hanya seperti “setetes air di samudra ini” agak bingung. Namun saat bertanya pada seorang yang dianggap ahli (tanpa bawa bawa jokowi lho) jawabannya adalah “menurut fiqih islam dalam rukun haji / umroh ttg penggunaan kain ihrom di kiri adalah yg saat thawaf mengelilingi Kabah . Setelah itu boleh bebas diselempangkan sisi manapun juga atau dikerudungkan boleh . Nah kalau begitu kenapa jadi masalah? bisa saja saat itu Jokowi tidak sedang tawaf atau sudah tawaf dan ihromnya lepas slempangnya dan karena berdesak desakan trus buru buru slempangin. Toh banyak juga yang tidak berihrom disitu. 

     

    Kemudian masalah Kalpataru dan Adipura, semua mentertawakan Hatta dari nomor 1 yang “katanya tidak bisa membedakan anata kalpataru dan adipura. Benarkah? setelah baca banyak kiriman tentang debat capres (karena saya memilih untuk bikin rancangan buku berikutnya daripada nonton) saya sempat percaya dengan “kata teman teman” tersebut. Namun kemudian saya membaca sebuah berita di kompasiana.com dimana  katanya JAKARTAPOST saudaranya menyatakan mendukung capres no 2, saya mulai penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Lalu sayapun menonton rekaman debat tersebut dan saya setuju dengan rangkuman kompasiana yang kurang lebih seperti ini:

    Ada yang menarik saat segmen final debat capres 2014 yang baru saja usai digelar oleh KPU. Pada segmen ke-5 dalam arena tanya jawab, JK kembali kelirumengartikan rentetan pertanyaan yang diajukan oleh Hatta Rajasa:

    Pak Joko Widodo dan pak Jusuf kalla, kembali kepada lingkungan hidup. Kita ingin lingkungan bersih, sehat. Upaya kita dalam membangun udara lebih sehat, seberapa jauh pandangan pak Jokowi terhadap ini?

    Jokowi :

    Menurut saya kalpataru, penghargaan itu diberikan kepada perseorangan dan lembaga. Tetapi bukan hanya piala saja, seharusnya ada insentif, sehingga mereka merasa dihargai.

    Dengan adanya insentif dan anggaran, mereka akan benar-benar bekerja dengan lebih baik lagi, memperbaiki lahan tanam, memperbaiki pengairan dan pelembagaan di desa.

    Pada akhirnya tidak hanya satu dua tetapi semakin banyak yang bekerja untuk mendapatkan kalpataru untuk negara yang kita cintai ini.

    Hatta :

    Bentuk penghargaan apakah dalam piala atau insentif, itu bukanlah hal yang penting. Tetapi prinsipnya adalah penghargaan itu diberikan. Pertanyaannya mengapa DKI dan Solo tidak pernah dapat?

    Jusuf Kalla:

    Pertanyaan bapak bagus tetapi keliru, kota penghargaannya adipura bukan kalpataru, saya tidak perlu jawab.

    Kita perhatikan. Saat itu Hatta mengajukan pertanyaan yang sifatnya menjebak pada Jokowi mengenai pandangannya tentang LINGKUNGAN YANG BERSIH DAN SEHAT. Jokowi sebenarnya faham arah dari pertanyaan Hatta ini pasti ingin menyindir kegagalan Adipura waktu ia menjabat. Jokowi menjawab dengan elegan dan lugas, walau sedikit terpeleset dengan mengkaitkan maksud sindiran itu pada KALPATARU. Padahal jika dikembalikan pada pertanyaan Hatta tentu yang dimaksud Hatta sebenarnya soal ADIPURA yang tidak didapat oleh Jokowi selama memimpin di DKI atau Solo.

    Berdasarkan pandangan Jokowi tersebut, Hatta menanggapi bahwa yang penting bukanlah penghargaan dalam bentuk piala dan intensif, tetapi makna dari diterimanya penghargaan tersebut. lalu Hatta mempertanyakan, jika menurut Jokowi penghargaan itu cukup penting, mengapa DKI dan Solo tidak mendapatkannya?

