Category: Catatan Perjalanan

  • Gowes to Mudik Bekasi – Yogyakarta 2012

    Gowes to Mudik Bekasi – Yogyakarta 2012

    Tahun ini kembali saya mencoba untuk gowes bekasi – yogyakarta untuk ke-3 kalinya dengan menggunakan Merseli alias si Merah Seli.

    Persiapan mudik kali ini nyaris tidak ada. Bahkan kesempatan untuk bisa gowes pun sangat jarang. Dari mulai tugas kantor yang memaksa saya harus kerja malam sampai dengan cedera kaki yang saya alami. Efektif selama sekitar 4 bulan, saya hanya gowes dalam hitungan jari.

    Kesempatan gowes untuk uji coba adalah tanggal 4 Agustus 2012 ketika melakukan Night Ride (http://www.gauli.com/2012/08/05/night-ride-4-agustus-2012/) sejauh sekitar 40 Km yang merupakan tradisi dibulan puasa dan gowes berikutnya adalah tanggal 11 Agustus 2012 ketika Robek mengadakan kegiatan bakti sosial sejauh sekitar 20 km (sekali jalan).

    Ya hanya 2 kali gowes itu dan terutama gowes terakhir itu yang menentukan keyakina saya apakah akan mencoba untuk gowes ke Yogyakarta ini atau tidak. Dan niat saya belum berubah. Perjalanan akan dilakukan.

    13 Agustus 2012

    Rencananya perjalanan akan dimulai sekitar pukul 3 sore, sehingga waktunya akan pas ketika waktu istirahat dengan berbuka puasa. Akan tetapi ternyata sejumlah kendala terjadi sehingga saya harus memeriksakan sepeda terlebih dahulu. Headtube ditemukan terasa seret.

    Akhirnya keberangkatan baru dilakukan pada sekitar pukul 20.30, dilepas oleh si ganteng Khay dan Istri di pagar rumah, beserta doa dari teman-teman Robek, terutama para Anuer yang menyampaikan langsung pada saya. Thank you brok.

    Perjalanan dimulai dengan santai saja, terutama karena harus mulai memanaskan kaki yang sudah lama tidak digunakan untuk menggowes. Perlahan tapi pasti kaki mulai terbiasa untuk bergerak, melaju dengan kecepatan sekitar 20kpj menyusuri jalanan menuju Cirebon sebagai target pertama.

    Akan tetapi dalam perjalanan ini ternyata didapat masalah dimana perut mendadak terasa mual setelah beristirahat mengopi. Bahkan ketika sedang sahur di jalur pantura rasanya lambung menolak diisi makanan.

    Akhirnya di jalur pantura setelah sahur diputuskan untuk mencari tempat untuk beristirahat.

    14 Agustus 2012

    Pukul 1 siang, perut sudah terasa enak. Badan cukup segar setelah tidur.

    Melaju perlahan melintasi pantura yang luar biasa panas, tapi kalau angin berhembus rasanya sangat nyaman. Perjalanan berlangsung tanpa kendala selain mendadak rantai terasa seret. Sehingga diputuskan untuk berhenti dan meminyaki rantai.

    Saat inilah saya bertemu dengan om Hadi yang setiap gowes mudik selalu mengalami perjumpaan di jalan jalur pantura ini. Om Hadi ini gowes dari Jakarta ke Bumi Ayu, Setelah ngobrol sana sini sejenak, om Hadi pun lalu melanjutkan perjalanan sementara saya memastikan semuanya dalam keadaan baik.

    Perjalanan dilanjutkan hingga ketika waktu buka saya memasuki perbatasan Indramayu dan ketika beristirahat disini saya bertemu dengan om Poetoet dan om Jack yang juga gowes mudik.

    Disini terjadi masalah dimana gowesan terasa berat. Kemungkinan masalah terjadi pada bb.

    Semula berencana melakukan evakuasi untuk mendapat bantuan. Tapi karwna sulit mendapatkan kendaraan akhirnya diputuskan untuk maju terus.


    15 Agustus 2012
    Memasuki cirebon baru sadar entah kapan seret di gowesan menghilang. Akhirnya memutuskan maju terus hingga purwokerto.

    Setelah perjuangan panjang melintasi bumiayu dengan tanjakan yang lumayan menguras tenaga dan isi perut, akhirnya sekitar pukul 10 pagi tiba di kota purwokerto. Disini diputuskan. Untuk menginap di hotel.

    Mungkin karena kelelahan, malah sulit tidur dan akhirnya memutuskan untuk gowes mencari makan siang.

    Di sini saya menyempatkan mampir ke ketua B2W Purwokerto di kantornya yang kebetulan tak jauh dari tempat saya menginap. Dilanjut malamnya nongkrong bareng momod Raka alias Tenji dan bini serta Khay yang tiba sorenya di Purwokerto.