    Jika hanya melihat sepotong antara saat pak Hatta bilang kalpataru dan jawaban pak JK memang sangat yakin jika orang kemudian mengira pak Hatta tidak tahu bedanya adipura dan kalpataru. Namun jika dilihat dari rangkaian pembicaraan  maka sebenarnya jokowilah yang ingin menghindari adipura dengan membelokkan masalah penghargaan lingkungan hidup (notabene yang dimaksud adipura)  ke kalpataru dan JK yang kemudian mengambil alih (sedikit emosi) menyalahkan Hatta yang hanya mengulang kata kata Jokowi.  Mungkin kurang konsentrasi karena baru saja sakit ya, jadi wajar.

    Dari presiden terdahulu sampai presiden  sekarang, hal yang pasti adalah over expectations. Baru sehari, seminggu atau sebulan  duduk di kursi kepresidennya, maunya semua masalah selesai. Menjadi presiden berarti harus tahu semua masalah rakyatnya plus masalah di seluruh dunia. Termasuk harus tahu pake baju apa kalau tiba tiba ketemu si fulan di jalan.  Baru sehari duduk di kursi presiden maunya semua yang diinginkan sudah disediakan oleh presiden. Presiden harus menyelesaikan semua masalah dengan cepat, harus ada di semua tempat tapi juga harus ikutan macet macetan karena nggak boleh lewat duluan (nyusahin rakyat kalau pake nyetop sana sini dan pake paswalpres). Presiden pake baju murah atau biasa biasa saja dibilang “Presiden kok kere, malu maluin rakyat” pake baju mahal “presiden kok bajunya mahal nggak inget rakyatnya”.  Bahkan baru jadi calon presiden aja sudah harus sakti mandraguna dan pandai sulap sihir.

    Buat saya, apapun alasannya membuka aib orang lain adalah tidak baik. Menyampaikan fakta  memang tipis batasannya dengan membuka aib orang ya. Sebuah fakta memang akurat dengan data data yang lengkap dan terbukti (bukan katanya atau copy paste) itu adalah informasi. Selain dari itu? Tingkah dan reaksi berlebihan dari pendukung dua pihak ini tidak lucu sama sekali. Kita punya masalah akan empati dan emosional behavior serius. Betapa mudahnya orang mentertawakan orang lain, hingga lupa, kalau dia juga tidak sempurna. Dan lupakan kalian, kita ditonton banyak orang. Anak2 kita, remaja2 kita, mereka menonton. Kalian mau jika mereka berpikir: “oh ternyata mentertawakan orang lain itu boleh.” “oh ternyata malah asyik dan seru.” Kita lupa bahwa yang kita hina dan jatuhkan itu nantinya akan menjadi pemimpin negara kita.  Mengkritik itu jauh lebih mudah daripada memperbaiki. Sebelum mengkritk sebaiknya anda tahu bagaimana baiknya dan berikan solusi.

    Kedua capres yang dihina hina dikorek korek kesalahannya itu adalah saudara kita sebangsa dan setanahair, yang sama dengan kita, tidak sempurna. Bedanya mereka memiliki kemauan untuk berbuat lebih bagi bangsa ini dengan perjuangan yang lebih untuk menjadi seperti mereka.  Nantinya, salah satu dari mereka akan menjadi kepala negara kita yang kita bebani dengan berbagai keinginan dan pengharapan kita.  Menghina mereka berarti menghina kepala kita sendiri . Jangan hanya marah saat negara lain menghina dan menginjak injak kepala kita namun disaat yang sama kita juga menghina kepala kita sendiri. Dan bagi saudaraku yang muslim, bukannya ada hadist yang melarang kita untuk saling menghina dan membuka aib saudara kita sesame muslim? (dua capres kita muslim lho) pilih

    Jadi tidak boleh punya jagoan? Boleh. Tapi kalau kata eyang saya Sakmadyo. Tidak perlu berlebihan.  Ada yang melemparkan issue langsung nyolot. Melihat celah menghina capres lawab langsung disambut dan ditambah tambah. Biar apa? Seru? Ramai? Dibilang hebat dan tau banyak? Waduhhhhh!!!! Bukankah tujuan awalnya hanya memilih calon yang terbaik? Bagaimana kalau biarkan semua pada porsi dan tugasnya. Simak,  saring telaah dan pilih. Bukannya prinsip pemilu masih sama; LUBER : Langung memilih di TPS, Umum dimana semua orang mendapatkan haknya menggunakan kesempatan memilih, Bebas memilih calon manapun tanpa paksaan dan RAHASIA. Apapun hasilnya dan siapapun presidennya nanti, semoga saat terpilih akan didukung sepenuhnya oleh rakyat Indonesia termasuk para politikus dan cendekiawan dadakan yang saat ini berseberangan, demi NKRI, demi bangsa kita, demi kita sendiri.  Mari berkarya dan melakukan yang terbaik, dimulai dari diri sendiri. Siapapun pilihannya silahkan diberikan tanggal 9 nanti dan setelah itu yang menang amanah yang kalah legowo iklas dalam SALAM 10 JARI dimana jari 1 dan jari 2 bersama 7 jari lainnya bersatu berjabat erat lalu bekerja untuk bangsa ini… selamat berdamai, selamat berpuasa dan salam 10 jari persaudaraan

    Catatan ini terinspirasi dari berbagai tulisan di media sosial dan blog banyak orang 🙂

  • Privacy, dulu dan kini

    Saya terlibat satu pembicaraan kecil dengan teman setelah melihat sebuah foto dimana wajah saya tampak disitu dan seorang kawan men-tag saya.

    Fotonya biasa saja, bahkan saya sedang di kerubuti para bidadari hehe. Tapi yang sedikit tersentil adalah, kalau dulu rasanya sangat mudah kita membuat persembunyian untuk tak di ketahui orang. Tapi untuk saat ini, walaupun kita sudah bersembunyi sebaik-baiknya, tetap saja bisa muncul dimana saja dari kisah orang lain. Baik itu blog atau site2x jejaring sosial seperti facebook yang sekarang ini sedang booming.

    Informasi yang beredar bisa muncul dari mana saja, bocor dari mana saja dengan begitu banyaknya forum dan situs jejaring sosial yang terus bertambah. Dan informasi tersebut semakin mudah pula di temukan dengan tersedianya situs pencari yang semakin canggih.

    Sementara itu, banyak orang yang kurang tahu kalau atas persetujuannya informasi-informasi miliknya, termasuk yang pribadi diberikan untuk di komersilkan atau untuk keperluan lainnya ketika mendaftarkan diri pada sebuah site. Google atau facebook misalnya. Pada saat mendaftar kita telah menyetujui dan memperbolehkan mereka menggunakan informasi-informasi milik kita untuk kepentingan mereka.

    Saya sendiri beberapa kali pernah melakukan hunting secara serius terhadap informasi-informasi seseorang menggunakan situs pencari. Dan hasilnya cukup luar biasa.

    Memang, dengan kondisi tersebut, akan banyak pula terjadi pemalsuan informasi. Tapi rasanya jauh lebih banyak informasi dan jejak elektronik lainnya kita tinggalkan dimana-mana.

    Terbayang bagaimana nanti, para anak bisa di awasi dengan cukup mudah oleh para orang tua, tapi para orang tua juga akan sulit membatasi informasi yang masuk ke anak-anaknya.

    GPS tracking juga sudah menjadi barang yang murah dan mudah didapat, sementara fasilitas untuk melakukan tracking juga semakin canggih. Barangnya juga tidak seperti dulu lagi. Sekarang ini bisa sangat kecil, bahkan bisa disamarkan sebagai gantungan kunci misalnya.

    Mau tidak mau, masa masa berkurangnya privacy akan semakin dekat dan sangat mungkin akan segera terjadi.