    16 Agustus 2012

    Pagi ini perjalanan dilanjutkan menuju Yogyakarta.

    Perjalanan yang tidak mulus karena di jalur selatan ini aspalnya bergelombang penuh jerawat. Melewatinya membutuhkan ekstra ketahanan pantat menahan benturan dengan sadel.

    Di jalur ini pula saya menjadi saksi 3 kali tabrakan. Alhamdulillah ada sedikit bekal p3k standar dan sedikit pengetahuan tentang pengobatan dan p3k. Di 2 kejadian tabrakan ini saya berhenti cukup lama untuk memberikan bantuan. Sedangkan tabrakan ke 3 yang disebabkan pengemudi yang mengantuk tidak ada korban selain mobilnya penyok.

    Pukul 6 sore

    Disini sejujurnya saya sudah kehabisan stamina. Jalanan yang tidak rata di jalur sebelumnya cukup banyak menguras tenaga. Di tambah sejak dari purworejo tidak ada warung yang buka dan baru bertemu warung persis sebelum perbatasan keluar dari purworejo. Padahal persediaan air sudah menipis sejak diwarung terakhir pas buka puasa.memasuki perbatasan Kutoarjo. Pantat udah sakit minta ampun. Tapi selepas Kutoarjo jalan menjadi sangat mulus dan nyaman dilewati, kecuali di titik perbaikan jalan yang penuh debu dan pasir. Ban marathon racer yang saya pakai terbukti mampu membuat saya terjungkal karena terpeleset di pasir.

    70 Km yang tersisa untuk mencapai tugu Yogyakarta ditempuh dengan terengah-engah dan sangat banyak istirahat.

    Bahkan saya ingat berhenti istirahat di jarak sekitar 20km lagi dengan frustasi.
    Disini seorang bapak2x abdi kraton melintas dari arah berlawanan menggunakan motor kemudian berhenti dan menghampiri saya. Pembicaraan singkat kami memberikan sedikit semangat tambahan.

    Akhirnya pada 17 Agustus 2012 pukul 2.15 tepat saya tiba di tugu Yogyakarta setelah menempuh perjalana sejauh 519.35 Km, dari Bekasi ke Yogyakarta.

    Tugu Yogyakarta

    Mengucap syukur atas keberhasilan perjalanan kali ini dan mengibarkan Jersey Robek (soalnya ngak ada bendera robek), dilanjut mengadakan perayaan kecil berupa ngopi di kopi joss dan nyuhe bersama Arief Baskoro dan mas Cipto seorang pendekar Perpi Harimukti yang menghampiri, menemui saya stasiun tugu di tempat ngopi tersebut.

    Satu lagi petualangan diselesaikan. Semoga makin banyak kisah untuk suatu hari dikisahkan buat Khay.

    Ambil hikmahnya, tapi jangan tiru cara saya mempersiapkan diri.

     

     

     

    Bermodal B2W saya bisa. Kalau saya bisa, kamu juga bisa dong.

     

  • Night Ride 4 Agustus 2012

    Setelah mengistirahatkan kaki cukup lama akibat cedera semalam kaki ini kembali mencoba bersepeda, dan langsung melakukan nr yang cukup menantang dan menguras energi.

    Seperti tradisi NR sebelumnya, NR di bulan puasa ini sekaligus menguji apakah benar para setan di belenggu. Oleh karenanya pasti deh ada jalur2x yang melintasi kuburan-kuburan.

    Sebetulnya perjalanannya cukup menyenangkan seandainya tidak ada kasus putus rantai sampai 2 kali yang menyebabkan rantai harus di potong pula 2 kali jadi pendek. Alhasil di mulai pertengahan perjalanan, terpaksa harus ngicik abis-abisan buat ngejar orang-orang yang melaju cukup cepat di jalan yang berupa tanah yang kering dan getas, sehingga mudah sekali terpeleset. Setengah perjalanan yang hanya bisa menggunakan posisi ngicik emang menguras tenaga terutama karena dikejar target harus mengejar rombongan.

    Tapi kalau anda terlepas dari rombongan ketika NR, ikuti suara guguk. hehehehehehe

    Akhirnya ketika keluar dari jalur off road, memasuki jalur on road menuju rawon brewok, tempat kita akan ber saur bersama, nekat memindahkan gear ke posisi tengah dengan asumsi, apabila terjadi lagi kerusakan, akan cukup mudah mendapatkan bantuan.