    Jadi….. berhati-hatilah….

  • IBU PRITA MULYASARI, PENULIS SURAT KELUHAN MELALUI INTERNET YANG DITAHAN!

    Ibu prita ditahan karena menulis surat keluhan melalui internet. Kasus ini kini sedang ramai dibicarakan. Penahanan karena mengeluhkan di Indonesia ini ngak cuma satu ini. Hanya saja yang lainnya “terlupakan”. Dan seringnya memang begitu. Ramai, ramai, ramai, lalu hilang begitu saja dari peredaran. Tidak ada lagi kisah-kisahnya.

    Tidak hanya masalah ini, tapi misalnya tentang bencana. Kasus lapindo ? samar samar terdengar. Nasib para korban Situ Gintung ? Tak lagi ada kisahnya. Kemana perginya media yang tadinya ramai mengerumuni berita itu ?

    Ngak kebayang kalau liat keluhan pelanggan di surat kabar yang seringkali banyak sekali berkaitan dengan layanan sebuah perusahaan atau rumah sakit dan lainnya. Berapa banyak dari mereka (para perusahaan) yang akan berpikir untuk melakukan tindakan serupa ?

    Ngak kebayang juga apakah akan menjadi ajak bertindak seenak perut bagi para penyelenggara layanan kepada para pelanggannya karena anda tidak bisa mengeluh.

    Saya sendiri punya pengalaman mengeluhkan layanan ke penyedia layanan publik. Dan beberapa kali kejadian tidak ada tanggapan sama sekali. Hanya kisah “akan kami tindak lanjuti” yang entah sampai kapan akan dilakukan dan jelas jangan berharap akan ada kabar apapun dari mereka. Hanya dengan berteriak sekeras-kerasnya melalui media entah blog entah milis, baru mendapatkan perhatian.  Atau bisa juga anda mendapat perhatian dengan membawa pengacara yang jelas untuk itu anda perlu merogoh saku anda entah seberapa dalam.

    Tapi dengan adanya kasus-kasus sejenis ini, apa yang akan terjadi ?

    Seandainya semua pasal yang digunakan menjerat Ibu Prita ini sukses, kayaknya akan menjadi image buruk, bahwa nantinya “barang siapa mengeluhkan sesuatu melalui media publik bisa langsung masuk bui”.

    Yang jelas, para penyelenggara layanan bisa dipastikan punya cukup dana untuk mengedepankan pengacara. Sementara tak semua pengguna layanan mampu melakukan hal itu.

  • Resensi Buku: Paman Gober Edisi 114 Tahun 16

    Udah lama pengen  nulis ini tapi kelupaan mulu.

    Saya adalah penggemar buku dan salah satunya termasuk penggemar donald bebek dan keluarganya. Setiap bulan selalu membeli buku2x baru. Bahkan hari ini sangat kebetulan sekali, ditoko buku yang menjual buku2x bekas saya memborong buku2x “Paman Gober” edisi tahun 2 dan tahun 1. hehehe.

    Tapi ketika membaca “Paman Gober” Edisi 114 Tahun 16,  dihalaman 77, cerita berjudul “Super Donal: Harta Dolce Paprika“, rasanya agak lain. Cerita ini mengisahkan bagaimana sang Super Donald, melakukan aksi balas dendam karena ketidak sukaannya pada Paman Gober dan kekesalannya karena Desi akan pergi ke pesta dengan Untung Bebek dengan melakukan FITNAH.

    Cerita sejenis ini rasanya koq lain dengan kebiasaan-kebiasaan kisah cerita dari Walt Disney’s ini ?

    Tidakkah mereka sadar kisah seperti ini seharusnya tidak layak dan tidak sepantasnya di terbitkan karena akan menjadi pelajaran buruk bagi anak2x yang membacanya.

    Seharusnya editor lebih meneliti kembali kualitas kisah2x yang akan diterbitkan dong.

  • Permen sebagai alat pembayaran eh kembalian

    Saat ini kalau kita berbelanja dimana pihak penjual harus memberikan kembalian dalam nilai ratusan rupiah seringkali bukannya dikasih uang tapi malah dikasih permen.

    Tapi coba anda melakukan pembayaran dengan permen ? Maukah mereka ?

    Ini terjadi di mini market yang berada di salah satu perusahaan besar (sekali) di Indonesia, dimana waktu saya membeli sesuatu dikasih kembalian permen sebagai pengganti uang Rp. 300,-. Tadinya saya cuek aja dan menerimanya. Tapi ketika sampai dipintu keluar, saya teringat kalau ada yang lain yang ingin saya beli.

    Karena nilainya mengandung 200 rupiah, saya kembalikan 2 permen. Tapi ternyata ditolak. Dia tidak menerima pembayaran berupa permen. Padahal permen itu dari dia juga. Karena itu saya juga ngotot untuk mendapat kembalian dalam wujud uang dan bukan permen.

    Rasanya perlakuan permen menjadi alat pembayaran kembalian ini makin semena-mena.  Konsumen tidak diperbolehkan menolak penjualan paksa permen ini yang setiap butirnya dihargai Rp. 100,-.

    Kalau memang permen ini adalah alat pembayaran, mustinya segera diresmikan dong “Permen sebagai mata uang RI“

  • Peraturan Tempat Bermain Anak di Mall

    Peraturan Tempat Bermain Anak

    Pernah ada yang memperhatikan kalau peraturan tempat bermain di dalam mall itu sering kali berisi pelepasan tanggung jawab atas apapun yang terjadi pada diri anak-anak yang sedang bermain ? Bahkan tetap harus bertanggung jawab atas “kerusakan tambahan” yang mungkin terjadi ?

  • Pengetahuan Yang Menjadi Candu

    Kemarin gua ditanya tentang, “bisa bantu tau seseorang ngak ?”. Singkatnya gua jawab, “bisa”.
    Tapi tau sadar ngak kalau hal seperti ini bisa menjadi candu ?

    Ketika kita tidak mengetahui sama sekali tentang sesuatu, biasanya kita akan cuek saja dengan keadaan. Bahkan mungkin timbul kondisi tidak mau tahu.

    Tapi disaat lain, ketika kita mulai mengetahui, biasanya kita menginginkan yang lebih lagi. Misalnya bila kamu mengetahui pasanganmu suka berbohong. Sekali kita mendapatkannya, mungkin kita akan terus melihat dan memantaunya. Sekali kamu bisa dengan mudah tau apa saja isi dompetnya, mungkin dengan gampang kamu bakalan terus ngelirik dan tanpa sadar terus ngelirik.

    Ini sih pengalaman pribadi gua sendiri. Gua orang yang selalu pengen tahu segala macam. Gua demen banget yang namanya ngebaca, meneliti, eksperimen. Sampai-sampai dulu gua ngak terlalu peduli berapa duit yang gua keluarin untuk semua “pelajaran” gua.
    Bayangin aja. Siapa sih orang yang bikin lab fiber, X.25, SS7 dan lain-lain buat lab pribadi dirumah ? Kira-kira sendiri deh berapa duit yang gua keluarin buat itu. Kebayangkan kemana larinya semua duit gua selama ini. hehe

    Tapi benar. Sekali elu ngerasain kenikmatan ketika bisa melakukan sesuatu mungkin sekali elu bakalan kecanduan untuk selalu tau dan tau apapun tanpa sadar berapa banyak waktu dan tenaga telah dihabiskan.

    Dan akhirnya tanpa sadar kamupun akan berdiri disamping “pecinta misteri” dan menjadi bagian dari “dewa pengetahuan”.

    Pesan moral gua : Pilih pengetahuan yang baik untuk di candui atau berjuang untuk berhenti dititik dimana kamu masih bisa kembali.

  • (UN)proxl Bagian 3

    Menyambung http://mprasodjo.multiply.com/journal/item/463

    Hari ini sebagai kelanjutan masalah kemarin yang menurut *katanya* akan diselesaikan hari ini, telah terjadi pembicaraan yang sangat aneh.