    Di bantu sir Madro, yang mendorong agar bisa mendapatkan speed lebih tinggi demi mengejar saur, akhirnya sekitar 15 menit sebelum waktu imsak, kami (yang ketinggalan), bisa sampai di Rawon Brewok dan menikmati rawon yang muantap puooollll.

    Selama perjalanan, 2 kali di serbu guguk. Belum lagi yang serem pas ngak bisa pindah gear gara2x kondisi rante udah pendek, kalo sampe di serbu guguk ngak bisa kabur deh. hiiiiiiiiiii. Untung ngak sampe di terkam.

    Kembali terbukti, bahwa walau para setan di ikat ketika bulan puasa, tapi para guguk di lepas.

     

    20120804 – rawon brewok – sandiego

     

  • Karena Saya Ada Disitu

    Pada saat memasuki tempat parkir yang dikelola oleh sebuah institusi resmi, kita akan mendapatkan sebuah karcis parkir dengan sejumlah peraturan didalamnya. Selain itu kita juga akan menemukan aturan-aturan, seperti keharusan membayar setiap jamnya sekian, sejam berikutnya sekian dan seterusnya. Kian hari  harga perjam untuk parkir semakin mahal. Sementara fasilitas yang diberikan seringkali hanya sekedar parkir tanpa jaminan apapun atas nasib kendaraan kita yang tengah diparkir disitu.

    Pada saat kita akan memarkirkan kendaraan kita, terkadang kita akan berjumpa kembali dengan petugas parkir yang akan membantu kita untuk memarkirkan kendaraan kita.

    Setelah memarkirkan kendaraan, terkadang kita sudah ditunggui didepan pintu oleh petugas tersebut yang tujuannya tak lain dan tak bukan adalah “beri saya uang”.

    Seakan tak cukup dengan bayaran parkir perjam yang kian meningkat, pada saat kita akan keluar dari area parkir tersebut, kembali sang petugas parkir menghampiri dan berseru, “terus terus terus”, sekalipun area sedang kosong sama sekali. Selanjutnya bisa ditebak, kembali penantian agar kita memberi uang menghampiri dari kaca jendela. Dan bila kita menolak memberi, bersiaplah untuk menerima, pelototan, tatapan sinis, dan kadang makian.

    Tak hanya itu. Tukang-tukang parkir tak resmi pun berkeliaran dimana-mana dan menentukan tarif seenak jidat mereka. Disatu sisi kadang saya sendiri tak heran. Dulu saya pernah berdiskusi dengan salah satu dari mereka. Dan ternyata mereka di wajibkan untuk memberikan setoran ke pihak pemda (saya lupa departemen mana yang mengurus soal parkiran). Waktu itu (tahun 2004) kewajiban setor tukang parkir tak resmi ini kalau tidak salah adalah Rp 35.000/hari. Bayangkan bila mereka gagal mengumpulkan nilai tersebut. Mereka harus mengeruk saku pribadi untuk menutupinya. Dan bila mereka tak sanggup lagi memberi uang, maka lahan tersebut akan diberikan pada kelompok lain. Rp. 35.000 perhari di tambahkan dengan jumlah parkiran di jakarta dapet berapa yaa ?

    Hal seperti ini pun terjadi pada para polisi “preman perempatan” alias polisi cepek.

    Terasa seakan ini adalah bentuk lain dari premanisme yang di resmikan baik secara langsung ataupun tak langsung.

    Terpikir kadang kita sama sekali tidak membutuhkan kehadiran mereka. Tapi seperti sudah menjadi keharusan bagi mereka untuk mengharuskan kita memberi uang. Sementara biasanya kita memberikan uang untuk jasa yang kita minta atau butuhkan atau mungkin diberikan karena memang diperlukan.

    Tapi yang terjadi saat ini, “anda harus membayar, karena saya ada disini“

  • Karcis Tol

    Apakah ada yang melihat keanehan dengan karcis tol ini ? ada ada ada ?

    karcis tos

    ngak ada ?

    baik… memang tidak ada yang aneh, kecuali bahwa perjalanan saya dimulai dari pondok gede timur dan baru memasuki halim

  • Peraturan Tempat Bermain Anak di Mall

    Peraturan Tempat Bermain Anak

    Pernah ada yang memperhatikan kalau peraturan tempat bermain di dalam mall itu sering kali berisi pelepasan tanggung jawab atas apapun yang terjadi pada diri anak-anak yang sedang bermain ? Bahkan tetap harus bertanggung jawab atas “kerusakan tambahan” yang mungkin terjadi ?

  • Contoh Pengendara ………….

    Contoh Seorang Pengendara Motor

    Perhatikan pakaian dan apa yang tertulis di sekujur atribut ke-2-nya.
    Mungkin kebanyakan pengendara motor meniru hal ini karena hormatnya pada para aparat