    Sedikit potongan email tanggal 6 Februari, agar sedikit mengetahui duduk perkaranya.

    ———cut———-
    > cetak billingnya adalah tanggal 16/month. Karena sekarang sudah
    > tanggal 06 Feb’07, Saya sarankan untuk pengaktifannya nanti saja
    > setelah tgl. 16 Feb’07. Sebab apabila diaktifkan sekarang mungkin
    > pemakaiannya jadi tidak genap 1 bln/tdk maksimal, kecuali memang Pak
    ———-cut———–

    dijawab oleh rekan saya

    ———————
    (Cut nama marketingnya)
    Ok confirm aktifkan tanggal 16 Feb 07.
    ——————-

    dijawab balik dari sang marketing

    —————————————-

    Siap! Pak (cut nama rekan saya)

    —————————————-

    Dan hari ini, dalam pembicaraan ter-record begitu pula dengan sms pihak XL mengatakan kurang lebih sebagai berikut:

    “Seharusnya konfirmasi ini dilakukan pada saat diaktifkan. Cara konfirmasi seperti diatas adalah salah. Jadi kejadian ini bukan murni kesalahan pihak XL tapi kesalahan KEDUA BELAH PIHAK”

    *Gubrakkkkkkkkkkkkkk !!!!!!!!!!!!!!!!!!

    Pertanyaaan : Kapan peraturan ini dibuat ? baru saja ? setahun lalu ? di jaman peradaban maya ? Lalu diatas itu bukan sebuah konfirmasi bahwa kedua belah pihak setuju pengaktifan dilakukan tanggal 16 feb ? apakah ada peraturan seperti itu ?

    *oot dikit, terpikir: ini aku salah telp kali yaa, ini perusahaan telekomunikasi kan bukan jasa badut ? jangan2x telkom ngacok lagi jadi salah sambung.

    Jadi inti pembicaraan adalah, karena marketing yang sekarang adalah marketing pengganti (jadi dari bulan oktober, ini marketing yg ke-3 karena yang sebelumnya resign) maka dia menunggu keputusan dari yang lebih tinggi alias tidak bisa memutuskan apapun dan sedang berusaha menghubungi marketing sebelumnya yang membuat konfirmasi tersebut untuk penyelesaiannya.

    Nampaknya disini akan terjadi lempar melempar tanggung jawab. Sementara sang pelanggan dibiarkan termanggu menatap tagihan yang tetap belum berubah hingga saat ini ditulis masih tercantum 1.6 juta.

    Kemudian saya diminta tetap membayar Rp. 249.000 dahulu untuk pelayanan yang tidak bisa dinikmati selama 10 hari ini. Tanggapan saya ???? SAYA TIDAK BERSEDIA !!!!! Apalagi tadi iseng saya mengecek di ATM tagihan saya tetap 1.6juta.

    Menurut pihak XL hal tersebut karena belum dilakukan perubahan setting.

    Saya jadi ingin mencoba membuat counting yang sama dengan yang saya lakukan dulu untuk perusahaan lain sekelas XL. Mari kita lihat kira2x bagaimana kecepatan respon, goodwill dari perusahaan sekelas XL agar bisa dinilai oleh masyarakat umum mengenai kualitas pelayanannya sehingga dapat tercipta seleksi alam.

    Dan kali ini, seperti sebelumnya, saya akan menyertakan semua nama dan bukti dalam bentuk email dan rekaman pembicaraan, begitu counting saya mulai.

    Tapi seharusnya sebagai sebuah perusahaan yang *telah merasa* internasional bisa memberikan pelayanan yang baik dengan memperhatikan aturan service dan komplain. Rasanya followup dengan cara melempar-lempar masalah seperti ini bukanlah sebuah gambaran yang baik dari sebuah perusahaan layanan publik yang vital seperti ini.

    *Sedang menulis versi lengkapnya